Senin, 15 Desember 2008

Asuransi Unit Link vs. Reksadana

10 June 2007
Posted under: Finance at 02:17


Sejak beberapa tahun yang lalu, di Indonesia mulai marak dipasarkan produk-produk asuransi unit link. Unit link adalah produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus. Dengan menjadi nasabah produk unit link, seseorang bisa mendapatkan manfaat ganda yaitu perlindungan asuransi dan investasi. Produk asuransi yang ditawarkan bisa berbentuk asuransi kesehatan atau asuransi jiwa, tetapi biasanya dipasarkan dalam kemasan yang lebih menarik bagi masyarakat: misalnya tabungan masa depan atau asuransi pendidikan.

Seperti halnya asuransi biasa, nasabah asuransi unit link membayar premi setiap jangka waktu tertentu, biasanya bulanan. Perbedaannya, nasabah unit link membayar premi dalam dua porsi: porsi premi perlindungan dan porsi investasi. Premi perlindungan berfungsi sama dengan premi pada asuransi biasa. Sedangkan porsi investasi akan disetorkan oleh perusahaan asuransi kepada manajer investasi untuk dikelola. Pada produk-produk tertentu, jika nantinya return dari investasi bisa menutupi biaya premi, maka nasabah memiliki pilihan untuk tidak membayar premi.

Sebagian besar perusahaan-perusahaan jasa manajer investasi ini biasanya memiliki produk reksadana retail yang ditawarkan ke masyarakat. Ini yang membuat saya berpikir keuntungan dan kerugian mengikuti layanan asuransi dan reksadana secara terpisah, ketimbang mengikuti layanan unit link yang menggabungkan kedua jenis layanan tersebut.

Menjadi nasabah investasi unit link dan reksadana sebenarnya tidak jauh berbeda. Dalam keduanya, nasabah diminta untuk memilih kemana dana yang disetorkan akan diinvestasikan. Pilihan yang disediakan adalah ekuitas, fixed income, pasar uang atau kombinasi di antaranya. Keduanya sama-sama memiliki resiko yang kurang lebih sama, tergantung dari jenis investasi yang dipilih. Tetapi tentunya bukannya tidak ada perbedaan sama sekali.

Besar Biaya Akuisisi

Biasanya, asuransi unit link dipasarkan secara sangat agresif, tidak jarang menggunakan sistem pemasaran langsung. Di sisi lain, manager investasi minim melakukan pemasaran. Pemasaran yang agresif bisa menjaring lebih banyak nasabah, tetapi biaya akuisisi akan semakin tinggi dan biaya ini tetap akan dibebankan kepada nasabah.

Sebagai contoh, salah satu produk asuransi link unit membebankan biaya akuisisi kepada nasabah sebesar 41% dari setoran porsi premi asuransi untuk lima tahun pertama. Biaya ini kemudian akan ditalangi dengan tidak memberikan sebagian manfaat asuransi pada tahun pertama dan sisanya kemudian dibebankan pada setoran porsi investasi.

Transparansi

Reksadana biasanya jauh lebih transparan daripada produk investasi yang ada dalam unit link. Biasanya, nasabah reksadana dapat dengan mudah mengetahui informasi-informasi seperti sejarah perkembangan investasi, resiko, alokasi aset, biaya jasa pengelolaan dan sebagainya. Sedangkan dalam unit link, seringkali sulit untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan manajer investasi beserta biaya dan kinerjanya. Kebanyakan agen asuransi biasanya lebih banyak berkutat pada ilustrasi yang abstrak tanpa dengan jelas memberi tahu parameter-parameter pembentuk ilustrasi tersebut. Terlebih lagi, calon nasabah yang awam tidak memiliki pembanding yang cukup untuk menilai kualitas yang diberikan oleh ilustrasi tersebut.

Pada produk unit link ada lebih banyak variabel yang berperan. Hal ini menjadikan ilustrasi yang diberikan oleh penyedia layanan asuransi menjadi sangat rumit, terutama bagi calon nasabah yang belum mengenal asuransi dan/atau reksadana. Jika calon nasabah tidak cukup jeli dalam menganalisis ilustrasi yang diberikan, bukan tidak mungkin akan ada biaya-biaya siluman yang tidak disadari oleh calon nasabah. Tidak jarang, biaya-biaya ini baru diketahui nasabah pertama kali dari polis yang didapatkan, atau bahkan ketika biaya tersebut dibebankan kepada nasabah.

Pada unit link, akan menjadi sangat sulit bagi calon nasabah untuk membandingkan satu layanan asuransi unit link dengan layanan unit link lainnya karena sistem yang digunakan bisa jadi jauh berbeda. Membandingkan dua atau lebih layanan asuransi biasa sudah cukup rumit tanpa harus dicekcoki dengan berbagai macam urusan investasi yang nyatanya tidak benar-benar terpisah dengan asuransi.

Dengan memisahkan asuransi dan reksadana, perhitungan yang perlu dilakukan oleh nasabah akan menjadi jauh lebih transparan dan sederhana.

Perhitungan Inflasi pada Jumlah Pertanggungan

Beberapa produk unit link memberi fitur utama yaitu janji putus pembayaran premi setelah tahun tertentu, yang tergantung pada perkembangan investasi. Yang jarang diperhatikan oleh nasabah adalah faktor inflasi yang akan memaksa nasabah untuk menambah jumlah premi yang harus dibayarkan di masa yang akan datang. Tentunya hal ini berlaku pula pada asuransi biasa, akan tetapi pada asuransi biasa, calon nasabah tidak pernah dijanjikan putus pembayaran premi.

Contoh: Seseorang mengikuti asuransi PRIlink dengan porsi premi asuransi kesehatan sebesar Rp 50000 per bulan dengan jumlah pertanggungan untuk perawatan di rumah sakit sebesar Rp 500000/hari. Setelah 10 tahun, diprediksi return investasi dapat menutupi pembayaran premi tersebut. Tetapi hal ini belum memperhitungkan inflasi yang akan terjadi sampai 10 tahun ke depan. Inflasi akan menyebabkan biaya perawatan di rumah sakit menjadi semakin tinggi. Untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit yang setara dengan Rp 500000/hari saat ini, 10 tahun kemudian kita harus membayar lebih besar daripada jumlah tersebut. Akibatnya premi akan semakin besar dan putus pembayaran premi menjadi tertunda atau bahkan tidak akan pernah terjadi.

Sebagai catatan, dengan asumsi inflasi tahunan sebesar 7,5% per tahun dan biaya perawatan sebanding dengan laju inflasi, maka untuk mendapatkan kualitas perawatan seharga Rp 500 ribu/hari pada hari ini, dalam 10 tahun kita harus membayar biaya perawatan sebesar kurang lebih Rp 1 juta/hari. Dengan memperhatikan inflasi, rencana putus pembayaran premi pasti akan mundur atau bahkan tidak akan terjadi, tergantung porsi investasi yang ditetapkan dan realisasi perkembangan investasi.

Selain itu, putus pembayaran premi bukanlah fitur spesifik unit link. Nasabah asuransi dan reksadana secara terpisah juga dapat menikmati fasilitas ini karena pembayaran premi asuransi bisa saja nantinya dibebankan pada return investasi di masa yang akan datang. Perbedaannya, pada nasabah asuransi dan reksadana terpisah, dana tersebut harus melewati kantong nasabah yang bersangkutan. Sedangkan pada unit link semuanya telah diurus oleh pihak penyedia layanan asuransi.

Panjang Jalur Administrasi

Pada investasi unit link, instruksi nasabah perlu melewati beberapa pihak: dari agen asuransi (jika ada), ke perusahaan asuransi, dan baru kemudian mencapai manager investasi untuk diproses. Semakin panjang rantai instruksi ini tentunya semakin lama instruksi tersebut dapat diproses. Panjang administrasi ini dapat diputus dengan mengalokasikan dana investasi langsung ke produk reksadana yang dikeluarkan oleh manajer investasi, tanpa melewati perusahaan asuransi.

Selain itu, semakin panjang jalur administrasi tentunya juga semakin banyak biaya administrasi yang perlu dikeluarkan oleh seorang nasabah. Dengan menempuh jalan pintas dengan cara melakukan investasi pada reksadana secara langsung, nasabah dapat mempercepat instruksi dan sekaligus menghemat biaya-biaya administrasi.

Walaupun reksadana adalah instrumen investasi jangka panjang, kecepatan pemrosesan instruksi adalah faktor yang cukup kritis. Pada kebanyakan (semua?) produk reksadana, instruksi nasabah dilakukan atas harga yang berlaku pada penutupan hari tersebut. Sedangkan dari informasi beberapa agen produk unit link, saya tidak sepenuhnya yakin bahwa instruksi nasabah dilakukan berdasarkan harga yang berlaku pada penutupan hari tersebut. Bisa saja instruksi yang dilakukan pada hari H baru akan dilakukan pada H+2, pada saat harga unit link sudah berbeda.

Keterikatan dan Fleksibilitas

Yang paling penting bagi yang serius untuk menjalankan investasi adalah faktor keterikatan. Dengan memisahkan layanan asuransi dan reksadana, kita bisa membagi proporsi di antara keduanya sesuai dengan situasi dan kondisi kita pada saat itu, tanpa harus terikat dengan proporsi dan jumlah yang telah ditetapkan dalam polis asuransi. Jika sedang membutuhkan uang, kita bisa tetap membayar premi asuransi, tetapi bisa bebas berhenti menyetorkan dana investasi tanpa harus takut kehilangan manfaat asuransi. Sebaliknya, jika sedang memiliki dana berlebih, kita bisa menyetorkan kelebihan dana tersebut ke reksadana tanpa harus terkena penalti atau biaya tambahan.

Selain itu, kita juga bisa dengan bebas memindahkan dana dari satu manajer investasi ke manajer investasi lainnya sesuai keperluan; atau bahkan memindahkan dana dari reksadana ke instrumen investasi non reksadana tanpa harus terkena penalti sisa dana minimum. Semua ini akan bisa dilakukan tanpa keterikatan dengan penyedia layanan asuransi.

***

Dengan demikian saya tidak dapat melihat adanya nilai tambah yang diberikan unit link dibandingkan dengan mengikuti asuransi dan reksadana secara terpisah. Kelebihan unit link hanya ada bagi orang-orang yang belum mengetahui keberadaan reksadana sebagai instrumen investasi. Kelebihan unit link lainnya adalah kepraktisan bagi yang tidak ingin berhubungan dengan pihak yang berbeda untuk mengurusi investasi dan asuransi. Mengingat mendaftar reksadana tidak lebih sulit daripada mendaftar akun tabungan bank, saya tidak yakin manfaat kepraktisan yang didapatkan akan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Pada beberapa tahun yang lalu, saat jumlah minimum setoran pada produk reksadana mencapai puluhan juta rupiah (yang saya tahu), mungkin unit link bisa bermanfaat bagi yang ingin melakukan investasi kecil secara periodik (menyisihkan sebagian gaji bulanan untuk keperluan investasi). Tetapi pada kondisi saat ini dimana jumlah setoran minimum reksadana bisa mencapai sekurang-kurangnya Rp 100 ribu, bagi saya unit link praktis tidak lagi begitu menarik.

344 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

*1

Mas Priyadi, ini benar2 pembahasan yg bagus dan lengkap. Mengenai isu inflasi, saya rasa nasabah bisa memilih asuransi yg memperhitungkan inflasi walaupun penarikan dananya nanti jadi lebih kecil.

Biasanya nasabah merasakan nikmatnya kalau sudah jatuh tempo dan sempat menerima klaim selama itu. Yg paling menguntungkan ya klaimnya itu. Dr Rp50 ribu, misalnya Rp20 ribu utk premi, Rp30 ribu utk investasi. Berapa sih nilainya Rp30 ribu utk 10 thn investasi dibanding Rp20 ribu untuk, mis Rp100 juta biaya RS?

Perlu dibuatkan rating unit link agar nasabah tahu mana yg terbaik.
Gravatar
o Comment by anymatters
o Posted from Lower Hutt New Zealand New Zealand
o Using Netscape Netscape 8.1.3 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 06:52

*2

#3
sepakat 8-| , hal seperti ini kadang sangat membingungkan nasabah dalam memilih,
terkadng juga nasabah enggan mengambil karena beranggapan sulitnya administrasi saat melakukan klaim…

btw ke empat akhirnya 5 besar
Gravatar
o Comment by arwan
o Posted from Yogyakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 5.5 on Windows Windows ME
o 10 June 2007 at 07:41

*3

Ini merupakan alternatif investasi seperti deposito, dll dan resiko sakit/meninggal jadi digunakan sebagai tabungan, selama masih ada sisa dana untuk ditabung
Gravatar
o Comment by Sanjoyo
o Posted from Oslo Norway Norway
o Using Opera Mini Opera Mini 8.01
o 10 June 2007 at 07:42


*4

Daripada Asuransi, dsb.. bukannya lebih enak kalo nabung sendiri? daripada bayar premi, kan masuk ke pihak asuransi, iya kalo terjadi “sesuatu”, kalo gak kan berarti duit kita hilang. Nah kalo ditabung kan pasti terjadi atau tidak terjadi tetap milik kita :)>-
Gravatar
o Comment by Agam
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 07:53

*5

IMHO, cukup ditabung saja, tentunya di bank syariah :d
Gravatar
o Comment by Bondhan Novandy
o Posted from Korea, Republic of Korea, Republic of
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 08:15

*6

dari sedikit pengalaman saya, saya juga lebih suka memisahkan asuransi dan reksadana. karena pada dasarnya asuransi itu simpenan jangka panjang, dg ikatan kontrak yg serius. sedangkan reksadana justru jangka pendek, bahkan spekulan bisa melakukan transaksi beberapa kali dlm tempo sebulan. saya nggak ngerti pertimbangan apa yg dijadikan dasar pembuatan unit link itu. karena 2 instrumen investasi itu sebenernya di 2 jalur berbeda.
Gravatar
o Comment by fahmi!
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 09:16

*7

#1

Mengenai isu inflasi, saya rasa nasabah bisa memilih asuransi yg memperhitungkan inflasi walaupun penarikan dananya nanti jadi lebih kecil.

asuransi apa saja yang memperhitungkan inflasi? terutama link unit.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 10:01
*
8

pak pri,mau jadi salesnya asuransi ya???
Gravatar
o Comment by Oddie
o Posted from Madiun Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 10:21
*
9

Semua asuransi jiwa biasanya ada pilihan untuk diindex ke tingkat inflasi (indexed to inflation rate/CPI) di quotation software-nya. Tanggungannya meningkat berdasarkan inflasi tapi preminya juga meningkat. Saya rasa di Indonesia juga menggunakan software yg dikemas sesuai situasi di Indonesia, mungkin bisa ditanya sama agen asuransinya. Kalau perlu minta di-quote di depan komputer. Juga ada pilihan standard untuk premi yg rata dan meningkat berdasarkan umur. Coba AXA atau Cigna deh. Cheers.
Gravatar
o Comment by anymatters
o Posted from Lower Hutt New Zealand New Zealand
o Using Netscape Netscape 8.1.3 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 11:18
*
10

beda insurance sama assurance apa kk?
Gravatar
o Comment by basibanget
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 13:22
*
11

Wah Pri, lengkap juga analisisnya. Aku sekarang jadi mikir lagi, kemarin udah terlanjur ikut asuransi “yang itu tuh” #-o . Emang promosinya gencar banget akhir-akhir ini, perlu tulisan kaya tulisanmu untuk memberi opini yang seimbang.

Jadi intinya, asuransi PR**** itu nggak lebih baik dibanding reksadana + asuransi konvensional? ~X(
Gravatar
o Comment by Chen Hendrawan
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Mac OS Mac OS X
o 10 June 2007 at 14:04
*
12

pak priyadi,
saya mau nyimpen duit nih. udah kebanyakan… huehehehehe…
Gravatar
o Comment by didats
o Posted from Hawalli Kuwait Kuwait
o Using Camino Camino 1.5 on Mac OS Mac OS X
o 10 June 2007 at 14:44
*
13

kalo sy gajinya umr. gak mikir asuransi, reksadana apalagi saham.:((
Gravatar
o Comment by iklanbiru
o Posted from Makassar Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 15:17
*
14

Unit link returnnya baru bebas pajak (20%) setelah tahun ketiga. Reksadana bisa bebas pajak dan fee setelah satu tahun. Jadi untuk menikmati return yang bebas pajak dan fee, reksadana bisa lebih cepat. Reksadana pasar uang bahkan bisa keluar masuk tiap hari tanpa masalah dan biaya.

Unit link membebankan biaya bulanan yang diambil dari unit yang kita miliki. Semakin lama, jumlah unit yang kita miliki makin menurun meskipun nilai aktiva bersih bisa naik bisa turun. Reksadana tidak ada.

Kalau tujuannya investasi, pilih reksadana. Kalau tujuannya investasi dan asuransi is only nice to have, unit link mungkin cocok. Kalo asuransi bener-bener perlu, pilih aja asuransi langsung.
Gravatar
o Comment by barkah
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 10 June 2007 at 16:28
*
15

@barkah
gw setuju banget ama lo,
ngga sejelek itu unit link.. coba cari unit link2 yang lain
Gravatar
o Comment by Superbiji
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0 on SuSE Linux SuSE Linux
o 10 June 2007 at 22:33
*
16

#14

o:-) paling tidak asuransi yang dapat menjamin anak istri apabila suami terjadi apa2, maka ahli waris masih terjamin biaya hidupnya….

hmm… kalo perhitungan reksadana bebas pajak & fee setelah satu tahun,boleh juga tuh invest disitu…
Gravatar
o Comment by arwan
o Posted from Yogyakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 5.5 on Windows Windows ME
o 11 June 2007 at 02:01
*
17

Wah, boro-boro ikut asuransi, buat makan saja masih ngutang warung.. :((
Gravatar
o Comment by Kurniawan
o Posted from Kudus Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 04:54
*
18

moga2 tidak terjadi ’sesuatu’ pada diri ini.
maunya sih ikut ini itu buat jaga-jaga…

asuransi sudah… investasi..?! :-?
Gravatar
o Comment by dwee
o Posted from Tangerang Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 08:39
*
19

Tulisan lain soal reksadana:
http://nofieiman.com/2007/04/investasi-di-reksadana/
Gravatar
o Comment by Nofie Iman
o Posted from Cedar Knolls United States United States
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.7 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 08:51
*
20

Jangan pernah campur LIFE INSURANCE dengan INVESTMENT.

LIFE INSURANCE ya untuk perlindungan diri dan INVESTMENT adalah untuk memperkaya diri.

Hati-hati dengan perusahaan asuransi yang menawarkan paket keduanya dalam satu produk. saya pakai paket prudential di Singapore dan pada saat saya minta info mengenai kinerja investasi uang saya dalam 2 tahun terakhir mereka tidak bisa menjawab dengan akurat.
Gravatar
o Comment by Masindi
o Posted from Jurong Singapore Singapore
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 09:52
*
21

Makasih buat insight-nya. Menurut mas Priyadi, kita sebaiknya kita memisahkan antara asuransi dengan investasi. Tapi menurut saya life insurance itu penting banget, dan kalau kita beli life insurance doang, bukannya kita kayak “buang” uang untuk insurance itu? Bukannya mending get something rather than nothing? :-?
Gravatar
o Comment by Martha
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 10:44
*
22

Dari awal, saya memang ga suka sama asuransi macam gini.

btw, pak numpang kritik iklan:
Iklan tv three yang tidak mendidik
Gravatar
o Comment by tukang ketik
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 10:50
*
23

Tapi menurut saya life insurance itu penting banget, dan kalau kita beli life insurance doang, bukannya kita kayak “buang” uang untuk insurance itu? Bukannya mending get something rather than nothing?

ini mungkin miskonsepsi paling meluas soal unit link. sebenarnya mau asuransi konvensional atau unit link, nasabah tetap ‘buang uang’. dalam unit link ada porsi premi asuransi dan porsi investasi. porsi premi asuransi itu bagian yang ‘buang uang’.

jadi unit link itu sama dengan asuransi konvensional + investasi reksadana. bedanya, overhead di unit link lebih tinggi daripada kalau dipisahkan.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 11:12
*
24

Asuransi ?
Enaknya ketika diajak menjadi anggota,
berbagai janji manis dipaparkan dengan indahnya.
ketika mau mengklaimkan… sulitnya bukan main.
tidak semua sih,
Gravatar
o Comment by wadiyo
o Posted from Panda�n Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows 98
o 11 June 2007 at 12:42
*
25

:) Wah, thanks for the reply.
Hmmm… iya sih, setelah dipikir-pikir, bener juga yah. Tetep aja dalam unit link kita mesti “beli” asuransi.
Thanks again for sharing.
Gravatar
o Comment by Martha
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 13:58
*
26

wele2… bagus dan lengkap pembahasannya, jadi bertambah ilmu kita.:d
Gravatar
o Comment by Frans
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 14:55
*
27

tapi sampe saat ini masyarakat kita belum begitu butuh dengan yang namanya asuransi
Gravatar
o Comment by aribowo
o Posted from Palembang Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 15:53
*
28

jadi tambah mengerti masalah yg spt ini. Great!!!
Gravatar
o Comment by rd Limosin
o Posted from Pontianak Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.2 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 15:54
*
29

Apapun jenis investasinya, mau Unitlink kek, Reksadana kek, atau sejenis Qisar kek, Anda harus senantiasa memantaunya, karena yang namanya risiko investasi senantiasa mengintai setiap saat.

untuk # 27, pada umumnnya suatu produk tercipta karena ada kebutuhan, tetapi tidak jarang suatu produk justru menimbulkan kebutuhan.
Gravatar
o Comment by Harrie
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 16:27
*
30

Saya cuma mo kasi pendapat, kalau kita mau membandingkan sesuatu, kita haruslah objective..( Apple to Apple ), jangan membandingkan apple dengan durian. dari tampilan saja sudah beda. Masalah buang uang untuk bayar premi itu relatif, semuanya kembali ke masing2x, apakah kita mau merencanakan sesuatu yang terbaik untuk keluarga.. Cherrzzzz……
Gravatar
o Comment by Tarwin
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows 2000
o 11 June 2007 at 16:30
*
31

Haduh pusing dah liat asuransi dan reksadana. Pengalaman ikut asuransi kesehatan gampang bayar susah klaimnya. Akhirnya nabung aja deh dan jaga kesehatan supaya gak kena sakit parah. Reksadana lagi dah dari taun kapan denger, baca bukunya, liat talkshownya tapi kok gak ada yang seperti di omongin yang mulai dari Rp 250.000,- per unit terus juga gak pernah deh ditawarin sama pihak bank mungkin tabungannya harus 1 milyar dulu baru di approach ya?
Gravatar
o Comment by st3v4nt
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 17:15
*
32

Untuk #10
kira2 penjelasan gampangnya, assurance adalah tindakan SEBELUM sesuatu terjadi. Sedangkan insurance adalah tindakan SETELAH sesuatu terjadi.
Gravatar
o Comment by Amir Karimuddin
o Posted from Racine United States United States
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 11 June 2007 at 17:57
*
33

Reksadana ada yang 100rb? Ada tautan yg bs ditelusuri? :-w
Gravatar
o Comment by abe
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using SymbianOS SymbianOS 9.1
o 11 June 2007 at 23:10
*
34

mmmm…. :-w
Gravatar
o Comment by nelly
o Posted from Denpasar Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Kubuntu Linux Kubuntu Linux
o 12 June 2007 at 06:49
*
35

#31 di Trimegah bisa kok mulai 250 ribu. datang aja ke kantornya langsung. kalo lewat agen kadang2 emang agennya yg ngeset investasi minimum lumayan gede, mungkin krn komisi atau ga mo repot.
Gravatar
o Comment by yanti
o Posted from Depok Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Linux Linux
o 12 June 2007 at 07:46
*
36

#33:

manulife saham/obligasi terima Rp 100000 untuk buka/tambah dengan datang langsung ke kantornya, dana ditransfer lewat BCA.

schroders terima Rp 200000 untuk buka dan Rp 100000 untuk tambah lewat bank commonwealth.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 09:21
*
37

mumed… ndak mengerti he he
Gravatar
o Comment by adit
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Unknown browser
o 12 June 2007 at 14:51
*
38

Iya, saya juga sering di tawarin hal-hal semacam itu. Baik oleh kawan yang sudah menjadi agent maupun jika berjalan di mall-mall.

Tapi saya tolak dengan halus. Maklum penghasil belum bisa terkover sampai kesitu untuk saat ini. Beli minyak goreng aja makin susah gimana menyisihkan duit buat Asuransi.

Btw: numpang test browser ya… :D
Gravatar
o Comment by Athailah
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Safari Safari 522.11.3 on Mac OS Mac OS X
o 12 June 2007 at 14:56
*
39

mas pri emang top klo ngulas…tak sinaonane yo :D
Gravatar
o Comment by Arif Nofiyanto
o Posted from Bali Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 14:58
*
40

iyah.. sampe sekarang saya tetep bingung buat pilih2 asuransi :|
Gravatar
o Comment by idon
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Safari Safari 522.11.3 on Mac OS Mac OS X
o 12 June 2007 at 15:20
*
41

Jadi commonwelth bisa buka dengan 200ribu?
masa sih?

thanks.

btw kok sama dengan bahasan gw tentang investasi
Gravatar
o Comment by andriansah
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 15:54
*
42

halah maksudnya sama2 bahas tentang investasi :)
Gravatar
o Comment by andriansah
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 15:55
*
43

Mas Pri, salam kenal. Mau ikutan.
Unit Link adalah gabungan dari asuransi kematian plus pelayanan jemput bola (via Agen/tenaga pemasaran) + pelayanan selama masa perjanjian + “reksadana” artinya Dalam Produk Unit Link :
1. Ada manfaat buat ahli waris kalau Pemilik unit link meninggal, sebaliknya hal ini tidak ada di produk reksadana
2. Ada agen yang datang/menawarkan secara aktif kepada calon peserta, (ada biaya pelayanan/akuisisi yang mas pri sebutkan diatas 41% - tiap perusahaan biasanya berbeda2 dalam menetapka biaya akuisisi ini), sementara kalau di reksadana murni, biaya yang dibebankan biasanya biaya pengelolaan dana (kecil dibanding dengan biaya pelayanan asuransi)
atau dengan kata lain, nasabah unit link biasanya didatangi agen, sedangkan nasabah reksadana datang ke perusahaan (kecuali kalau belinya dalam jumlah besar)
3. Kontrak unit link biasanya jangka Panjang diatas 10 tahun, sehingga ada kedisiplinan untuk terus membayar premi (setiap jatuh tempo pembayaran, perusahaan asuransi mengingatkan hal tersebut)

Agen/tenaga pemasaran biasanya membandingkan produk unit link dengan produk asuransi tradisional (contoh :dwiguna), karena sama2 produk asuransi. (apple to apple, bukan dengan produk bank atau pasar modal, sebab bank, asuransi, leasing dan pasar modal mempunyai karakteristik dan pelayanan yang berbeda, tinggal kita sebagai nasabah pandai2 membagi uang/dana kita dalam sektor keuangan diatas. Bagi Muslim/ah sudah tersedia Lembaga Keuangan Syariah.
Gravatar
o Comment by Ahar
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 16:03
*
44

gak ada yang ‘gak berguna’ untuk saya yang butuh kanal2 baru untuk money laundring uang saya ;)
Gravatar
o Comment by leo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 16:05
*
45

#41:

Jadi commonwelth bisa buka dengan 200ribu?
masa sih?

coba masuk http://www.commbank.co.id, buka menu ‘comminvest’, terus ‘reksadana fee & charges’
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 17:00
*
46

Mau ngetest browser Safari :d
Gravatar
o Comment by Agam
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Safari Safari 522.11.3 on Mac OS Mac OS X
o 12 June 2007 at 17:08
*
47

Asuransi juga skrg sudah ada yang syariah kalo itu yg dikhawatirkan.

Soal investasi di pilihan unit link, tergantung asuransinya, ada asuransi yang membebaskan nasabah/penabung untuk memilih berinvestasi di beberapa tipe investasi yang dia miliki, apakah itu equity, managed income, fixed income (deposito, bunga bank dll)

Informasi yang diberikan kalo ga salah berupa berapa return/tahun yg diberikan oleh masing2x tipe investasi. Misalnya equity tahun 2006 hingga 50% dll.
Gravatar
o Comment by enda
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 17:20
*
48

#43:

Ada manfaat buat ahli waris kalau Pemilik unit link meninggal, sebaliknya hal ini tidak ada di produk reksadana

unit link harus dibandingkan dengan asuransi+reksadana, bukan reksadana saja. sebenarnya ini inti permasalahannya: kalau nasabah merasa tidak/belum memerlukan asuransi jiwa, maka sebenarnya dia juga tidak/belum memerlukan unit link. yang dibutuhkan oleh sebagian besar nasabah unit link saat ini sebenarnya adalah reksadana, bukan unit link.

tapi karena calon nasabah tidak tahu reksadana, maka dia pilih unit link. kalau si nasabah tahu reksadana, maka dia gak punya alasan untuk ikutan unit link. unit link di sini cuma cara pemasaran untuk menjaring lebih banyak pelanggan yang belum tahu reksadana.

Kontrak unit link biasanya jangka Panjang diatas 10 tahun, sehingga ada kedisiplinan untuk terus membayar premi (setiap jatuh tempo pembayaran, perusahaan asuransi mengingatkan hal tersebut)

kalau buat saya ini jeleknya unit link: gak bisa bebas memilih manajer investasi, gak bisa menyetorkan dana berlebih tanpa kena biaya administrasi tambahan.

Agen/tenaga pemasaran biasanya membandingkan produk unit link dengan produk asuransi tradisional (contoh: dwiguna), karena sama2 produk asuransi.

pengalaman saya agak susah membandingkan unit link dengan asuransi tradisional. dari beberapa unit link terlihat harga preminya terlampau murah jika dibandingkan asuransi konvensional, tapi saya curiga itu karena disubsidi silang dari biaya administrasi porsi investasi, sedangkan porsi investasi tidak bisa benar2 dieliminasi. jadi gak bisa diketahui secara pasti berapa besar premi sebenarnya, bahkan agennya pun mungkin gak tahu.

jadi agak susah membandingkan unit link secara apple to apple dengan asuransi tradisional, bahkan dengan produk unit link dari perusahaan lain.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 17:22
*
49

Unit link adalah salah satu jenis investasi.Lainnya seperti saham,obligasi,deposito,emas,dll.
Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.Unit link di indonesia belum lama.Kalo di Eropa dan Amerika Utara sudah lama.Jadi tidak ada alasan untuk khawatir dan disangkutpautkan dengan investasi yang tidak jelas.Kalo ingin tahu pembahasan secara detil sering-sering baca majalah bisnis spt SWA atau Investor.Kalo surat kabar ya Bisnis Indonesia.
Setahu saya reksadana dan unit link itu bebas pajak(bandingkan dengan deposito).Return-nya juga lebih besar Unit link.Tetangga saya ada yg punya AKTIVA produk dari A*G Life(persh AS sponsor klub sepak bola MU).Info yang saya dapat tahun kemarin profitnya 60%!
Ingin pilih produk Unit link ya harus pinter-pinter milih persh yg bonafid.Rating persh asuransi bisa dilihat di majalah Investor tiap tahun(bisa ditanyakan ke redaksi) :)
Gravatar
o Comment by Arif
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.2 on Linux Linux
o 12 June 2007 at 17:33
*
50

mendingan bisnis biasa aja ah, yang konvensional terkadang lebih aman dan menguntungkan dibanding dengan yang modern. tapi, reksadana boleh juga lah :d
Gravatar
o Comment by Naif Al'as
o Posted from Singapore Singapore Singapore
o Using Safari Safari 522.11.3 on Mac OS Mac OS X
o 12 June 2007 at 18:12
*
51

#49:

Unit link adalah salah satu jenis investasi.Lainnya seperti saham,obligasi,deposito,emas,dll.

ini sebenarnya kurang tepat, karena porsi investasi yang ada di unit link itu sebenarnya adalah reksadana juga.

Setahu saya reksadana dan unit link itu bebas pajak(bandingkan dengan deposito).Return-nya juga lebih besar Unit link. Tetangga saya ada yg punya AKTIVA produk dari A*G Life(persh AS sponsor klub sepak bola MU).Info yang saya dapat tahun kemarin profitnya 60%!

kalau manager investasinya sama, unit link pasti returnnya lebih rendah daripada reksadana, karena di sini ada lebih banyak pihak yang mengutip keuntungan.

perbedaan AIG dibandingkan unit link atau reksadana lain adalah dia pakai manajer investasi in-house. akibatnya modalnya tidak bisa sebanyak pool reksadana sehingga keuntungan ‘recehan’ dari saham2 dengan market cap kecil menengah yang lebih fluktuatif bisa langsung terasa (dan kalau rugi langsung terasa juga). tapi kalau jangka panjang harusnya reksadana dengan modal besar akan lebih diuntungkan.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 12 June 2007 at 18:56
*
52

Aduh.. belum nyampe saya.. :(
Gravatar
o Comment by Adhi
o Posted from Herndon United States United States
o Using K-Meleon K-Meleon 1.1 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 05:57
*
53

investasi begini utamanya adalah kepercayaan…sayangnya saya sudah tidak begitu percaya dengan perusahaan perusahaan pengelola uang seperti ini…mau gimana lagi?
Gravatar
o Comment by imcw
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Opera Opera 9.21 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 08:23
*
54

Ayah saya punya 4 asuransi di bumi asih, tapi sekarang cuma 2 yang masih di terusin, ikut asuransi karena gampang di gombalin tukang asuransi, udah punya asuransi masih dipaksa2 ngambil paket yang lain… dasar….
Gravatar
o Comment by Rony Triwardhana
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 10:54
*
55

#23 Saya setuju dengan “Overhead unit link > daripada (investasi dan asuransi terpisah)”. Saya mengalaminya sendiri. Saya mengambil unit link AXA-Mandiri. 3 tahun pertama, uang yang saya setorkan > Nilai aktual dari investasi saya. 3 tahun berikutnya juga baru equal. Ini belum menghitung inflasi dan kemungkinan investasi yang dilakukan oleh manajer investasi di AXA-Mandiri merugi.

Saya dulu tertarik karena bisa Autodebet dari Bank Mandiri dan free of charge (charge autodebet-nya bukan administrasinya). Yang paket asuransi dan investasi lain mengharuskan saya menyetor secara manual (ada yang bisa transfer dan ada yang tidak).

Tapi dengan banyaknya kemudahan mendaftar ke investasi2 yang ada dan banyaknya tawaran2 asuransi maka mending terpisah daripada satu paket.
Gravatar
o Comment by Rahmat
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 11:36
*
56

Iyak, klo dipisah, pusingnya sebiji sebiji klo ada masalah. Klo gabung, pusingnya pasti 2 biji. Reksadana apa enaknya sih? Misal kaya th 98 duit tahu2 ga ada harganya gitu pa ndak rugi setor bulanan tp repot ngambilnya? Masih goblog nih, mending nabung konvensional aja deh…
Gravatar
o Comment by budiTyas
o Posted from Yogyakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 12:01
*
57

@45

eh beneran ada, thanks pri.. :)
Gravatar
o Comment by andriansah
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 13:41
*
58

tulisan yang bagus pak! Asuransi dan reksadana lebih baik dipisah.

dari berbagai poin di atas, menurut saya, yang paling berharga adalah kebebasan (likuiditas) + transparansi.
Gravatar
o Comment by bahar
o Posted from Singapore Singapore Singapore
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 17:41
*
59

#56:

Reksadana apa enaknya sih? Misal kaya th 98 duit tahu2 ga ada harganya gitu pa ndak rugi setor bulanan tp repot ngambilnya?

sebenernya justru tahun 98 itu waktunya buat setor, bukan untuk ngambil. kalo uang dianggurin justru rugi berat, soalnya inflasi sekitar 58%. deposito waktu itu sekitar 60-100% kalo gak salah.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 13 June 2007 at 17:48
*
60

Menurut saya si pak, justru lebih baik diambil n dijadiin property soalnya property tdk naik, justru turun krn jmn susah. Klo tetap dlm bentuk uang, emg rugi berat.

Menyimpan uang kan ngurangi uang beredar, mencegah inflasi makin parah, n menguntungkan jug, Cm masalahnya bank pada ga bener, mereka2 juga yg bikin moneter kacau. Mo konvert dollar rugi juga wong naiknya gila2an. Ya paling2 property tadi, …developer kalo ga jual murah pa mo kecekik bunga kredit. Nabung aja bunga segitu pa lagi kredit.
Gravatar
o Comment by BudiTyas
o Posted from Yogyakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 13 June 2007 at 23:56
*
61

Para agen Asuransi yang gencar menawarkan produknya, terutama jenis “Asuransi Investasi”, apa mereka care dengan apa yang kita butuhkan, dan bagaimana sebaiknya perencanaan keuangan kita? Yang mereka care adalah mendapatkan komisi sebanyak2nya kalau mereka bisa closing, dan mencapai target minimum bulanan.

Yang digembar gemborkan oleh agen asuransi biasanya sangat manis dan menakjubkan, tapi begitu mau claim, dang! I should’ve read the fine print.

Menurut saya pribadi Asuransi Investasi maupun Pendidikan adalah BS, karena perkembangan investasinya tidak bisa dimonitor oleh kita. Terutama yang dinamakan asuransi pendidikan, bs banget deh… 60jt 17 tahun kemudian untuk kuliah…. kuliah dimana mang?….

Untuk investasi sebaiknya memang memilih reksadana, atau kalau fulus cukup dan punya keberanian, langsung main saham.

Asuransi hendaknya tetap dilihat sebagai ‘insurance’, dimana kita membayar ‘premi’ supaya jika terjadi hal2 yang tidak diinginkan, ‘loss’ atau ‘damage’ yang kita derita tidak terlalu besar. Jangan dicampur adukan dengan apa yang dikatakan ‘investasi’.
Gravatar
o Comment by idarmadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Mac OS Mac OS X
o 14 June 2007 at 01:12
*
62

Ndak Faham saya :D
Gravatar
o Comment by Jauhari
o Posted from Semarang Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows Vista
o 14 June 2007 at 08:19
*
63

wadoh, asuransi yah, gak brp paham sayah, tp intinya kita ndaptar trus bayar premi tiap bulan, kan?:d
Gravatar
o Comment by toim the shinigami
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 14 June 2007 at 09:53
*
64

Assalamu’alaikum. Mohon izin Nimbrung nich.
Dalam mengelola keuangan dan resiko tentu perlu manajemen yang baik agar menguntungkan dan siap menghadapi musibah karena kehidupan berputar antara susah dan senang. Akan tetapi sangat diperlukan juga kejelasan kehalalannya seperti halnya ayam bakar/goreng yang baik dan lezat namun yang satu tidak disembelih pakai bismillah.
Saat musibah datang terkadang uang yang kita tabung tidak mencukupi pd saat itulah terasa fungsi asuransi (tolong-menulong=takaful) bahasa betawinya uang rembug yang kita niatkan untuk saling tolong menolong sehingga berpahala dan tidak hilang dalam hitungan akhirat.
Untuk mendapatkan investasi yang menguntungkan dan terkendali dibutuhkan manajemen yang baik. Takaful bekerja sama dengan Trimegah syariah dalam mengelolanya. Investasi aset di letakkan pada instrumen yang sesuai dengan syariah diantaranya Pasara Uang Syariah, Obligasi Syariah dan Ekuitas syariah.
Gravatar
o Comment by Sofyan
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 14 June 2007 at 11:27
*
65

Di Bolak Balik, ya “spend your money” juga (ada patung kucing sambil melambai-lambai):d
Gravatar
o Comment by zaenal muhtadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 14 June 2007 at 15:48
*
66

kalo ga ngerti ttg reksadana baiknya ga usah komen.mang nabung konvensional bisa ngalahin inflasi apa??
Gravatar
o Comment by pcool
o Posted from Medan Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 14 June 2007 at 21:43
*
67

Ya bisalah. Wong ngurangi uang beredar. Nabung di celengan ato apa aja sama, yg penting ga ada duit di kantong buat dibelanjakan. Ga ngerti reksadana makanya nanya…, lha mana? blom ada yg jawab tuh…, ayo yg marketing reksadana…
Gravatar
o Comment by BudiTyas
o Posted from Yogyakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 15 June 2007 at 09:19
*
68

Klo mau muter uang yg menghasilkan return tinggi mending jualan atau memroduksi barang. Nabung ato invest keuntungannya sangat kecil. Kalo punya uang lebih bolehlahh mikirin asuransi
Gravatar
o Comment by Anjung
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 15 June 2007 at 11:34
*
69

#68
inti yg dibahas kan soal ga efektifnya unit link klo dibandingin dengan ngambil asuransi dan investasi reksadana secara terpisah. Mungkin anda melihatnya dari sisi yg berbeda, atau tulisan mas pri yg kepanjangan? :d
Gravatar
o Comment by irawan
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.0.7 on Windows Windows XP
o 15 June 2007 at 19:37
*
70

#68:

Klo mau muter uang yg menghasilkan return tinggi mending jualan atau memroduksi barang. Nabung ato invest keuntungannya sangat kecil

jualan atau produksi barang itu kerjaan full time sendiri, bukan murni investasi.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 15 June 2007 at 20:32
*
71

Salut .. ! semakin menarik dengan banyaknya komentar yang tentunya menunjukkan semakin “meleknya” berbagai pihak tentang pentingnya investasi.
Yang jelas kita semua harus memastikan dalam perbaikan ekonomi bangsa maka unsur investasi ini salah satu yang sangat penting.

Sebagai contoh dari apa yang pernah saya dengar, Malaysia sangat berhasil membangun karena investasi di sana sangat solid, misalnya reksadana sudah jauh berkembang (masyarakat di sana kalau mau dapat return yang baik pilihannya ke reksadana bukan menabung di Bank (di Indonesia kebanyakan masih menabung di Bank atau bahkan dibawah bantal!)). Investasi juga didukung model lain misalnya bagaimana tabung haji Malaysia dapat menunjang banyak dalam pengembangan ekonominya. Di Indonesia sementara ini hanya dimonopoli oleh Depag yang kita tidak tahu bagaimana mereka mengelola dana haji yang cukup besar dimaksud. Di Malaysia bahkan dana zakat pun dikelola dengan solid sehingga terkonsolidasi secara profesional dan tentunya membawa manfaat lebih baik kepada para penerima zakat maupun ekonomi pada umumnya.

Kembali ke unit link v.s. reksadana :
Apapun instrumen investasi tentunya muncul dengan segala kelebihan dan kekurangannya .. unit link dipandang beberapa pihak lebih mudah karena proteksi dan investasi serta kemudahan transaksi (mengarahkan untuk disiplin). Dalam pandangan kami, unit link lebih fair dibandingkan dengan asuransi konvensional, walaupun tentunya kritikan mengenai besarnya biaya di asuransi menjadi tantangan bagi pelaku asuransi untuk semakin menurunkannya.
Sementara Reksadana pasti akan lebih optimum investasinya karena biaya jauh lebih kecil walaupun tentunya kita harus mendapatkan lagi proteksi dari asuransi dan ini bagi berbagai kalangan lebih ribet.

Kembali kepada esensi tanggapan kami, mari kita galang terus investasi dalam rangka pembangunan bangsa ini baik invetasi di pasar modal (reksadana), asuransi atau direct investment kepada suatu bisnis.
Salam Investasi !
Gravatar
o Comment by ABar
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 15 June 2007 at 22:46
*
72

Tambahan sedikit :

Ada baiknya kita juga bagaimana menggalang investasi yang memang langsung lebih dekat dengan pergerakan sektor riel.

Investasi di pasar modal dan uang tentunya memang penting tapi ini saja tidak cukup. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebetulnya sangat membutuhkan dukungan permodalan. Masalah klasik kemudian muncul karena ternyata perbankan mengalami berbagai hambatan melaksanakan intermediasinya .. perbankan cari gampangnya mereka bahkan invest di pasar uang. Masalahnya memang klasik karena perbankan kelihatannya memang lama kelamaan diyakini bukan sebagai lembaga untuk investasi (kecuali investment banking yang berfungsi sebagai arranger bukan ambil posisi investasi).

Kembali ke UMK yang notabene mereka tersebar di pelosok tanah air sehingga perbankan sulit menjangkau, kiranya perlu kita dukung investasi untuk UMKM melalui Lembaga Keuangan Mikro dan Syariah (LKM/S) seperti Bank Perkreditan Rakyat / Syariah, Baitulmall wat Tamwil (BMT). Investasi di BPR maupun BPRS masih dijamin Lembaga Penjamin Simpanan dan returnnya lebih tinggi dibandingkan perbankan.
Rasio Perbandingan Pinjaman yang diberikan dengan Dana masyarakat yang dihimpun di LKM/S jauh lebih tinggi dibandingkan perbankan yaitu >85 % sementara perbankan 60%. di BPRS bahkan lebih tinggi lagi yaitu 120% (berarti BPRS mengeluarkan pinjaman tidak hanya dari dana masyarakat tetapi juga dari kocek pemegang saham atau pinjam ke lembaga lain).
Memang ada kritikan suku bunga/tingkat bagi hasil BPR/S kepada debiturnya dinilai tinggi. Hal ini tentunya dapat kita pahami karena di industri manapun, semakin ke hilir maka harga memang lebih mahal (contohnya beli rokok di warung pasti lebih mahal dibandingkan beli di makro-tapi walaupun lebih mahal kemudahan di dapat misalnya boleh beli eceran dan tidak ada biaya parkir). Demikian halnya LKM/S, karena mereka menawarkan kemudahan yang lebih baik dibandingkan perbankan seperti : lebih dekat ke debiturnya, mereka jemput bola serta kebanyakan tidak pake agunan (karena unsur kedekatan), maka hal ini diimbangi dengan harga kredit yang lebih mahal. Tapi jangan lupa, debiturnya pun masih rela karena kemudahan yang didapat selain semakin ke hilir perputaran bisnisnya pun lebih cepat misalnya pedagang bakul dan pedagang pasar putarannya harian.

Demikian, sekali lagi semoga berkenan dan selamat investasi .. !
Gravatar
o Comment by ABar
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 15 June 2007 at 23:10
*
73

Inilah Indonesia Bung,

orang indonesia banyak yang gak mau mikir n repot, pengennya gampang aja.

daripada repot ngurus investasi dan assuransi di dua tempat berbeda, ya mending ikut unit link, dengan satu proses kita bisa dapat return dan proteksi.

jadi reksadana + assuransi konvensional atau unit link akan berbeda fungsi dan manfaatya bagi setiap orang. tergantung dari mana orang tersebut memandangnya.
Gravatar
o Comment by gOeN
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP
o 16 June 2007 at 17:37
*
74

HUmm… saya baru saja ikutan AXA-Mandiri Rencana sejahtera … tadinya ikut itu karena mau ikut “tabungan berjangka”, gara2 sering liat Money Talk di Metro TV … intinya sih pengin disiplin menabung… tiap awal bulan langsung di debit dari rekening…

Nah.. kok bisa ke Mandiri Rencana sejahtera ? Terus terang saya tadinya ndak tau kalo produk ini beresiko tinggi… dan baru tau “agak jelas” setelah kemarin menerima polis nya :((

Mungkin karena iming2 “return” yang gedhe juga ( kata agen penjualnya, saat ini mencapai 56% p.a. — WOW!! padahal deposito kan cuma
Gravatar
o Comment by silverant
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 19 June 2007 at 10:13
*
75

:d mas pri,agen asuransi masi dapat persenan lo dari premi kita..kalo ga salah di PRU ,alokasi premi itu 70% di asuransi 30% di invest.begitu seterusnya sampai tahun ke lima.kalo persenan agen ambil 30% dari nilai ausransi tiap bulan…blum lagi agen diatas agennya..dan diatasnya lagi….harusnya polis utk asuransi jiwa sangat murah sekali.mahal karena terjadi perpindahan tangan..
Gravatar
o Comment by phenk
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 22 June 2007 at 14:55
*
76

Tujuan utama dari asuransi adalah mengurangi resiko kerugian dimasa mendatang. BUKAN untuk mencari keuntungan.

alokasi premi dapat dialokasikan sesuai dengan keinginan nasabah. Jadi tidak harus 70-30.
Kalo profit %an yang diambil oleh agen asuransi, saya rasa itu hal yang wajar-wajar saja.Karena agen asuransi tidak digaji.Lagi pula berapa % pun yang diterima oleh agen asuransi, itu adalah rejeki mereka.

Ibarat menabung di bank,gaji yang diterima oleh karyawan bank juga merupakan profit perusahaan yang didapat dari hasil tabungan/deposito anda.
Misal: Bank XYZ membeli SBI dengan bunga 10%/tahun, tetapi dijual ke nasabah dalam berbagai macam produk(tabungan,deposito,dll) dengan bunga 3%-6% saja. Bank mendapat Laba 4%-7%. Laba yang didapat untuk membayar gaji karyawan dan biaya operasional perusahaan.

So intinya,setiap perusahaan akan mengambil laba/profit dari nasabah/konsumen/pelanggan nya untuk kegiatan operasional perusaahannya.
:)
Gravatar
o Comment by user
o Posted from Menteng Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 27 June 2007 at 00:14
*
77

Dear Mas Pri,
Jadi pusing dan lebih nggak ngerti.
Pertanyaan saya satu saja.
Mudah-mudahan bisa dijawab.
Ada list perusahaan Reksadana yang terpercaya, menerima setoran kecil?

:((
Gravatar
o Comment by Erik Tapan
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 28 June 2007 at 10:10
*
78

#76:

Kalo profit %an yang diambil oleh agen asuransi, saya rasa itu hal yang wajar-wajar saja.Karena agen asuransi tidak digaji.Lagi pula berapa % pun yang diterima oleh agen asuransi, itu adalah rejeki mereka.

kalau ada produk asuransi yang lebih murah, lalu kenapa kita gak pilih yang lebih murah? :) perusahaan asuransi sih bebas2 aja mau kasih harga berapa. tapi selama ada persaingan bebas, konsumen (yang tahu situasi) berhak untuk memilih produk yang lebih murah dan efisien.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 28 June 2007 at 11:02
*
79

#77:

Ada list perusahaan Reksadana yang terpercaya, menerima setoran kecil?

coba manulife di cikini. minimum setoran awal Rp 100 ribu, minimum tambah Rp 100 ribu, dana ditransfer lewat BCA atau deutche bank.

atau coba beli schroders lewat bank commonwealth. setoran awal minimum Rp 200 ribu, minimum tambah Rp 100 ribu.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 28 June 2007 at 11:06
*
80

#78

setuju dengan mas pri
kalo ada produk asuransi lebih murah dengan produk dan pelayanan yang SAMA. Why not?
(kata orang) Buat apa bayar lebih kalau sama? Setuju? setuju :d

Tetapi yang namanya produk, pasti ada memiliki kelebihan dan kekurangan. So…konsumen mesti pinter-pinter memilih.:)
Gravatar
o Comment by user
o Posted from Menteng Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 28 June 2007 at 15:57
*
81

rekans2, mau ikutan nimbrung ya… kebetulan nama saya priyadi juga nih… :)

membandingkan unit link (UL) dengan asuransi jiwa + reksadana (secara terpisah) sama dengan membandingkan beli mobil yang udah lengkap dengan mobil “pimp my ride” dimana kita “ngisi sendiri” perlengkapan mobil kaya AC, tape, jok kulit, dll.

kalau anda memang bisa dan mau keliling pasar cari AC dan tape untuk mobil anda, mungkin sekali anda akan nemu yang murah dan bagus, sehingga total biaya pembelian akan lebih rendah dibandingkan dengan beli mobil yang udah lengkap.

sama juga dengan UL. kalau anda memang bisa dan mau keliling kota cari reksadana yang paling bagus untuk dikombinasikan dengan asuransi jiwa yang juga paling bagus, anda akan mendapatkan value for money maksimum. manfaat tinggi dengan biaya lebih rendah.

masalahnya, berapa diantara kita yang bisa melakukan itu? apalagi yang mau?

laah… antara investasi dengan tabungan aja masih banyak yang ngga ngerti bedanya. ada lagi yang komentar katanya orang indonesia belum butuh asuransi. ada lagi yang komplain karena premi asuransi jiwa (murni) “hilang” kalau ngga terjadi risiko, dan itu dianggap rugi.

ini jelas menunjukkan pengetahuan finansial yang masih terbatas (maaf ya …. jangan merengut loh. saya juga sama kok). jadi boro2 nyari reksadana sendiri dan digabung dengan instrumen finansial yang kompleks seperti asuransi jiwa… yang basic aja masih banyak yang ngga ngeh…

dari sudut marketing, di setiap pasar selalu ada segmen yang bebeda (segmentasi pasar). untuk gampangnya, kita bagi aja pasar finansial di indonesia dengan 2 segmen besar:
1) yang mampu dan mau “mix and match” produk2 finansial sendiri untuk mendapatkan value for money maksimum, dan
2) yang “beli paket” aja supaya lebih gampang. UL adalah untuk segmen kedua ini.

“tapi kan biayanya lebih besar”… ! lha anda kan ngga mau keliling kota cari produk2 asuransi dan reksadana untuk digabung, ya kayanya pantes lah kalo ngasih fee untuk yang bantuin anda…

jadi membeli UL sebenernya anda membeli “convenience” dan kemudahan yang lebih besar. produk ini untuk mereka yang tidak punya waktu, skill, atau kemauan utnuk nyari sendiri dan “mix and match”.

untuk anda yang sudah lebih advance, beli asuransi jiwa dan reksadana secara terpisah akan lebih efisien. itu dengan asumsi anda sudah ngerti pernak pernik kedua instrumen finansial itu ya… yang terlalu panjang untuk dibahas disini.

UL sendiri sebenarnya muncul dari permintaan masyarakat sendiri. ceritanya begini:
awalnya asuransi jiwa murni yang preminya “hangus” –> orang tidak puas karena kalau tidak mati uang tidak kembali –> muncullah endowment dan whole life yang mengandung elemen tabungan supaya premi tidak “hilang” –> orang tidak puas lagi karena tingkat pengembalian uang nasabah rendah dan tergerus inflasi –> elemen tabungan yang “dijamin” diganti dengan elemen investasi (reksadana) yang tidak dijamin tapi berpotensi memberi pengembalian yang lebih tinggi. lahirlah UL.

jadi… kenapa ada UL ? hey man, you asked for it…!

saat ini UL merupakan produk dengan pertumbuhan premi tertinggi di indonesia (lebih dari 30% per tahun) dan nasabahnya sudah lebih dari 5 juta orang. so jelas ada pasar untuk UL disini. mungkin saja anda bukan target market untuk UL karena anda bisa milih2 sendiri… tapi 5 juta orang indonesia tidak seperti anda…
Gravatar
o Comment by priyadi_juga
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 5 July 2007 at 05:24
*
82

oya, kebetulan saya juga di industri finansial. kalau ada yang mau ngobrol lewat japri silahkan di priyadi.setiawan@gmail.com
Gravatar
o Comment by priyadi_juga
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 5 July 2007 at 05:28
*
83

#81: saya ngerti adanya kebutuhan untuk unit link, tapi tidak cukup transparan berapa fee yang dibebankan kepada nasabah ketimbang kalau mengikuti keduanya secara terpisah.

kedua, beberapa unit link memaksa memberi layanan yang tidak diperlukan nasabah. misalnya ada beberapa unit link yang memasarkan produknya sebagai ‘asuransi pendidikan’, memberikan coverage asuransi jiwa kepada anak yang baru lahir. padahal ybs belum punya tanggungan dan dengan demikian sebenarnya gak perlu asuransi jiwa.

yang ketiga, sebagian unit link tidak pernah memperhitungkan faktor inflasi. yang ini nanti saya bahas terpisah ah.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 5 July 2007 at 11:27
*
84

Bahasan yg sangat menarik dan membuka wawasan saya karena beberapa waktu lalu saya sempat di tawari Unit Link tertentu dan tentu saja bagi saya yg awam ta tahu apa itu issurance ataupun reksadana ya tertarik banget ingin juga create account.

Yang bisa saya tangkap dari pembahasan diatas Unit Link memang menarik tapi ya seperti apa yang disampaiakan mas priyadi_juga lebih gampang nyaman tapi mahal kalau ga mau mahal ya jeli-jeli cari yang terpisah dan dirakit sendiri. Wah saya rasa saya juga tertarik cari-cari sendiri dan selanjutnya dirakit sendiri. thanks 4 all.
Gravatar
o Comment by hadi
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 6 July 2007 at 10:46
*
85

Wah Mas Priyadi, setelah saya baca2 artikel and comment dari semuanya. Saya jadi ragu nih. Soalnya saya dah setaun ikutan unit link kaya gini tepatnya di Allianz !!
Jadi sebaiknya apa yang harus saya lakukan !!!
Apakah saya harus berhenti dengan resiko kehilangan uang saya (daripada rugi besar nanti!!) atau lebih memperhatikan nilai investasi nya yang dilaporkan tiap bulan !!! Please Sarannya Mas PRI, Ato Mas mas yang lain !!!
Gravatar
o Comment by Taufik
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 9 July 2007 at 19:27
*
86

#85: wah, sebaiknya anda hitung2 dulu untung ruginya. kalau saya pribadi kalau sudah bisa dicairkan sekarang mungkin saya akan cairkan dan langsung tutup. tapi kalau belum bisa dicairkan saya akan teruskan sampai kesempatan pertama untuk bisa mencairkan, dan setelah itu baru pindah ke reksadana + asuransi terpisah.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 10 July 2007 at 11:59
*
87

mas pri da kasi tahu semua ttg reksa yg termurah.skrg kasi rekomendasi yg murni jiwa termurah donk.jgn ada campuran.termasuk apabila ada yg utk kecelakaan.soalnya saya juga buth asuransi jiwa dan kesehatan.utk investasi, saya invest sendiri.
Gravatar
o Comment by surbakti
o Posted from Medan Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 10 July 2007 at 12:34
*
88

Pada dasarnya unit link adalah suatu produk perusahaan asuransi jiwa yang ditujukan bagi masyarakat yang memerlukan asuransijiwa. Manfaat tambahan dari produk ini adalah adanya unsur investasi yang lebih transaparan dan kemungkinan mendapat return yang lebih baik dibanding produk asuransi tradisional .

Reksadana sendiri adalah produk keuangan yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan non asuransi yang ditujukan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi.

Ke dua produk tersebut memiliki tujuan dan manfaat yang berbeda. Bagi masyarakat yang membutuhkan proteksi (untuk keluarga maupun diri sendiri) unit link bisa dijadikan pilihan disamping produk asuransi tradisional yang lain. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memerlukan proteksi tapi butuh berinvestasi saja reksadana bisa menjadi pilihan disamping produk investasi lainnya.

Jadi buat teman2 yang ingin memproteksi dirinya dan keluarga dari resiko financial sekaligus mendapat return yg lebih baik dibanding membeli asuransi tradisional dan juga ingin mendapat hasil investasi yang optimal dengan modal yang tidak terlalu besar belilah unit link dan reksadana. Dijamin hati anda tenang karena terproteksi dan anda tambah kaya.

Cheers
Gravatar
o Comment by Anton
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 10 July 2007 at 12:52
*
89

Mas taufik, gak perlu responsif, pikirkan baik2, semua pendapat temen2 gak semuanya cocok dg kita dan gak mesti kita telen semua, kalo anda stop blm 3 th, uang anda pasti berkurang ya itung2 buat proteksi, stlh itu anda hrs lgs beli reksadana utk bisa nutup kehilangan di unitlink, kemudian anda jg hrs sgr cari asuransi murni, utk jaga2 diri, kalo kedua action itu sulit anda lakukan, maka saran saya terusin aja unitlinknya, kalo sampe selesai 10 tahun misalnya, anda juga gak rugi, stlh itu ambil uangnya bisa utk bisa bisnis 10 th kemudian

So jgn responsif saran saya,

Salam kenal

ANAS LEE
Gravatar
o Comment by ANAS LEE
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 11 July 2007 at 15:52
*
90

mas pri suka ngitung2 ya, napa ga ngitung jg faktor resiko hidup, mis org tua ngambil buat anaknya 1jt sebulan sesuai hitung2an inflasi dan sekolah tujuan. Nah mis si org tua mendadak meninggal atau cacat sampe2 ga bisa nabung lagi trus yg harus lanjutin nabung sapa dong ? ya otomatis perusahaan asuransi yg jual produk unit link tadi. Kalo soal asuransi yang manggandeng investasi, saya pikir itu salah satu strategi ngalahin inflasi sebab kalo asuransi konvensional pasti bunga tabungan (untuk kasus di atas)jauh lebih kecil, nah kalo harus ngalahin inflasi kebayangkan brpa yg hrs di tabung. lagian sampe skarang belum ada bunga dari asuransi konvensional yg bisa ngalahin inflasi kok. Nah liatnya dari situ mas, ada resiko hidup yg harus diantisipasi, supaya tujuan2 hidup untuk jangka panjang tetap terjaga. Menurut saya unit link itu produk brilian… oke thank’s ya mas pri:d:d
Gravatar
o Comment by marc
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 14 July 2007 at 16:54
*
91

#90:

Nah mis si org tua mendadak meninggal atau cacat sampe2 ga bisa nabung lagi trus yg harus lanjutin nabung sapa dong ?

ini argumen standar agen asuransi :). saya ngambil reksadana bukan berarti saya gak ngambil asuransi lho :). maksud saya, saya gak ngambil unit link, tapi saya ambil reksadana dan asuransi jiwa secara terpisah. jadi kalau saya meninggal, saya masih dicover oleh asuransinya, nanti penerus saya bisa reinvest hasil klaimnya ke reksadana.

returnnya pasti lebih tinggi daripada unit link karena di unit link pasti ada biaya administrasi tambahan yang menjadi tanggung jawab nasabah.

kalo asuransi konvensional pasti bunga tabungan (untuk kasus di atas)jauh lebih kecil

sudah jelas bunga tabungan itu kecil. tapi siapa yang bicara tentang bunga tabungan? :) kita bicara reksadana lho :).
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 14 July 2007 at 20:03
*
92

Mas pri yang baik…

Kayaknya disini dibandingkan 2 produk yang sebenarnya tidak bisa diperbandingkan.

Reksadana merupakan produk untuk keperluan investasi semata. Sedangkan unit link adalah produk untuk keperluan proteksi yang secara inovatif menghadirkan unsur investasi. Hasil investasi reksadana lebih optimum karena tidak ada biaya2 tambahan sebagaimana di unit link memang betul. Reksadana tidak membebankan biaya tambahan seperti biaya asuransi atau akuisisi karena di reksadana tidak ada manfaat asuransinya dengan kata lain tidak mungkin membebankan suatu biaya yang manfaatnya tidak diperoleh nasabah (bukan begitu mas pri).

Mas pri yang baik…

Seandainya mas pri beli unit link, penerus mas pri selain mendapatkan UP juga mendapatkan hasil investasi atau nilai tunai yang lebih besar dibanding mas pri membeli asuransi jiwa konvesional. Jadi penerus mas pri bisa mereinvest dana yang lebih besar ke reksadana.

Jadi mas pri tidak perlu merasa rugi membeli unit link, karena manfaatnya beda dengan reksadana.

Jadi buat rekan2 membeli unit link dan reksadana sekaligus tidak ada ruginya kok.
Gravatar
o Comment by anton
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 16 July 2007 at 13:53
*
93

#92:

Kayaknya disini dibandingkan 2 produk yang sebenarnya tidak bisa diperbandingkan. Reksadana merupakan produk untuk keperluan investasi semata. Sedangkan unit link adalah produk untuk keperluan proteksi yang secara inovatif menghadirkan unsur investasi

tentu saja bisa dibandingkan. di sini saya membandingkan porsi investasi dari unit link dengan reksadana dan berkesimpulan kalau reksadana lebih menguntungkan dalam urusan investasi.

kalau ada orang ikutan unit link karena potensi returnnya, maka ini salah kaprah, terutama kalau dia gak butuh asuransi jiwa (misalnya anak yang baru lahir) atau sudah punya asuransi sebelumnya (misalnya ikutan term life atau sudah ada dari kantor). butuh investasi kok ikutan asuransi jiwa? sebenarnya yang dibutuhkan orang2 ini adalah reksadana, bukan unit link.

unit link baru masuk akal kalau nasabah membutuhkan asuransi dan investasi sekaligus. tapi saya pribadi tetap menyarankan ikut asuransi dan reksadana secara terpisah karena asuransinya akan lebih murah dan/atau return investasinya lebih tinggi.

Reksadana tidak membebankan biaya tambahan seperti biaya asuransi atau akuisisi karena di reksadana tidak ada manfaat asuransinya dengan kata lain tidak mungkin membebankan suatu biaya yang manfaatnya tidak diperoleh nasabah (bukan begitu mas pri).

ini pasti agen prudential :). kebanyakan biaya akuisisi di unit link itu akibat metode pemasaran yang agresif. atau dengan kata lain pada bulan2 atau bahkan tahun2 pertama, nasabah mati2an nabung hanya untuk membayar komisi agen asuransinya. return baru terasa setelah lewat tahun kedua atau ketiga. sedangkan reksadana, returnnya bisa langsung terasa saat itu juga.

sebenarnya biaya tambahan dari mengikuti unit link itu bisa kecil kok asalkan tidak dipasarkan kelewat agresif. walaupun demikian asuransi+reksadana terpisah tetap lebih murah dan fleksibel daripada unit link.

Seandainya mas pri beli unit link, penerus mas pri selain mendapatkan UP juga mendapatkan hasil investasi atau nilai tunai yang lebih besar dibanding mas pri membeli asuransi jiwa konvesional. Jadi penerus mas pri bisa mereinvest dana yang lebih besar ke reksadana.

seandainya saya ambil asuransi+reksadana terpisah, penerus saya juga mendapatkan hasil investasi yang lebih besar daripada jika saya mengambil unit link, ini dengan asumsi jumlah premi yang sama.

jelas return unit link itu lebih besar daripada asuransi konvensional. tapi saya gak ikut asuransi konvensional untuk mendapatkan returnnya. malah saya gak dapat apa2 karena saya ikut term life. ini duit hilang begitu saja, dan saya gak dapat apa2 kecuali kalau saya meninggal :).

kelebihannya preminya jauh lebih kecil daripada unit link, dan selisih dari itu bisa saya invest ke reksadana. manfaat dan returnnya akan sama saja dengan unit link, tapi tanpa memperhitungkan biaya overhead yang ada di unit link. kalau memperhitungkan overhead, pasti asuransi+reksadana terpisah akan lebih menguntungkan.

orang ikut asuransi itu intinya bukan untuk mengharapkan keuntungan, tapi untuk mengurangi resiko terhadap hal2 yang tidak dikehendaki. intinya, anda harus hitung besar kecilnya return secara kuantitatif, dan bukan hanya semata-mata ada atau tidak ada returnnya.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 16 July 2007 at 15:55
*
94

Mas Pri,

Salut buat ulasannya .. saya juga sependapat dengan anda, jika kita sudah mengerti benar dan bisa memilah-milah paket yang terbaik memang lebih baik punya paket reksadana + asuransi konvensional terpisah.

Problemnya, utk sampai kesini perlu waktu …karena banyak saudara2 kita belum mengerti manfaat investasi reksadana & asuransi itu. Mereka perlu kita “Edukasi”. Ini keyword-nya.

Dari sisi pola hidup, masyarakat kita umumnya dan kebanyakan :
1. Masih sangat konsumtif, terutama yang masuk di kelas menengah (punya penghasilan utk cover biaya hidup + sisanya dihabiskan di “lifestyle” yang konsumtif.

2. Yang sudah bisa dan mau menabung, umumnya menabung dirumah dan di Bank melalui instrumen tabungan/deposito. Mereka belum kenal reksadana, bahkan juga konsep2 investasi melalui saham, obligasi, money market belum mereka pahami. Taunya cuma simpen duit dibawah bantal (masih banyak lho) atau nabung dibank. Pahahal bank sudah bukan lagi pilihan tempat melakukan investasi, karena terlalu banyak biaya2 administrasinya bahkan dibanding interest yang diberikan. Ini sering tidak kita sadari.

3. Belum melek atau Phobia asuransi. Buat mereka, asuransi konvensional atau unit link sama saja .. sama-sama tidak diperlukan dan bahkan mungkin dianggap penipu semuanya :) Mereka takut berurusan dengan asuransi dan kalau pun kena musibah, sudah kehendak Tuhan kata mereka.

Dari ilustrasi di atas, jika anda juga sepakat, maka produk unit link adalah “solusi awal” utk melakukan edukasi kepada masyarakat awam ttg pentingnya asuransi dan investasi. Orang kita itu kebanyakan paling seneng beli sesuatu yang 2 in 1, 3 in 1 bahkan 5 in 1 kalo perlu :). Contoh sederhana, mobil kijang, taruna or Avanza-Xenia yang bisa muat 7 in 1/8 in 1 jelas lebih laku dibanding yg muatan sedikit.

Kalo buat saya sih, asuransi dan investasi adalah sebuah proses belajar .. belajar menemukan kebutuhan hidup kita yang riil, dan belajar menemukan solusinya. Wajar aja, dalam proses belajar tentu ada yg bisa belajar cepat, sedang atau lambat. Anda mungkin termasuk yang cepat. Intinya, belajar itu lebih baik dengan praktek langsung dibanding berteori terus.

Saya sendiri, sudah punya unit link selama 2 tahun, dan perlu waktu selama itu utk membuat kesimpulan yang sama dengan anda. Apakah saya merasa rugi punya unit link? rasanya tidak, karena saat ini saya sudah merasa nyaman minimal sudah punya paket asuransi dan investasi, meski biaya asuransinya mungkin lebih besar dari yg konvensional & return investasi-nya lebih kecil dari yang reksadana. At least, saya sudah memulai.
Dan saat ini saya merasa lebih mantap melangkah ke proses belajar selanjutnya, yaitu ke reksadana. Doain ya mas n temen2 semua, semoga proses belajar ini mendapatkan manfaat buat saya n keluarga.

Buat yang belum punya, saya himbau segera mulai. Terserah mau mulai dari unit link atau langsung ke reksadana+asuransi konvensional, pokoke yang penting mulai .. berarti anda sudah membuat kemajuan bagi anda sendiri dan keluarga.
Gravatar
o Comment by donny
o Posted from Pontianak Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 16 July 2007 at 17:34
*
95

#94

Dari ilustrasi di atas, jika anda juga sepakat, maka produk unit link adalah “solusi awal” utk melakukan edukasi kepada masyarakat awam ttg pentingnya asuransi dan investasi.

sama seperti anda. sebelum mengenal reksadana saya juga nasabah 2 produk unit link selama 5 tahun. sekarang hanya satu yang masih aktif dan dalam proses batal.

Saya sendiri, sudah punya unit link selama 2 tahun, dan perlu waktu selama itu utk membuat kesimpulan yang sama dengan anda. Apakah saya merasa rugi punya unit link? rasanya tidak, karena saat ini saya sudah merasa nyaman minimal sudah punya paket asuransi dan investasi, meski biaya asuransinya mungkin lebih besar dari yg konvensional & return investasi-nya lebih kecil dari yang reksadana. At least, saya sudah memulai.

bedanya dengan anda, saya merasa dikadalin dengan ikutan unit link. sama dengan perasaan saya kalo misalnya ketemu calo di stasiun gambir yang jual ‘tiket resmi’ jakarta-bandung Rp 100000, padahal harga aslinya Rp 60000. setelah tahu dimana letak loket resminya, ya mendingan langsung beli dari loket resminya, gak perlu berurusan lagi dengan calo-nya :)

beberapa isu yang saya gak suka:

* unit link cenderung ‘menyembunyikan’ biaya2 administrasi ke dalam angka2 ilustrasi sehingga seakan2 biaya administrasi sebesar itu adalah wajar. kalau nasabah diberitahu secara terus terang, mungkin jadinya gak ada yang beli unit link :)
* unit link memasarkan produk yang tidak berguna untuk calon nasabah. misalnya asuransi jiwa ke anak yang baru lahir, dan dipasarkan sebagai ‘asuransi pendidikan’.

dari pengalaman saya hanya bisa berkesimpulan kalau unit link hanyalah semata-mata trik marketing untuk memasarkan produk asuransi, terlepas dari apakah produk tersebut memang diperlukan calon nasabah atau tidak.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 16 July 2007 at 18:01
*
96

saya sampai sekarang masih belum percaya asuransi tuh…takut di boongin aja…udah deh..berserah pada yang di atas aja deh…:d:x
Gravatar
o Comment by rony
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 17 July 2007 at 15:58
*
97

Setuju sekali,
Asuransi konvensional memang lebih murah dan transparan, begitu juga dengan Reksadana

Perbedaan mengikuti UnitLink dengan mengambil asuransi dan reksadana secara terpisah adalah dengan UnitLink kita dapat memastikan apabila terjadi sesuatu dengan kita maka investasi kita akan terus berjalan, tidak dengan mengambil terpisah, saat sesuatu yg terburuk terjadi kita tidak akan memikirkan untuk investasi lagi

Kalau kita mengambil terpisah maka kita akan membuang uang untuk asuransi dan menabung dengan reksadana, Jeleknya, untuk orang Indonesia kesadaran untuk asuransi sangat rendah, siapa yang mau buang uang coba, sedangkan di UnitLink biaya Asuransi dan Akuisisi dibungkus dalam selimut Investasi sehingga banyak orang yang tertarik untuk ikut

Sy rasa tidak terlalu bijak mengatakan kalau UnitLink tidak bagus dan lebih bagus Reksadana mengingat kebutuhan kita sebenarnya adalah akan asuransi dan bukannya reksadana karena biaya untuk sakit saat ini sudah sangat mahal


Pemilik polis Askes yang dibayar sendiri (bukan dibayarin kantor) yang masih mau punya tabungan pendidikan (berasuransi jiwa), tabungan berjangka (berasuransi jiwa) dan UnitLink (tentunya berasuransi kesehatan dan jiwa)


untuk yang sudah punya asuransi kesehatan tentunya bisa bilang unitlink adalah biaya tinggi, tapi untuk orang yang tidak mau bayar asuransi kesehatan unitlink mungkin yang terbaik
Gravatar
o Comment by Rakhmat Permana
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Netscape Navigator Netscape Navigator 3.21Platinum on Mac OS Mac OS
o 22 July 2007 at 02:10
*
98

#97:

Perbedaan mengikuti UnitLink dengan mengambil asuransi dan reksadana secara terpisah adalah dengan UnitLink kita dapat memastikan apabila terjadi sesuatu dengan kita maka investasi kita akan terus berjalan, tidak dengan mengambil terpisah, saat sesuatu yg terburuk terjadi kita tidak akan memikirkan untuk investasi lagi

kalau diambil terpisah saya harus memberi pelajaran finansial kepada penerus saya, dan jika saya meninggal penerus saya harus melakukan: klaim & reinvest ke reksadana. sedangkan dalam unit link penerus saya hanya cukup melakukan klaim. sekarang tinggal masalah apakah biaya yang kita keluarkan dalam unit link sepadan untuk melakukan reinvest ke reksadana? apa itu sepadan dengan potongan 5% setiap kali saya invest ke unit link? menurut saya sih tidak.

Kalau kita mengambil terpisah maka kita akan membuang uang untuk asuransi dan menabung dengan reksadana, Jeleknya, untuk orang Indonesia kesadaran untuk asuransi sangat rendah, siapa yang mau buang uang coba, sedangkan di UnitLink biaya Asuransi dan Akuisisi dibungkus dalam selimut Investasi sehingga banyak orang yang tertarik untuk ikut

ini problem utamanya, kalau ambil reksadana+asuransi terpisah, maka tidak ada biaya akuisisi (alias komisi agen) yang sangat mahal :). kalau masalah kesadaran berasuransi harusnya solusi adalah pembelajaran, bukan justru pembodohan dengan menyajikan produk yang lebih abstrak :)

seandainya unit link dipasarkan dengan cara misalnya “anda setor Rp 1 juta/bulan, nanti Rp 700rb saya alokasikan ke reksadana dan Rp 290 ribu saya alokasikan ke premi asuransi. sedangkan Rp 10 ribunya komisi untuk saya”, mungkin saya lebih respek karena lebih transparan dan kita gak susah untuk menilai apakah yang dia lakukan sepadan dengan apa yang kita bayarkan.

kalau unit link sekarang umumnya menyembunyikan biaya2 komisi dsb sehingga sulit diketahui oleh calon nasabah kecuali kalau teliti dan mau susah payah menghitung. seandainya nasabah tahu besar biaya yang harus dia bayarkan untuk komisi dan administrasi, mungkin dia akan kaget :)

Sy rasa tidak terlalu bijak mengatakan kalau UnitLink tidak bagus dan lebih bagus Reksadana mengingat kebutuhan kita sebenarnya adalah akan asuransi dan bukannya reksadana karena biaya untuk sakit saat ini sudah sangat mahal

tulisan di atas membandingkan reksadana vs unit link dalam kerangka investasi, bukan asuransi. tapi seandainya perlu, tidak menjadi masalah, karena asuransi kesehatan pun bisa dibeli terpisah.

untuk yang sudah punya asuransi kesehatan tentunya bisa bilang unitlink adalah biaya tinggi, tapi untuk orang yang tidak mau bayar asuransi kesehatan unitlink mungkin yang terbaik

sebenarnya unit link bisa diambil tanpa manfaat kesehatan. tapi jauh lebih bijak kalau mengambil asuransi jiwa dan reksadana secara terpisah.

yang rugi itu sebenarnya orang2 yang gak punya tanggungan (orang yang belum menikah atau bahkan bayi yang baru lahir), tapi ambil unit link. karena di situ ada manfaat asuransi jiwa yang gak dia perlukan. dalam kebanyakan unit link, asuransi jiwa gak bisa dibuang.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 22 July 2007 at 03:04
*
99

#98
tapi jauh lebih bijak kalau mengambil asuransi jiwa dan reksadana secara terpisah.
-
setuju, asal diambil keduanya bukan cuman mau untung dari reksadana saja

yang rugi itu sebenarnya orang2 yang gak punya tanggungan (orang yang belum menikah atau bahkan bayi yang baru lahir), tapi ambil unit link. karena di situ ada manfaat asuransi jiwa yang gak dia perlukan. dalam kebanyakan unit link, asuransi jiwa gak bisa dibuang.

yups
Gravatar
o Comment by Rakhmat Permana
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla SeaMonkey Mozilla SeaMonkey 1.1.2 on Windows Windows Server 2003
o 22 July 2007 at 13:33
*
100

Hi Mas Pri nimbrung lagi nih,

“kelebihannya preminya jauh lebih kecil daripada unit link, dan selisih dari itu bisa saya invest ke reksadana. manfaat dan returnnya akan sama saja dengan unit link, tapi tanpa memperhitungkan biaya overhead yang ada di unit link. kalau memperhitungkan overhead, pasti asuransi+reksadana terpisah akan lebih menguntungkan.”

========================

Apakah biayanya lebih murah?
Sebagai perbandingan saya punya term life dgn premi Rp 300,000 pertahun dengan UP Rp 100 jt. Apabila saya hidup sesuai dengan usia harapan hidup orang Indonesia (bisa mencapai 65 tahun) berarti total premi yang saya harus bayar adalah Rp 300,000 x 30 tahun (saat ini usia saya 35 thn) = Rp 10,500,000.
Pada saat yg sama saya membeli juga unit link dengan premi Rp 3,000,000 pertahun dengan masa pembayaran premi 5 tahun(UP 100 jt). Total Premi yang saya bayar adalah Rp 15 juta. Biaya 15 jt ini dapat terbayarkan kembali melalui hasil investasi dan saya tetap mendapat proteksi hingga umur 88 thn plus nilai tunai sebagai tambahan. Apakah ini membuat saya tidak bijak untuk membeli unit Link?

=========================
“unit link cenderung ‘menyembunyikan’ biaya2 administrasi ke dalam angka2 ilustrasi sehingga seakan2 biaya administrasi sebesar itu adalah wajar. kalau nasabah diberitahu secara terus terang, mungkin jadinya gak ada yang beli unit link”

“kalau unit link sekarang umumnya menyembunyikan biaya2 komisi dsb sehingga sulit diketahui oleh calon nasabah kecuali kalau teliti dan mau susah payah menghitung. seandainya nasabah tahu besar biaya yang harus dia bayarkan untuk komisi dan administrasi, mungkin dia akan kaget”
===========================

Salah satu kewajiban agen asuransi/pihak asuransi dalam menjual produk adalah transparasi termasuk dalam hal biaya. Dalam unit link biasanya biaya per bulan yang harus dibayar adalah biaya periodik/akuisisi, biaya asuransi, dan biaya administrasi. Besarnya biaya tergantung dari masing2 asuransi. Setahu saya pada beberapa perusahaan asuransi, besarnya biaya yang diambil dicantumkan didalam ilustrasi. Kalo tidak ada calon nasabah dapat menanyakan kpd agen atau perusahaan asuransinya berapa biaya yang dikenakan.
===============

“seandainya unit link dipasarkan dengan cara misalnya “anda setor Rp 1 juta/bulan, nanti Rp 700rb saya alokasikan ke reksadana dan Rp 290 ribu saya alokasikan ke premi asuransi. sedangkan Rp 10 ribunya komisi untuk saya”, mungkin saya lebih respek karena lebih transparan dan kita gak susah untuk menilai apakah yang dia lakukan sepadan dengan apa yang kita bayarkan.”

======================

Sebagai informasi dalam unit link ada 2 jenis produk yaitu regular premium dan single premium. Dalam unit link regular premium, premium dialokasikan ke 2 tempat yaitu asuransi dan investasi. Sedangkan pada single premium hanya dialokasikan ke investasi.
Pada regular premium biasanya ada minimum premi yang harus dialokasikan di premi asuransi.
Sebagai contoh perusahaan X mensyaratkan premi asuransi min 1.5 jt/tahun maka bila anda menyetorkan dana sebesar 5 juta/pertahun, Rp 1,5 juta akan dialokasikan ke asuransi dan 3,5 juta ke investasi (Besarnya premi asuransi tergantung pada UP yg hendak diambil dan asuransi tambahan apa yg hendak anda ambil. Semakin Besar UP dan semakin banyak asuransi tambahan semakin besar porsi premi asuransi yg harus dibayar). Dan perlu diketahui juga bahwa premi asuransi yang dibayarkan itu pada tahun ke 2 95% dari premi asuransi akan dialokasikan sebagai investasi (jadi pada tahun ke2 95% dari 1,5 jt akan dialokasikan utk investasi disamping premi investasi itu sendiri).

Pada unit link single premium, premi yg disetorkan dialokasikan ke investasi saja.

“ini problem utamanya, kalau ambil reksadana+asuransi terpisah, maka tidak ada biaya akuisisi (alias komisi agen) yang sangat mahal . kalau masalah kesadaran berasuransi harusnya solusi adalah pembelajaran, bukan justru pembodohan dengan menyajikan produk yang lebih abstrak”
=========================

Mengenai komisi (sebenarnya kurang etis membicarakan pendapatan tapi ini hanya sebagai ilustrasi bukan hal yang sebenarnya), komisi yang didapat dr agen apabila menjual unit link adalah X% dari premi asuransi katakanlah bisa mencapai 30% dari premi asuransi (tahun 1 dan ke 2 saja tahun berikutnya komisi ini akan trn drastis dibawah 10%) dan Y % katakanlah 2.7%-3% dari premi asuransi. Sebagai contoh premi yang dibayar 5 jt dgn alokasi premi asuransi Rp 1,5 jt dan Investasi Rp 3,5 jt maka komisi yang didapat adalah 1,5jt x 30% = Rp 450,000 dan 3,5jtx3% = Rp 10,500 atau total Rp 460,000. Bandingkan apabila si agen menjual asuransi konvensional dengan premi 5jt maka komisi yang didapat 5jt x 30% (tahun pertama dan ke2) (tergantung perusahaan asuransi) atau total Rp 1,5jt. Jadi kata siapa komisi agen lebih besar di unit link. Dan ini membantah pendapat anda mengenai biaya akuisisi diatas, walupun komisi agen sebenarnya bukanlah biaya akuisisi. Tapi biaya akuisisi bisa mengandung komisi agen.

Cheers
Gravatar
o Comment by anton
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 23 July 2007 at 14:36
*
101

maaf ada kesalahan pad penghitungan premi term life. polis itu sya beli pada usia 30 tahun sehingga premi yg dibayar 300,000 x 35 = Rp 10,500,000

Thanks
Gravatar
o Comment by anton
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 23 July 2007 at 14:40
*
102

#100:

Sebagai perbandingan saya punya term life dgn premi Rp 300,000 pertahun dengan UP Rp 100 jt. Apabila saya hidup sesuai dengan usia harapan hidup orang Indonesia (bisa mencapai 65 tahun) berarti total premi yang saya harus bayar adalah Rp 300,000 x 30 tahun (saat ini usia saya 35 thn) = Rp 10,500,000.

Pada saat yg sama saya membeli juga unit link dengan premi Rp 3,000,000 pertahun dengan masa pembayaran premi 5 tahun(UP 100 jt). Total Premi yang saya bayar adalah Rp 15 juta. Biaya 15 jt ini dapat terbayarkan kembali melalui hasil investasi dan saya tetap mendapat proteksi hingga umur 88 thn plus nilai tunai sebagai tambahan. Apakah ini membuat saya tidak bijak untuk membeli unit Link?

anda juga harus memperhitungkan time value of money, dan perbandingan harusnya juga menggunakan nominal yang sama. Rp 3 juta/tahun untuk unit link harusnya dibandingkan dengan Rp 3 juta/tahun jika mengambil asuransi dan reksadana terpisah.

pada unit link, anda setor Rp 3 juta/tahun. kemudian oleh perusahaan asuransi, dari Rp 3 juta itu, Rp 300 ribu disetorkan ke perusahaan reasuransi, dan sisanya Rp 2,7 juta disetorkan ke reksadana. dalam 5 tahun, investasi anda yang Rp 2,7 juta/tahun itu harusnya sudah cukup berkembang sehingga returnnya sudah lebih dari Rp 300 ribu/tahun yang dapat digunakan untuk membayar reasuransi, sehingga anda tidak perlu lagi setor uang dari kocek anda untuk bayar premi.

jika mengambil secara terpisah, anda setor Rp 300 ribu/tahun untuk premi term life. dalam budget anda yang Rp 3 juta/tahun, maka harusnya anda punya sisa dana Rp 2.7 juta/tahun. anda setorkan Rp 2.7 juta/tahun ini ke reksadana. dalam 5 tahun, return investasi anda yang Rp 2.7 juta/tahun ini harusnya sudah bisa mencukupi untuk membayar premi yang Rp 300 ribu/tahun. setiap tahun anda tarik Rp 300 ribu dari reksadana dan menyetorkannya ke perusahaan asuransi. anda tidak perlu mengeluarkan Rp 300 ribu dari kocek anda.

jadi kurang lebih sebenernya sama aja kan? bedanya:

* di atas saya belum memperhitungkan biaya akuisisi dan administrasi untuk unit link. biaya2 ini lebih besar di unit link karena perusahaan asuransi juga mencari untung. kalau biayanya sama saja dengan mengambil terpisah, maka pasti rugi :) kasarnya, mana ada calo yang jual tiket kereta api seharga harga resminya, kalau gitu dia pasti rugi.
* jika mengambil terpisah, setoran premi setelah tahun ke-5 harus melewati kocek anda. sedangkan pada unit link akan diurus oleh perusahaan asuransi.

sekarang tinggal dipikirkan saja apakah layanan yang dilakukan produk unit link ini sepadan dengan apa yang kita keluarkan.

Besarnya biaya tergantung dari masing2 asuransi. Setahu saya pada beberapa perusahaan asuransi, besarnya biaya yang diambil dicantumkan didalam ilustrasi. Kalo tidak ada calon nasabah dapat menanyakan kpd agen atau perusahaan asuransinya berapa biaya yang dikenakan.

perusahaan asuransi memang memberi tahu berapa proporsi biaya akuisisi, tapi calon nasabah tidak diberi tahu berapa besar pastinya dalam rupiah. kalau calon nasabah mau tahu, dia harus hitung sendiri secara manual.

Dan perlu diketahui juga bahwa premi asuransi yang dibayarkan itu pada tahun ke 2 95% dari premi asuransi akan dialokasikan sebagai investasi (jadi pada tahun ke2 95% dari 1,5 jt akan dialokasikan utk investasi disamping premi investasi itu sendiri).

there’s no free lunch. perusahaan asuransi juga perlu bayar karyawannya, memenuhi kewajibannya dan untuk cari untung. seandainya dari 95% premi asuransi dialokasikan sebagai investasi, maka harusnya ada pos lain yang digunakan perusahaan asuransi untuk membayar biaya yang perlu dikeluarkan. perkiraan saya mereka makan sebagian dari return investasi anda untuk keperluan bayar reasuransi.

Bandingkan apabila si agen menjual asuransi konvensional dengan premi 5jt maka komisi yang didapat 5jt x 30% (tahun pertama dan ke2) (tergantung perusahaan asuransi) atau total Rp 1,5jt. Jadi kata siapa komisi agen lebih besar di unit link

biaya akuisisi berbanding lurus dengan agresivitas pemasaran. makin agresif, maka biaya akuisisi makin tinggi. dan biasanya yang dipasarkan secara agresif adalah unit link. jarang asuransi term life atau asuransi kesehatan murni dipasarkan secara agresif. contohnya, berapa banyak sih agen prudential yang memasarkan pruhealth dibanding prulink? :)

kemudian, bisnis asuransi adalah bisnis yang kompetitif. kalau asuransi murni dijual dengan mark up 30%, maka gak akan laku, konsumen bisa kabur ke produk lain. beda kalau unit link, biaya akuisisi ini bisa diselipkan sehingga tidak mudah bagi konsumen untuk mengetahui jumlah pastinya atau bahkan membandingkan produk unit link dengan produk unit link lain. selain itu sedikit calon nasabah yang ‘perhitungan’ seperti saya ini :).

kalau mau murah, nasabah yang datang ke kantor asuransi, jangan mau didatangi oleh agen asuransi.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 23 July 2007 at 19:40
*
103

Perdebatan asuransi murni, unit link dan reksadana gak abis2, terserah pilihan masing2. Yang pasti proteksi resiko hidup yang mungkin timbul, investasilah untuk memupuk kemapanan finansial.
Buat yg gak mau repot, unit link juga ga jelek kok untuk diikutin. Maka berbuatlah, take action now…
Gravatar
o Comment by wiera
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Opera Opera 9.21 on Windows Windows XP
o 25 July 2007 at 19:59
*
104

Waduh pembahasan sampe masalah komisi segala, gak etis loh om2x.. Masalah rejeki di tangan Tuhan, mau komisi berapa persen itu semua tergantung dari sistem masing2x perusahaan.
Tp 1 hal yg menarik, pembahasan disini adalah masalah EDUKASI ke masy mengenai pentingnya insurance. Dengan adanya unitlink masy di permudah (insurance n inves). Bukannya itu yg disuka masyarakat indo = SEGALA YG INSTAN ? Semua dikembalikan ke masing2x pribadi seh.. Cherzzzz.
Gravatar
o Comment by Tarwin
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.5 on Windows Windows 2000
o 26 July 2007 at 16:41
*
105

#104:

Waduh pembahasan sampe masalah komisi segala, gak etis loh om2x.. Masalah rejeki di tangan Tuhan, mau komisi berapa persen itu semua tergantung dari sistem masing2x perusahaan.

yang gak etis itu yang gak mau kasih tahu berapa komisinya, atau bahkan ‘menyembunyikan’ jumlah komisi ke dalam angka-angka yang disajikan.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 26 July 2007 at 17:59
*
106

Beli auransi unitlink ato harus beli asuransi tradisional+reksadana????

Jawabannya relatif kawan :
Tergantung perusahaan asuransi dan reksadana yg anda pilih!!
memang benar , bahwa utk sebagian kasus, beli asuransi murni dan reksadana secara terpisah lebih menguntungkan..!!! dimana hasil invest bisa lebih tinggi dan proteksi asuransi yg lebih oke!
tapi lihat dulu perusahaan asuransi mana, dan reksadana mana yg anda pilih???
Saat ini, banyak sekali perusahaan asuransi yg menjual unitlink.Karena tuntutan persaingan,ikut2an trend,mengejar momentum(kesempatan),banyak sekali produk2 unitlink TANGGUNG!!!!
contoh :
1.Suatu produk unitlink xxx, dari perusahaan xxx, menawarkan produk utk laki2 30 thn, premi 20jt/thn.
dapat proteksi meninggal hanya 100jt(500%premi tahunan).proteksi kesehatan,kecelakaan,dsb bisa ditambah dgn rider2,tentunya juga tambahan biaya..
trus ada penalti pada saat penarikan thn pertama 95%,thn ke-2 80%, dst..bukankah lebih baik beli asuransi tradisional saja, premi cukup 3jt sudah dapat proteksi meninggal 100jt,kecelakaan 100jt, sakit, dsb lumayan komplit…sisa 17 juta beli reksadana saham misalnya(reksadana penalti hanya 1-2% th1,thn 2 dst 0%)…pada tahun ke -10,15,20, ato kapanpun hasil investasinya bakal lebih unggul dari produk unitlink xxx di atas!!dengan asumsi sama2 memberikan return 17% tiap tahun..
jadi unitlink tanggung khan???
2.Produk yg tanggung juga,dari perusahaan xxy..misal ambil contoh di atas premi 20jt/thn.dapat proteksi 600jt,sakit kritis 300jt,accident 600jt,santunan rawat inap 500ribu/hari dsb..komplit!! tapi jikalau pengelola dana(fund manager)-nya pihak ke-3 seperti : schroders,danareksa,fortis,dll..!!percuma…
mending beli asuransi whole life dengan manfaat di atas, sisanya beli reksadana lgsung ke perusahaan reksadana di atas!!!hasilnya lebih menguntungkan!!!
kenapa???karena jika anda beli unitlink ini,anda kena dobel charge!!!ga percaya???biar bagaiamanapun agen anda menjelaskan tidak ada dobel cas, tetap kena dobel biaya!!!buktinya :
Contoh
kita beli unitlink xxy,fund manager schroders,jenis dana investasi saham,ato bahasa lainnya xxyequity fund ato apalah….
anda akan liat, perbedaan/selisih NAB unitlink xxy,dengan NAB schroders dana saham(prestasi plus) pada hari yg sama..
misal ; NAB schroders 8000/unit, NAB unitlink xxy itu bisa 9000/unit pada hari yg sama
bisa anda simpulkan bahwa unitlink xxy tsb charge anda Rp1000/ unit kan???besar kan untungnya bagi mereka???bagi kita yahh… dikebiri
apalagi kalo ada unitlink yg pake sistem bid-offer(jual-beli) price!!!yg biasa selisih harga jual dan beli 5%.lebih baik anda beli yg pake single price saja…

jadi unitlink emank ga bagus dunk????eiit… tunggu dulu….
kita harus cermati dulu, perusahaannya, track recordnya, transparansinya, dsbnya…
kita bisa beli asuransi unitlink yg bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita, yg fleksibel,yg biaya murah, pake fund manager sendiri, sehingga hasil investasi lebih optimal
Contoh :
1. Asuransi PR*****, misal laki2 usia 30thn mau proteksi 100juta,sakit kritis 50juta, accident 100juta, cukup dengan premi 3juta/thn saja(premi ga hilang,karena akan kembali dalam 2th,dst,jika asuarsni tradisional pengembalian premi di atas th 3 ato 5 ke atas) ..sisanya 17juta , saya bisa Top-up ke polis tersebut, itu sama saja dengan saya beli reksadana..dan hasil invest ga kalah dengan reksadana papan atas di indonesia..(Produk tersebut, hasil invest utk saham dalam setahun ytd juli’06- juli’07 81% )..
oya, perusahaan tsb merupakan perusahaan reksadana juga…dengan nama Prudential asset management ASIA, berpusat di HK,dan S’pore..untuk anda ketahui, reksadan a pertama di eropa, adalah M&Ginvestment plc(di asia memakai nama Prudential asset mgnt asia), dan merupakan salah satu pemain dominan di Inggris dan Eropa..adalah bagian dari Prudential plc..
dengan memakai fund manager sendiri, hasil investasi akan lebih optimal..
oya, di indonesia ada beberapa lagi asuransi unitlink yg memakai fund manager sendiri..yaitu :
A.J Manulife, AXA finacial(bukan AXA mandiri, AXA mandiri memakai schroders dan danareksa)).
demikian pembahasan saya, semoga bisa dijadikan bahan acuan dan pembelajaran.thank you
Gravatar
o Comment by DAnny
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 27 July 2007 at 00:46
*
107

#106:

prudential??

* ‘biaya akuisisi’ (alias komisi agen) terlalu besar. perhitungan saya investasi baru akan lancar setelah masuk tahun 2-3
* 3 juta per tahun untuk pertanggungan seperti itu gak murah2 amat. di 30 tahun, term life 100 juta pasarannya Rp 300-400 ribuan, termasuk kecelakaan. total termasuk kesehatan lengkap bisa di bawah 2 juta/tahun.
* komisi top up 5%, reksadana sendiri paling gede cuma 2%-an
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 27 July 2007 at 02:06
*
108

wah pak pri emang top bgt deh dalam ulasannya.. semuanya bener dan netral:) saya setuju ama semua yg pak pri bilang.. saya bulan maret kmrn ditawarin P..link yg PA*+.. awal2 dijelasin tertarik jg sih.. tp untung saya minta waktu untuk pelajarin dulu.. dan tnyt stlh 2 hari mempelajari proposal2 yg ada,wah saya bnr2 kaget dgn struktur biaya yg ada.. 8-| mulai dr biaya akuisisi dan top up 5%,biaya adm per bulan,management fee pengelolaan dana,dll.. pas tanya ada ga yg investasi doank,ditawarin PI*.. karena memang saya tertarik utk mulai investasi ke saham (tp blm paham utk maen sendiri) dan belum kenal reksadana,akhirnya ikutan.. biayanya besar bgt.. msk 10 juta,masuknya cuma 9,175 juta.. udah kepotong 8.25%!:-w tp gr2 unit link jg sih saya jd kenal reksadana:D

menurut saya lebih baik beli asuransi+reksadana terpisah krn kita jd tau biaya2 yg harus kita keluarkan.. beda ama unit link di mana biaya2 tersebut dibungkus rapi sehingga pada awalnya byk nasabah yg blm tau dan rata2 tau setelah ikut sekitar 2-3 tahun dan kebanyakan pada nyesel sih udah join..

untuk tambahan dr ulasan pak pri, harga unit yg dipublish oleh unit link,itu belum dipotong biaya management loh.. beda ama reksadana yg semua udah include di NAB.. sdkn unit link,fee ini dipotong dr unit yg ada(lama2 unitnya habis donk).bayangkan aja, reksadana yg udah dipotong management fee dibanding perkembangan unit link yg blm dipotong management fee,tnyt msh lbh besar reksadana hasilnya..:o saya bisa tau,krn saat ini saya ada produk pr*link yg PI*(murni investasi,asuransi jiwa cuma formalitas) dan reksadana. blm lg dilihat dr fee setiap kita top up,dipotong 5%,sdkn rata2 reksadana saham sekitar 1-2%,malah ada yg 0%.

n satu lg,perlu tidaknya asuransi jiwa,sebenernya dilihat lg ke orangnya sendiri. kalo msh single knp harus masuk asuransi jiwa? asuransi jiwa berguna bagi orang2 yang udah ada tanggungan,jadi kalo ada apa2,yg ditinggalkan (anak dan istri) bisa menggunakan uang pertanggungan tsb..

jgn lgsg tergiur dgn: ’setelah tahun ke… ga usah bayar premi lg’.. kalo pr*link sih stlh di atas 10 tahun. ini sbnrnya diambil dr unit investasi kita.. bayangin,kalo perkembangan investasi bagus,kalo ngga,ya kita tetep harus bayar preminya krn dr investasi tidak mencukupi. apalagi kalo pas ditarik unitnya utk bayar premi,tnyt pasar saham lg anjlok yg tentunya pengaruh thdp harga unit.. dan ini tentunya merugikan nasabah karena kita ga bisa mengontrol hal ini..

PS. kayanya yg msh bela2in unit link,agen2 dr asuransi nih..

terakhir,bagi yg msh tertarik masuk unit link,tanya yg detail mengenai fee2 yg ada dan minta waktu pelajarin proposal yg diberikan. tanya2 ke orang lain yg paham ttg unit link,tapi netral (kalo ke agen,pasti ada pertimbangan komisi).. kalo dah masuk dan nyesel,kita udah terlanjur rugi. untung saya cuma masuk yg PI*,di mana gak ada keterikatan untuk invest secara regular.. dr awal masuk,ga pernah nambah2,malah nambahnya ke reksadana.. sbnrnya ada rencana tarik,krn msh basus return dr reksadna tp kena pajak:( jd msh bingung sih,ada saran ga dr pak pri?:)>- krn bagi orang netral,yg udah paham pasti ga mau ama unit link n yg blm paham,pasti msh nanya2.. ;)
Gravatar
o Comment by lee_us
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.5 on Windows Windows XP
o 27 July 2007 at 06:42
*
109

sori,paragraf akhir hrsnya kaya gini,ngaco ngetiknya.. hehe

————————————————————–
terakhir,bagi yg msh tertarik masuk unit link,tanya yg detail mengenai fee2 yg ada dan minta waktu pelajarin proposal yg diberikan. tanya2 ke orang lain yg paham ttg unit link,tapi netral (kalo ke agen,pasti ada pertimbangan komisi).. kalo dah masuk dan nyesel,kita udah terlanjur rugi. untung saya cuma masuk yg PI*,di mana gak ada keterikatan untuk invest secara regular.. dr awal masuk,ga pernah nambah2,malah nambahnya ke reksadana.. sbnrnya ada rencana tarik,krn msh basus return dr reksadna tp kena pajak:( jd msh bingung sih,ada saran ga dr pak pri?:)>-

PS. kayanya yg msh bela2in unit link,agen2 dr asuransi nih.krn bagi orang netral,yg udah paham pasti ga mau ama unit link n yg blm paham,pasti msh nanya2.. ;)
Gravatar
o Comment by lee_us
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.5 on Windows Windows XP
o 27 July 2007 at 06:48
*
110

Emank ada kok asuransi term yg 300-400ribu bisa dpt proteksi 100jt..tapi itu adalah asuransi uang hangus..kalo ga terjadi apa2, ya duitnya hangus tak bersisa..bukankah lebih baik beli asuransi whole life atau endownment saja…kalo ga terjadi apa2 ya uang yg kita bayar kembali..100%, contoh,beli asuransi whole life 100jt, premi 3jutaan setahun, bayar 30 th.ga mati ampe 30 tahun ya terima 100juta..
kalo jenis endownment, bayar 3juta/thn dapat proteksi 70jt misalnya, bayar 30 thn, dapat pengembalian premi 250-300% pada akhir kontrak….
saya bukan mengatakan bahwa beli unit link lebih bagus dari reksadana, tetapi jika anda beli asuransi tradisional + reksadana terpisah, bukankah lebih baik beli unitlink dipisah lagi ama reksadana ato unitlink saja…
karena, unit link dengan premi 3juta/th jika dibandingkan dgn asuransi endownment(tradisional), sama2 bayar 30 tahun, unitlink bisa memberikan return lebih banyak 3-4 kali lipat dari return asuransi endownment….
kesimpulannya :

1. asuransi unit link VS reksadana : unitlink lebih unggul dari segi proteksi,reksadana unggul di investasi.
2. asuransi unit link VS Asuransi tradisional(whole life,endownment) :
unitlink unggul dalam proteksi dan hasil investasi dibanding tradisional, kecuali unitlink yg tanggung,asuransi tradisional unggul di proteksi unit link di investasi…
3. Unitlink+ unitlink invest(top up) VS Asuransi tradisional + reksadana :
dalam hal proteksi unitlink bisa lebih unggul, investasi bisa imbang jika hasil investasinya bagus…
4. Unitlink + reksadana Vs Asuransi tradisional + reksadana :
Unitlink dan reksadana bisa unggul dalam semua hal bila dibanding dgn asuransi tardisional plus rekasadana…dalam jangka pendek maupun panjang!!!

intinya : don’t put all of ur golden egg in a basket!!
Gravatar
o Comment by Danny
o Posted from Singapore Singapore Singapore
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 27 July 2007 at 23:05
*
111

#110:

Emank ada kok asuransi term yg 300-400ribu bisa dpt proteksi 100jt..tapi itu adalah asuransi uang hangus..kalo ga terjadi apa2, ya duitnya hangus tak bersisa

lagi-lagi, harus diperhitungkan juga time value of money. dengan jumlah uang yang sama, uang di awal term nilainya lebih tinggi daripada di akhir term. di unit link atau endowment atau whole life sebenarnya duitnya juga ‘hangus’. hanya saja banyak nasabah yang tidak menyadarinya (termasuk anda). perusahaan asuransi juga butuh bayar pegawainya, memenuhi kewajibannya dan cari untung.

bukankah lebih baik beli asuransi whole life atau endownment saja…kalo ga terjadi apa2 ya uang yg kita bayar kembali..100%, contoh,beli asuransi whole life 100jt, premi 3jutaan setahun, bayar 30 th.ga mati ampe 30 tahun ya terima 100juta..

apa gunanya proteksi sebesar 100 juta kalau nilai investasi yang ditanam di reksadana sudah jauh lebih besar daripada itu?

contoh skenario alternatif: 3 juta/tahun tidak kita masukin ke whole life, tapi 300rb/tahun masuk ke term life, dan sisanya ke reksadana. dengan asumsi pertumbuhan investasi sebesar 10%, maka di akhir term nilai investasi kita sudah mencapai 444 juta. sedangkan dengan whole life kita cuma dapat Rp 100 juta.

dan tambahan lagi, term life sebenernya gak perlu diambil seumur hidup, tapi hanya seperlunya saja, misalnya kalau premi/pertanggungan sudah melebihi pertumbuhan investasi atau jumlah investasi sudah jauh di atas jumlah pertanggungan.

kalo jenis endownment, bayar 3juta/thn dapat proteksi 70jt misalnya, bayar 30 thn, dapat pengembalian premi 250-300% pada akhir kontrak….

return 300% setelah 30 tahun itu bisa dicapai hanya dengan pertumbuhan investasi sebesar 6.75%. kurang lebih sama dengan bunga deposito :)

tetapi jika anda beli asuransi tradisional + reksadana terpisah, bukankah lebih baik beli unitlink dipisah lagi ama reksadana ato unitlink saja… karena, unit link dengan premi 3juta/th jika dibandingkan dgn asuransi endownment(tradisional), sama2 bayar 30 tahun, unitlink bisa memberikan return lebih banyak 3-4 kali lipat dari return asuransi endownment….

anda di sini gak memperhitungkan time value of money. 4x lipat asuransi endowment == 4×300% sesuai contoh anda di atas = 1200%. dalam 30 tahun, ini bisa dicapai dengan pertumbuhan investasi 8.6%. kurang lebih di bawah reksadana pendapatan tetap sekarang2.

mungkin anda gak ngerti apa yang dilakukan unit link. unit link itu mengambil uang anda, kemudian menyetorkan sebagian dana tersebut sebagai premi asuransi, dan sisanya dimasukkan ke reksadana. kalau kita masukin asuransi sendiri dan reksadana sendiri pasti lebih murah dong, karena asuransi unit link juga butuh dana untuk bayar karyawannya.

4. Unitlink + reksadana Vs Asuransi tradisional + reksadana :
Unitlink dan reksadana bisa unggul dalam semua hal bila dibanding dgn asuransi tardisional plus rekasadana…dalam jangka pendek maupun panjang!!!

hihihi, ngapain juga ikutan unit link kalo udah ikutan reksadana. sebenarnya sebagian dana yang disetor ke unit link masuk reksadana juga, tetapi dengan batasan yang jauh lebih ketat daripada reksadana tersendiri :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 28 July 2007 at 07:18
*
112

Mau ikutan negh…

membandingkan unit linked ama reksadana ga benar juga tuh…la wong 2 produk yang berbeda kok di bandingkan..^_^..kenapa?…satu asuransi plus investasi (alias reksadana), satunya lagi reksadana murni ..ga apple to apple dong…mana yang lebih bagus? ya tergantung kebutuhan kita dong…mungkin si A butuhnya emang produk unit linked sedang si B malah reksadana..yang terpenting adalah kita tau apa yang kita beli dan ingat, belikah produk yang kita butuhkan….

Unit linked ga sejelek yang disampaikan di atas itu kok….Kalo ada orang yang tujuannya investasi trus beli unit linked, jadi jelek lah itu produk..la wong beli ga sesuai kebutuhan gimana ga jelek.hehhe…
Trus bagusnya apa tuh produk? bagusnya adalah orang yang benar2 butuh proteksi, orang tersebut bisa menggabungkan bermacam-macam jenis perlindungan tambahan yang disediakan oleh unit linked tanpa harus buka account asuransi baru. Produk dasar unit linked bisa ditambahkan asuransi kecelakaan dan cacat, penyakit kritis, asauransi kesehatan dan ada fasilitas pengalihan pembayaran premi ke perusahaan asuransi jiwa….

Rumus produk unit linked :

= Asuransi Dasar + Asuransi Tambahan (jika dibutuhkan) + Investrasi (biasanya reksadana)

Asuransi dasarnya : YRT (Yearly Reneweble Term)
asuransi tambahan dengan pilihan : (ADB/kecelakaan, ADDB/cacat dan kecelakaan, PTD/cacat total, CI/Penyakit Kritis, Health (Rumah Sakit), PW/Pembebesan Premi dan PPW/Pembebasan Premi bagi Pembayar

Asuransi tambahan jarang dijumpai dijual secara berdiri sendiri. Kalopun ada, biasaya produk direct marketing or telemarketing yang biasanya ratenya lebih mahal.(ini bocoran dari gue negh heheheh)………

Asuransi tambahan ini in and out..maksudnya tahun ini gue ikutan bersama asuransi dasar unit linked gue, tahun depan bisa gue hapus atau cabut…dan tahun depan depannya lagi ikutan lagi…jadi bisa disesuaikan dengan kebutuhan…..Karena kontraknya setahun-setahun yang bisa diperpanjang atau tidak

Nah bagaimana kalo saya beli asuransi dan investasi terpisah…bisa….kalo mau bikin seperti ini, untuk asuransinya belilah asuransi YRT saja….tapi setahu saya, rate YRT yang dijual individual sangat mahal dibandingkan YRT yang ada di produk unit linked..tidak percaya? hubungi saya..ntar saya liatin deh hehehehhe…

bagaimana kalo saya beli jenis asuransi yang lain? Saya bisa pastikan Anda akan mengelurkan uang yang tidak sedikit…Kenapa? selain YRT yang notabene adalah pure insurance, selebihnya adalah produk asuransi yang menjanjikan nilai tunai. Kalo ada nilai tunai, pasti ada bagian premi yang diinves dan tentu saja duit itu duit anda sendiri yang disisihkan oleh perusahaan asuransi untuk diinvestasikan dengan bunga tertentu sehingga aps jatuh tempo dikembalikan ke anda lagi…dan bunganya tentu aja kecil heheheh…

Nah susahnya, kalo saya mau beli produk asuransi tambahan seperti penyakit kritis or asuransi kesehatan saya harus buka account lagi dong?Iya kalo ada ya ga pa2….kalo adapun belon tentu rate yang murah…Ingat, biasanya asuransi tambahan itu ga ada yang dijual tanpa asuransi dasarnya…Kalo asuransi kesehatan seh banyak, tapi sering kali rate nya ga kompetitive (kecuali asuransi kesehatan group)…Ga percaya? survey aja sendiri heheh…

so sebenarnya kembali ke kebutuhan kok….jelek buat kita, ya belon tentu jelek buat orang lain…bagus buat orang lain, belon tentu juga bagus buat kita..simpel khan? heheh
Gravatar
o Comment by donni
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows 2000
o 2 August 2007 at 15:53
*
113

#112:

membandingkan unit linked ama reksadana ga benar juga tuh…la wong 2 produk yang berbeda kok di bandingkan..^_^..kenapa?…satu asuransi plus investasi (alias reksadana), satunya lagi reksadana murni ..ga apple to apple dong…mana yang lebih bagus? ya tergantung kebutuhan kita dong…mungkin si A butuhnya emang produk unit linked sedang si B malah reksadana..yang terpenting adalah kita tau apa yang kita beli dan ingat, belikah produk yang kita butuhkan….

di sini saya membandingkan porsi investasi dari reksadana dan unit link; tapi selain itu juga membandingkan unit link dan reksadana+asuransi. jelas apple to apple kalau membandingkannya seperti itu :). apalagi kalau agen asuransi memasarkan unit link sebagai instrumen investasi :).

Trus bagusnya apa tuh produk? bagusnya adalah orang yang benar2 butuh proteksi, orang tersebut bisa menggabungkan bermacam-macam jenis perlindungan tambahan yang disediakan oleh unit linked tanpa harus buka account asuransi baru. Produk dasar unit linked bisa ditambahkan asuransi kecelakaan dan cacat, penyakit kritis, asauransi kesehatan dan ada fasilitas pengalihan pembayaran premi ke perusahaan asuransi jiwa….

dan jeleknya saya gak bisa hilangkan porsi investasinya kalau saya gak minat untuk mengambil porsi investasinya.

Rumus produk unit linked :
= Asuransi Dasar + Asuransi Tambahan (jika dibutuhkan) + Investrasi (biasanya reksadana)

ada yang kurang:

unit linked = Asuransi Dasar + Asuransi Tambahan (jika dibutuhkan) + Investrasi (biasanya reksadana) + komisi untuk agen :)

bagus tidaknya unit link menurut saya terutama ditentukan dari yang terakhir ini :). semakin kecil semakin bagus. sedangkan porsi yang lainnya sebenarnya bisa diambil terpisah.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 2 August 2007 at 16:42
*
114

wahhh333….mas priyadi ada dendam apa sama unit link sampe segitunya??
saya setuju ama mas donni, bagus buat kita, belom tentu bagus buat org lain, jelek buat kita, belom tentu jelek bua orang laen…

o ya, jika saya beli asuransi tradisional+ reksadana, bukankah asuransi tradisional juga ada kena komisi buat agen?????dan biasanya juga 30% atau lebih…
lagipula, asuransi tradisional itu biayanya lebih mahal dari unit link manapun..apalgi beli asuransi tradisional yg ada tabungannya, biayanya akan lebih mahal lagi….
asuransi unitlink sebenaranya bisa loh dihilangin investasinya, hanya ambil proteksi saja…tapi tetap akan ada pengembalian premi,dan pasti lebih tinggi hasilnya dari asuransi endownment(asuransi tradisional+tabungan)…saya sudah buktikan…
di negara maju seperti singapore, negara2 eropa, dsb,asuransi tradisonal yg di jual hanya YRT,travel insurance,health insurance, kalo yg ada element tabungannya sudah sangat jarang orang mau beli. ga percaya? liat aja ke singapore yg dekat aja!!!
mereka kalo beli asuransi yg ada tabungannya beli unit link, lalu kombinasi dengan reksadana, atau unit trust secara terpisah…
kalo beli asuransi tradisonal+ reksadana terpisah, hasilnya kurang optimal, gara2 asuransi tradisional..
lain halnya jika beli unitlink, hasil lebih ok, ato unitlink + reksadana secara terpisah…
karena untuk beli proteksi,unitlink biayanya akan jauh33 lebih murah dari asuransi tradisional….
Gravatar
o Comment by Danny
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 4 August 2007 at 01:38
*
115

#114:

mas priyadi ada dendam apa sama unit link sampe segitunya??

wah saya sih gak dendam, cuma sebagai konsumen kan berhak untuk milih2 opsi yang terbaik :).

o ya, jika saya beli asuransi tradisional+ reksadana, bukankah asuransi tradisional juga ada kena komisi buat agen?????dan biasanya juga 30% atau lebih…

mana ada term life dijual lewat agen? :) kalo ada coba agennya hubungi saya, siapa tau tertarik :)

lagipula, asuransi tradisional itu biayanya lebih mahal dari unit link manapun..apalgi beli asuransi tradisional yg ada tabungannya, biayanya akan lebih mahal lagi….

ndak mungkin term life lebih mahal daripada unit link. kalo ada unit link yang lebih murah daripada term life saya mau tau dong :)

asuransi unitlink sebenaranya bisa loh dihilangin investasinya, hanya ambil proteksi saja…tapi tetap akan ada pengembalian premi,dan pasti lebih tinggi hasilnya dari asuransi endownment(asuransi tradisional+tabungan)…saya sudah buktikan…

jelas, dibandinginnya sama endowment :). coba bandingin sama term life + reksadana. kebanyakan unit link gak bisa dihilangkan investasinya karena yang kita bayar tiap bulan adalah premi maksimum seumur hidup, sedangkan premi efektif bukan tersebut pasti lebih kecil. dan selisihnya masuk ke porsi investasi.

selain itu, kalo ada yang namanya pengembalian premi, artinya pasti ada porsi investasi.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 4 August 2007 at 21:51
*
116

emank kita sebagi konsumen punya hak untuk memilih yg terbaik..
makanya saya beli unit link, dan ada sedikit reksadana di fortis dan prudential unit trust di singapore…namanya Pru Dragon peacock fund

term life juga ada dijual sama agen…bisa orang atau badan usaha seperti bank.
contoh :
# melalui agen orang itu ada di pru, aig,axa life, sequis,allianz, dsb..tanya aja deh…kalo ga percaya.
# melalui agen badan usaha ato bank, misal produk cigna di bank niaga ato permata.
kalo lewat bankpun, komisi yg dapet ya agen penjual yaitu bank, makanya ada namanya fee based income pada bank…

premi term life lebih tinggi dari unit link, ga percaya???
contoh :
saya usia 25th mau UP 300 juta, di term life 150-300ribu perbulan..
kalo unit link, preminya hanya 50-60ribu perbulan…
ga percaya???liat aja di proposal unit link prudential, sequis ato CAR misalnya..liat aja biayanya untuk UP yg sama jika dibanding dengan term life…

pak Priyadi, term life itu asuransi yg diperuntukkan untuk orang yg baru mulai kerja alias penghasilan terbatas, tapi ingin asuransi…
di prudential, saya juga punya namanya prulife starter, 3 thn yg lalu sudah saya tutup….saya tambah anggaran premi prulife starter tersebut ke prulink saya ,sehingga UP lebih besar dari prulife+Prulink terpisah…
jadi mending tambah ke prulink aja biar UP saya lebih gede…
gitu mas
Gravatar
o Comment by Danny
o Posted from Singapore Singapore Singapore
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.0 on Windows Windows XP
o 4 August 2007 at 23:26
*
117

#116:

term life juga ada dijual sama agen…bisa orang atau badan usaha seperti bank. contoh :
# melalui agen orang itu ada di pru, aig,axa life, sequis,allianz, dsb..tanya aja deh…kalo ga percaya.
# melalui agen badan usaha ato bank, misal produk cigna di bank niaga ato permata. kalo lewat bankpun, komisi yg dapet ya agen penjual yaitu bank, makanya ada namanya fee based income pada bank…

kalau bancassurance sih beda, dia main volume, jadi komisi relatif kecil dan harga masih tetap bisa bersaing. kalau agen orang, nah ini, mungkin emang ada yang agen orang yang bisa nawarin, tapi komisi unit link lebih tinggi. selama ini berhubungan dengan beberapa agen asuransi, tidak ada satupun yang pertama ketemu langsung nawarin YRT/term. biasanya harus minta secara khusus dan itupun masih dibujuk2 ikutan unit linknya :)

saya usia 25th mau UP 300 juta, di term life 150-300ribu perbulan.. kalo unit link, preminya hanya 50-60ribu perbulan…

wuihh mahal amat. saya aja UP 500 jt @31 tahun gak nyampe setengahnya :).

term life itu asuransi yg diperuntukkan untuk orang yg baru mulai kerja alias penghasilan terbatas, tapi ingin asuransi

ini jelas salah, karena di unit link, basic unitnya juga term life atau lebih tepatnya YRT. unit link basic = YRT + reksadana. yang dilakukan oleh unit link dapat dengan mudah kita dapatkan dengan ikut YRT/term life + reksadana, dan ini dilakukan tanpa harus membayar biaya akuisisi yang mahal.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 5 August 2007 at 01:09
*
118

Asuransi jiwa sendiri pada dasarnya ada 3 kategori utama : 1. term insurance 2. whole life 3. endowment…
Nah, jenis unit link ini merupakan pengembangan dari produk endowment..Bisa dilihat di http://pojokasuransi.com
Gravatar
o Comment by Fajar Nindyo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0 on Windows Windows XP
o 6 August 2007 at 13:12
*
119

wahh pak pri udah nguasain bgt nih.. :d setuju ama pak priyadi, saya pas ditawarin prulink,iseng2 nanya ada ga asuransi jiwa murni(bukan unit link),kata agennya udah ga dijual,pdhl di webnya msh ada.. ga tau sih bnr apa ngga.. :-w udah jelas bgt,agen dapet komisi dr unit link pasti lbh besar dibanding kalo asuransi biasa.. kalo di prulink,yg PAA+ yg plg menguntungkan utk agen, karena setornya hrs rutin,yg berarti komisi jg rutin dapetnya.. :)>- pas nanya yg PIA aja,si agen msh tetep nawar2in PAA+ trus,utg saya ga mau.. ;)
Gravatar
o Comment by lee_us
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 6 August 2007 at 17:09
*
120

Hi Semua,

Ini sedikit mengenai Unit Link

Unit link adalah produk asuransi jiwa yang dirancang khusus bagi masyarakat yang menginginkan proteksi sekaligus dapat berinvestasi.
Ada 2 jenis unit link :
1. Single Premium
2. Reguler Premium

Single Premium
Premi yang dibayarkan hanya sekali seumur hidup. Biasanya minimal Rp 10,000,000. 5% dari Premi yang dibayarkan akan diambil sebagai biaya dan 95% untuk di investasikan. Biaya yang diambil biasanya meliputi biaya asuransi dan administrasi. Unit link jenis ini biasanya ditujukan bagi nasabah yang menginginkan porsi investasi yg lebih besar daripada proteksinya.

Reguler Premium
Premi yang dibayarkan lebih dari satu kali. Minimal premi tergantung pada masing2 perusahaan asuransi. Premi yang dibayarkan akan dialokasikan:
1. Premi Asuransi Berkala/PAB (biasanya ada minimala premi)
2. Premi Investasi/PI (tidak ada minimal premi).

Pada tahun pertama 100% dari PAB akan diambil sebagai biaya. Sedang 5% dari PI mulai tahun 1 akan diambil sebagai biaya dan 95% diinvestasikan. Sedangkan pada tahun ke 2 dst 95% dari PAB akan diinvestasikan dan 5%nya dianggap biaya.

Contoh:
Premi yang kita setorkan 3 juta/tahun
Premi Asuransi Berkala : Rp 1,5 jt
Premi Investasi : Rp 1,5 Jt.

Tahun Pertama 100 % dari Premi Asuransi Berkala akan hangus tidak ada yg diinvestasikan. Sedang 95% dari PI akan di investasikan. Sedangkan pada tahun ke 2 dst 95% dari PAB akan diinvestasikan.

Biaya yang diambil untuk unit link jenis ini biasanya adalah biaya asuransi, biaya akuisisi, dan biaya administrasi. Biaya asuransi adalah biaya dr asuransi yg kita ambil. Biaya akuisisi adalah biaya untuk untuk menjual produk ini (termasuk didalamnya adalah komisi agen). Besarnya masing2 biaya dapat dilihat didalahm ilustrasi. Sebagai Contoh saya ambilkan dari ilustrasi salah satu perusahaan asuransi jiwa:
1. Biaya Asuransi
a. Asuransi Dasar (Asuransi Jiwa) : X Rupiah (tergantung perusahaan asuransi)
b. Asuransi Tambahan (Jika Ada) : Y Rupiah
2. Biaya Akuisisi misal saya ambilkan contoh dari salah satu perusahaan asuransi jiwa:
Tahun 1 : 0% dari PAB
Tahun 2 : X% dari PAB
Tahun 3 : Y% dari PAB
Tahun 4 : Z% dari PAB
ahun 5 dst : 0% dar PAB
3. Biaya Adiministrasi : Rp X

Besarnya biaya ini akan bervariasi tergantung dari masing2 perusahaan asuransi jiwa. Biaya ini harus disebut dalam ilustrasi (Nilainya).

Bagaimana jika dibandingkan dengan reksadana?
Dari segi hasil bila dikelola oleh satu fund manager dengan portfolio yang sama maka reksadana menghasilkan nilai yang lebih besar karena tidak ada biaya asuransi dan akuisisi. kelebihan Unit link adalah ada unsur proteksinya.

Bagaimana jika dibandingkan denga asuransi tradisional?
1. Dengan Term Life
Term Life merupakan produk termurah dari asuransi jiwa. Biasanya ditujukan bagi masyarakat yang memerlukan proteksi jangka pendek. Kalo Jangka Panjang Lebih baik membeli unit link atau whole life

2. Dengan Whole life atau endowment (mis Asuransi Pendidikan atau Dana Pensiun)
Nilai investasi/pengembalian premi unit link lebih tinggi namun memiliki resiko yang lebih tingi pula. Apabila nasabah menginginkan produk dengan nilai yang lebih pasti (tidak dipengaruhi oleh keadaan ekonomi) produk tradisional lebih cocok.

Buat Mas Pri,

Kalo yang anda maksud biaya akuisisi adalah komisi agen. Produk tradisional memberikan komisi buat agen yang lebih tinggi dibanding unit link. Sebagai Contoh sebuah produk whole life bisa memberikan komisi hingga 30% dari premi yg dibayarkan untuk tahun ke 1 dan ke 2 (tahun berikutnya hingga tahun ke 5 biasaya turun dibawah 5%, biasaya 2% an). Sedang unit link sistem komisinya adalah:
1. Single Premium : berkisar 2%-3% dari premi dibayar
2. Reguler Premium:
a. bisa mencapai 30% dari premi asuransi berkala (tahun 1 & 2. tahun 3 dst turun)
b. 2%-3% dari premi investasi (tahun 1 dst)
Contoh :
Premi whole life : Rp 6,000,000/tahun
komisi agen: Rp 1,800,000 (30% dari Rp 6,000,000)

Premi Unit Link : Rp 6,000,000 dengan alokasi
1. Premi Asuransi Rp 3,000,000
2. Premi Investasi Rp 3,000,000
Komisi Agen : 30% x Rp 3,000,000 = 9,00,000
3% x Rp 3,000,000 = 90,000
Total komisi agen : Rp 9,900,000

Jadi Tidak benar komisi agen di unit link lebih besar. Apalagi nasabah biasanya akan memilih porsi premi investasi yg lebi besar dibanding premi asuransi.

Wass
Gravatar
o Comment by Anton
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 7 August 2007 at 14:08
*
121

#120:

Kalo Jangka Panjang Lebih baik membeli unit link atau whole life

untuk orang yang merencanakan keuangannya, whole life atau unit link sebenarnya sama sekali tidak diperlukan, yang diperlukan justru term life. tapi detailnya nanti saja saya bikin di posting terpisah :)

Sebagai Contoh sebuah produk whole life bisa memberikan komisi hingga 30% dari premi yg dibayarkan untuk tahun ke 1 dan ke 2 (tahun berikutnya hingga tahun ke 5 biasaya turun dibawah 5%, biasaya 2% an).

oh anda bandinginnya dengan whole life. untuk yang invest di reksadana, lebih masuk akal untuk ambil term life, bukan whole life. jadi saya membandingkan dengan term, bukan whole.

kalau di term jika perusahaan memberi harga terlalu tinggi karena komisi agen kegedean, ya tinggal cari perusahaan asuransi lain, gitu aja kok repot :).

kalau di unit link repotnya adalah tidak transparan. sebelum cari perusahaan lain, calon nasabah perlu jungkir balik menghitung overhead yang ada di unit link. kalau ini saya yakin hampir semua calon nasabah tidak akan melakukannya, mereka cuma akan memperhatikan angka2 ilustrasi secara kualitatif tanpa punya perbandingan, karena jika diperbandingkan dengan unit link lain pun akan percuma jika kita tidak tahu parameternya atau mungkin menggunakan asumsi yang berbeda.

Jadi Tidak benar komisi agen di unit link lebih besar. Apalagi nasabah biasanya akan memilih porsi premi investasi yg lebi besar dibanding premi asuransi.

komisi di porsi investasi juga perlu diperhatikan. komisi porsi investasi di unit link jauh lebih besar daripada komisi pembelian reksadana. di unit link rata2 5%, sedangkan di reksadana paling besar pengalaman saya cuma 3%, bahkan ada yang 0%. dan ini masih belum termasuk biaya administrasi kalau kita top up di luar jadwal pada unit link.

jadi ya tetap saja komisi agen di unit link lebih besar daripada jika kita mengambil reksadana dan term secara terpisah.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 7 August 2007 at 15:13
*
122

Jika unit link tidak transparan, reksadana juga tidak tranparan..
contoh nyata, masih ingat th 2005??ketika terjadi redemption(penarikan) besar2an pada reksadana…!!! ketika itu reksadana ancur lebur, terutama Fixed income(obligasi)!!!gara2 apa coba???ya, karena reksadana memakai NAB masa akan datang, bukan masa sekarang, ketika Bapepam dan pemerintah mengeluarkan peraturan harga unit(NAB) harus market to market( NAB saat sekarang),buka NAB akan datang, banyak sekali NAB rata2 perusahaan reksadana terjun bebas!!!!!!!!sehingga nasabah mengalami kerugian yg cukup besar!!!kenapa???karena reksadana tidak fair dalam memaparkan NAB-nya!!!!!salah satu contoh kasus BNI securities…
pada saat itu, sebagian besar unit link NAB-nya tidak terjun bebas seperti reksadana…karena memakai harga NAB market 2 market!!!!

komisi unit link hanya 2-3% saja untuk top-up, ato premi investasinya…bukan 25%!!!kapan duit nasabah berkembang???
kalo anda makan semabarangan silahkan aja, tapi jangan ngomong sembarangan dunk!!!!masa’ komisi untuk investasi unit link sampe 25%??kalo premi asuransi-nya sih iya…
term life itu, hanya untuk jangka pendek!!!
dan premi-nya akan naik sesuai dengan kita yg semakin bertambah, jadi kalo jangka panjang ya makin tinggi preminya!!!!
dan hangus!!!! kaya iuran ato bayar listrik!!!
Gravatar
o Comment by Danny
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 8 August 2007 at 00:24
*
123

#122:

contoh nyata, masih ingat th 2005??ketika terjadi redemption(penarikan) besar2an pada reksadana…!!! ketika itu reksadana ancur lebur, terutama Fixed income(obligasi)!!

ayoo, coba dibuka lagi grafik history harga unit linknya. perhatikan sekitar tahun 2005. hint: sama saja dengan reksadana, unit link fixed income juga ancur lebur :). kalo anda agen PRU coba baca di setiap ilustrasi halaman 6, untuk Rupiah Fixed Income Fund, di tahun 2005 cuma berkembang 0.07% :). di unit link lain juga praktis sama aja. kalo ada unit link yang gak hancur lebur itu hanya karena market capnya kecil sehingga bisa konsentrasi hanya di obligasi2 berkualitas tinggi.

komisi unit link hanya 2-3% saja untuk top-up, ato premi investasinya…bukan 25%!!

lho saya bilang 5%, bukan 25%. 2-3% itu yang masuk ke kantong agen. sedangkan nasabah tetap bayar 5%. kalau di reksadana, paling gede cuma 3%, bahkan ada yang gratis biaya top-upnya :)

term life itu, hanya untuk jangka pendek!!! dan premi-nya akan naik sesuai dengan kita yg semakin bertambah, jadi kalo jangka panjang ya makin tinggi preminya!!!! dan hangus!!!!

ayoo coba dicek lagi di ilustrasi atau polis unit linknya :). kalo anda agen PRUlink, coba baca tulisan kecil di halaman 1: “merupakan biaya asuransi pada saat usia masuk. biaya asuransi akan berubah dari tahun ke tahun sesuai dengan usia yang dicapai pada saat tahun berjalan dan besar UP pada saat itu” :)

kelebihan term life itu ya justru karena term life itu untuk jangka pendek :). artinya kita punya pilihan untuk gak ngambil asuransi di saat kita gak butuh :). kalo di unit link, sifatnya wajib diambil, kalau gak butuh kita tetap harus bayar.

soal hangus gak hangus tetap aja hangus, perusahaan asuransi juga harus menjalankan kewajibannya, membayar karyawan dan cari untung. kalau di unit link gak kerasa karena premi bisa diambil dari return investasi. kalo ngambil reksadana dan asuransi terpisah, hal ini juga bisa dilakukan. bedanya uangnya harus lewat kantong nasabah dulu.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Linux Linux
o 8 August 2007 at 09:40
*
124

ya, emank th 2005 hanya 0.07%, tapi kan banyak sekali reksadana yg malah minus buanyakkk:((

memank biaya asuransi itu selalu naik kalo usia makin tinggi, semua asuransi begitu….
tapi , jika saya beli asuransi term life itu kan uang hangus, tapi jika di whole life bisa kembali duit kita, jangka panjang uang makin banyak, malahan asuransi jadi serasa gratis…begitu juga unit link, uang saya akan lebih banyak dari whole life atau endownment!!!
pak priyadi, kita semua emank belom butuh asuransi,karena belom sakit, belom celaka, belom mati!!! tapi kapan kita bisa tau hal2 di atas terjadi???ga tau kan? hanya Tuhan yg tau….sama kaya’ payung, belom hujan beli payung dulu, ujan tinggal ambil payung, ato beli payung kalo ada yg jualana payung lewat….bedanya, asuransi, kalo kita uda butuh(uda ujan), ga bisa beli alias ditolak!!!:-h
emank org yang udah sakit bisa beli asuransi??:-
orang yg udah suadh mati bisa beli??:-ss
orang udah tua sampe 70-80th keatas bisa beli???:-<>-

apa ada yg bisa menjamin, kita akan sehat wal afiat selamanya?

adakah jaminan jika suatu saat kita meninggalkan orang2 tercinta, mereka dapat melanjutkan hidup mereka tanpa mengalami kemunduran dalam kehidupan mereka?

**gaya agen asuransi banget gak sih…?
untungnya gak nyebut merk, kalo nyebut, musti bayar tuh yg disebutin…:d
Gravatar
o Comment by Ravn
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.12 on Windows Windows XP
o 21 August 2007 at 13:02
*
142

#137:

Lalu maksud saya mengenai WP di unitlink, Waiver of Premium kan pembebasan premi (alias premi dibayar oleh pihak insurance) ketika ada ketidak mampuan total. Jadi ketika saya masuk unitlink (walaupun tidak besar preminya, dengan raider secukupnya) dan terjadi ketidak mampuan tersebut, maka premi investasinya dibayar oleh insurance. Jadi ditabungin sama si insurance. Ini saya gunakan untuk proteksi ketika reksadana saya belum berkembang mencapai nilai yang saya inginkan.

kalau ini harusnya bisa ditutup dengan rider kecelakaan atau ambil asuransi kecelakaan terpisah. kecelakaan bisa dibilang adalah penyebab hampir semua ketidakmampuan yang terjadi sebekum hari tua.

ralat ! critical illness ada diunitlink dan termlife produk manulife. Silahkan bapak cari produk yang namanya ProActive Plus

thanks! mungkin nanti saya lihat2 dulu produknya

#141:

coba..apa tujuan berinvestasi..? lalu ketika terjadi suatu musibah, bagaimana menanggulanginya? ngambil duit juga kan..? dari mana? dari hasil investasi? iya kalau udah berbuah.., kalau belum?

henheheh… dari sudutpandang investasi, reksadana murni jauh lebih menguntungkan dibanding unit link, tapi bukan berarti saya gak ngambil asuransi sama sekali :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 21 August 2007 at 13:24
*
143

:) eem sebenarnya prudential udah mewakili semuanya??? jaminan asuransi kematian, asuransi kecelakaan, asuransi kesehatan dan investasi ?? kenapa bingung bingung kan semuanya kita butuhka??? karna semua harus berimbang tak usah bingung!!! naruh duit jangan hanya di satu keranjang,…. bagi bagi aja asuransi , bank , reksadana karena semua wajib kita butuhkan!!!
Gravatar
o Comment by gusta
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 31 August 2007 at 23:04
*
144

#143:

sebenarnya prudential udah mewakili semuanya??? jaminan asuransi kematian, asuransi kecelakaan, asuransi kesehatan dan investasi ?? kenapa bingung bingung kan semuanya kita butuhka???

semuanya memang kita butuhkan, tapi biaya administrasinya itu lho yang gak nahan :D. mendingan beli aja satu per satu, karena jatoh2nya jauh lebih murah :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 31 August 2007 at 23:14
*
145

Halo semua…
Saya kira semua kembali ke pilihanya masing-masing, mana yang terbaik sesuai kebutuhannya. Saya ingin menggaris bawahi masalah “Agen”. Saya merasa kasihan, karena ujung-ujungnya dia yang dijadikan sasaran tembak. Padahal, cobalah berfikir positif, kalo mereka itu mendapatkan komisi dari nasabahnya, paling juga 3-5 tahun. Tapi apa yang mereka lakukan untuk anda. Seumur hidup, mereka akan melayani masalah asuransi anda.
:-?
Gravatar
o Comment by gege
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 31 August 2007 at 23:54
*
146

#145:

kalo mereka itu mendapatkan komisi dari nasabahnya, paling juga 3-5 tahun. Tapi apa yang mereka lakukan untuk anda. Seumur hidup, mereka akan melayani masalah asuransi anda.

rasanya ini hanya layanan yang diada-adakan saja, karena ngga lewat agen pun juga bisa. kita bayar 3-5 tahun untuk ‘layanan’ yang sebenernya bisa kita dapatkan tanpa melalui agen.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Camino Camino 1.5 on Mac OS Mac OS X
o 1 September 2007 at 06:04
*
147

mas pri
tulisan anda bukan mencerahkan, tapi menohok profesi agen asuransi..
kenapa biaya admin unit link cukup besar?, karena untuk biaya perusahaan membayar komisi agent, operasional kantor dsb,

peran agent sgt vital di negeri kita tercinta indonesia karena berkat agent lah masyarakat indo membeli polis, karena keuletan, kegigihan, kesabaran, kecerdasan agnet lah berusaha mengedukasi, merubah mind set masyarakat yg gak suka insurance,.

tidak terhitung banyaknya klaim yang terbayar dari asuransi,.dan cerita dibalik itu …semua berkat age, kalo bukan dikejar agent, klien gak bakal punya polis, nah kejadian resiko hidup, siapa yang bisa bantu..

asuransi..teman2 datang, keluarga datang, tetangga, bos, anak buah, apa yang mereka bawa, karangan bunga dan amplop secukupnya,..

gak berarti men, paling juga habis bahkan gak uckup untuk 7 malaman..

pantas gak agent dapat komisi?, gak seberapa dibanding manfaat asuransi yg diterima klien.

bapak2 ibu2, gak semua orang bisa pandai2 mengatur , beli reksadana, beli asuransi,.yang ada kita semua pengen praktis, bayar lebih namun praktis..

contoh..pilih mana naik taxi atau naik angkot? lebih murah, turun dipingir jalan, panas, debu, en tambah naik ojek kerumah..
bayar taxi lebih, praktis en ada fasilitas lainnya,..

kurang kena yah..?
pilih mana ..ada hajatan, pesan makanan satu persatu dari tempat yang berbeda karena murah, en sewa ruang untuk acara, atau beli satu paket sekalian pesan ruang..?
ut pilihan terakhir, kita musti bayar jasa marketingnya (hotel/resto),

sering karena pengen murah, akhirnya kita rugi dr sisi lain mis. waktu, pikiran, dan akhirnya kehilangan ke 2 nya

selama ini cin cai lah, masyarakat beli polis gak ada yg komplain kok, sepanjang klaim mereka terbayar…

regards,
Gravatar
o Comment by budiman
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP
o 3 September 2007 at 02:46
*
148

#81 dan #83

#81, Anda benar. Munculnya Unit-Link adalah karena permintaan dari pasar juga. Kalau pasar maunya Unit-Link ya itulah yang laku.

#83, Om Pri benar. Yang laku belum tentu bagus dan yang bagus belum tentu laku.

Maksudnya: Unit-Link kalau mau fair, buatlah opsi untuk setiap elemen asuransi yang ditawarkan bukan cuma opsi di instrument investasinya saja. Kalau Om Pri maunya asuransi jiwa untuk dirinya dan bukan anaknya ya harus dibedakan dengan yang mau semuanya (harga/premi-nya).

Karena sebagian besar orang memilih Unit-Link daripada asuransi tidak membuat Unit-Link lebih baik daripada asuransi. Meng-edukasi orang supaya paham dan setelah paham bebas memilih adalah tujuan Om Pri yang saya tangkap.

Saya adalah seorang ‘nasabah’ Unit-Link. Tahu kenapa saya memilih Unit-Link daripada asuransi+investasi terpisah? Karena saya tidak mengerti. Kalau saja Agen Penjual Polis dan Unit-Link mau transparan, mungkin saya tidak akan membeli Unit-Link. Tapi kenyataannya, mereka hanya menyampaikan yang bagus-bagus saja dan tidak menyampaikan yang minus-nya.

Kalau artikel ini saya baca 3 tahun yang lalu, mungkin saya tidak jadi membeli Unit-Link. Ada teman saya yang sejak 3 tahun yang lalu membeli asuransi dan investasi secara terpisah. Coverage asuransi yang dia dapatkan lebih besar daripada coverage yang saya dapat dari Unit-Link sementara nilai investasi yang dia peroleh lebih besar daripada investasi yang saya peroleh. Kebetulan dia meng-invest-kan uangnya di instrument dan manager investasi yang sama (Schroders).

Yang jelas. Beda harga beli dan harga jual Unit-Link udah 5%. Padahal di Manager Investasi, Fee yang diminta adalah 0.4% Beli dan 0.3% Jual (Total 0.7%). Selain itu, Unit-Link masih membebankan biaya administrasi yang besarnya cukup tinggi (apalagi kalau nilai investasi kita kecil).
Gravatar
o Comment by Rahmat
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 3 September 2007 at 10:31
*
149

#147:

kenapa biaya admin unit link cukup besar?, karena untuk biaya perusahaan membayar komisi agent, operasional kantor dsb,

kalau gitu bisa dijelaskan kenapa kalau saya ambil asuransi+reksadana secara terpisah, biaya yang saya bayarkan lebih murah dan hasilnya lebih maksimal? komisi agen dan biaya operasional kantor tetap terbayarkan kok.

jawabannya: karena sebagian besar unit link menggunakan teknik pemasaran secara langsung yang tidak efisien. biaya overhead ini nantinya nasabah juga yang nanggung.

peran agent sgt vital di negeri kita tercinta indonesia karena berkat agent lah masyarakat indo membeli polis, karena keuletan, kegigihan, kesabaran, kecerdasan agnet lah berusaha mengedukasi, merubah mind set masyarakat yg gak suka insurance,.

menurut saya kok justru sebaliknya ya :-?

pantas gak agent dapat komisi?, gak seberapa dibanding manfaat asuransi yg diterima klien.

sama saja kok. kalo saya ambil reksadana + asuransi terpisah saya juga dapat manfaatnya :)

contoh..pilih mana naik taxi atau naik angkot? lebih murah, turun dipingir jalan, panas, debu, en tambah naik ojek kerumah.. bayar taxi lebih, praktis en ada fasilitas lainnya,..

mending bayar angkot Rp 20 ribu daripada taksi Rp 200 ribu :). lagi pula kita cuma perlu naik angkot/taksi (berhubungan dengan agen) belum tentu sekali dalam 1 taun, bahkan dalam 5 tahun pun belum tentu. tapi kalo naek taksi, kita perlu bayar setiap bulan walaupun bulan itu kita gak naek taksi :)

selama ini cin cai lah, masyarakat beli polis gak ada yg komplain kok, sepanjang klaim mereka terbayar…

coba lain kali anda disclose semua biaya2nya kepada nasabah secara transparan. setiap anda print ilustrasi pasti ada proyeksi return investasi sampai 20, 30 atau bahkan 100 tahun ke depan. harusnya gak terlalu rumit untuk menghitung dan memberi tahu besar komisi yang anda terima :)

kenyataannya selama ini besar komisi (biaya akuisisi™) tidak dijelaskan secara transparan dan masih mentah (tidak dalam satuan rupiah). biasanya cuma diselipkan di halaman akhir dan dengan ukuran tulisan yang kecil2 :). kalau berani coba disclose fee anda di awal2 dalam satuan rupiah, jangan sampai ada kejadian nasabah tahu baru setelah tandatangan :).

potensi perkembangan investasi dalam 100 taun aja bisa diitung padahal belum tentu segitu, masa biaya yang udah pasti yang cuma 5 tahun ke depan gak bisa dihitung? :0

kalo saya suka pake analogi calo tiket kereta api.

calo A: “saya jual tiket kereta api jakarta bandung dengan harga resmi Rp 150 ribu! serius, ini harga resmi pak!” (padahal harga resmi di loket cuma Rp 75 ribu)

calo B: “bapak bisa saya belikan tiket kalo males ngantri. harga tiket jakarta bandung Rp 75 ribu, tapi saya minta Rp 15 ribu untuk ongkos cape saya”

kalo ketemu calo A, mendingan saya antri sendiri aja :). mungkin ada beberapa calon penumpang yang gak tahu berapa harga resminya, dan percaya begitu saja. tapi setelah tahu kejadian sebenernya pasti ngambek :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 3 September 2007 at 12:17
*
150

Ada beberapa pendapat yang kurang tepat, khususnya pemberi comment no.4. Di unit link, Anda juga akan mendapat apa yang Anda tabung. Berbeda dengan asuransi tradisional. Mengapa saya berani berkata demikian? Karena saya juga pemasar produk tersebut, nasabah juga tentunya.

Nah, kalau ada pemikiran ‘dana tidak kembali’ juga harus dikenali secara tepat sebagai apa. Biaya akuisisi, itu tidak kembali je nasabah. Jelas saja, perusahaan asuransi juga memerlukan biaya operasional. Bagi Anda yang beragama Islam juga dapat mengambil asuransi unit linked dengan sistem syariah sekarang.

Kalau mau diskusi lebih lanjut, silakan email saya di yohanes.eko@gmail.com :d/
Gravatar
o Comment by Yohanes Eko N. K.
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Safari Safari 522.13.1 on Mac OS Mac OS X
o 4 September 2007 at 19:09
*
151

#150:

Di unit link, Anda juga akan mendapat apa yang Anda tabung. Berbeda dengan asuransi tradisional.

di unit link belum tentu nasabah mendapat yang ditabung, karena ada faktor resiko di sini. asuransi tradisional term life gak ada unsur tabungan, jadi gak bisa dibandingkan.

Biaya akuisisi, itu tidak kembali je nasabah. Jelas saja, perusahaan asuransi juga memerlukan biaya operasional.

biaya operasional udah final dalam harga komponen asuransi dan investasi, di luar biaya akuisisi. bisa disimpulkan seperti ini karena komponen asuransi di unit link harganya sama saja dengan ngambil term life secara terpisah. selain itu, nasabah juga masih harus membayar biaya administrasi, di luar biaya akuisisi.

biaya akuisisi itu masuk ke kantong agen sebagai komisi. kalaupun gak semuanya masuk kantong agen, sisanya masuk ke profit perusahaan asuransi, tapi rasanya gak bakalan dipake untuk biaya operasional.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 4 September 2007 at 20:24
*
152

sebelumya terima kasih pak priyadi… telah memberi wawasan terhadap kita….

untuk bisa memilih yang terbaik dari yang baik….. menurutku memang Unit-link baik tapi bukan terbaik bagi orang2 yang telah mengerti…tentang produk ini

mungkin bisa di alogikan kita beli kompt brandend dg harga 7 Jt dengan ngerakit sendiri komputer itu dg harga sama kita mendaptkan 2 kali kemampuan / performanya komputer branded….(bagi yg mengerti komputer)
Gravatar
o Comment by kotrek
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 5 September 2007 at 11:45
*
153

#152:

mungkin bisa di alogikan kita beli kompt brandend dg harga 7 Jt dengan ngerakit sendiri komputer itu dg harga sama kita mendaptkan 2 kali kemampuan / performanya komputer branded

rasanya gak bisa pake analogi ini karena manfaat yang didapatkan di unit link dan ngambil terpisah sama saja. nyaris tidak ada nilai tambah yang diberikan oleh unit link.

bahkan mungkin terbalik. kelebihan komputer branded, konsumen punya akses langsung ke perusahaan perakit dengan reputasi yang baik. sedangkan di unit link justru nasabah harus berhubungan dengan agen perorangan dan bukan dengan perusahaan asuransinya secara langsung.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 5 September 2007 at 12:22
*
154

pak kalo milih asuransi yang untuk jiwa + kesahatan aja enak mana ya.. antara manulife atau prudential…
info untuk manulife :
1. Upertangungan 100 Jt - prolife premi 1.3 jt / thn selama 20 th dan dijamin sampai umur 99 th.
2. Upertangungan 500 Jt - prolife premi 4.1 jt / thn selama 20 th dan dijamin sampai umur 99 th

atau milih yang term aja ya.. kayak :
1. Pro active Plus - berjangka gitu tapi dijamin sampai umur 70 th

pilih mana ya.. sarannya
Gravatar
o Comment by kotrek
o Posted from Satellite Provider Satellite Provider
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 5 September 2007 at 13:58
*
155

#154: mending pilih term, karena pada umur 70 tahun seharusnya tabungan kita sudah banyak. selain itu, kalaupun ngambil asuransi, nilainya gak akan menyaingi jumlah tabungan kita.

untuk kesehatan kayanya gak akan ada yang ngasih pertanggungan untuk umur sampai 99 tahun, di unit link sekalipun.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 5 September 2007 at 14:33
*
156

ok pak tambah mantap aja nih invest di reksadana… sekali lagi terima kasih pak info dan wawasannya… padahal kemairn masih pingin beli asuransi pendidikan ama ulink..
kita udah punya 2 Reksadana di Fortis ekuitas ama schoder dana kombinasi… di bank commonwealth

Berarti dengan ini untuk perisapan pendidikan mendingan kita masukkan di Reksadana itu ya pak…dan ikut asuransi term…

Dan sekaedar info aja.. bahwa Reksadana itu tidak harus punya uang banyak… di bank Commonwealth minim 2 jt bisa masuk dan pembelian Reksadananya juga antara 200 rb - 5 jt untuk pembelian awalnya dan penambahannya ada yg 100 rb - 1 jt. juga bisa beli secara online atau pake internet banking.
Gravatar
o Comment by kotrek
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 5 September 2007 at 14:57
*
157

Yth pak Pri & rekan2

Anak-1 saya ikutkan ke asuransi pendidikan masuk tahun ke-4 (oktober 2007 masuk tahun ke-5 & premi saya bayar pertahun) & anak-2 baru saja saya ikutkan juga (premi saya bayar per 6bln). Setelah baca ulasan p. pri & komentar rekan2 saya kok jadi cenderung ikut inves reksadana + asuransi. Disini saya mohon saran, jika asuransi pendidikan anak saya putus apakah gak rugi???::-w:((
Gravatar
o Comment by iwan
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 7 September 2007 at 17:00
*
158

#157: coba anda analisis 2 skenario yang mungkin terjadi:

* kalau anda lanjutkan asuransi pendidikannya; dan
* kalau anda pindah ke reksadana+term life

coba dihitung2 skenario mana yang lebih menguntungkan. kadang2 bisa jadi melanjutkan asuransi pendidikan lebih menguntungkan (misalnya kalau penalti pengambilan tinggi, atau ada bonus setelah beberapa tahun). tapi biasanya, pindah ke reksadana+term life lebih menguntungkan. kondisinya cuma anda yang tahu.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 7 September 2007 at 17:23
*
159

diliat2 diskusi disini sebenarnya udh selesai di komentar #20 lho.. :)
Selebihnya pengulangan (baca: penjelasan berkali-kali pd orang2 yg susah bener memahami konsep di tulisan awal, tp tetep dilayani oleh om pri..)
Gravatar
o Comment by j_yoris
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux
o 7 September 2007 at 17:33
*
160

Hi Pak Iwan (#157)

Asuransi pendidikan dan Reksadana merupakan 2 komponen yang dapat bapak gunakan dalam mempersiapkan dana pendidikan buat anak bapak.

Kelebihan asuransi pendidikan adalah dana yang bapak siapkan terjamin tersedia sesuai dengan waktu dan jumlah seperti yang bapak sudah rencanakan. Kekurangan dari produk ini adalah fleksibilitas dan(dana hanya tersedia pada waktu yg telah disepakati tidak dapat diambil sewaktu waktu) dan tingkat hasil yg rendah.

Bila bapak menggunakan reksadana, kelebihannya adalah bapak berpotensi mendapatkan nilai rupiah (dana pendidikan) yang lebih besar dibandingkan dengan asuransi pendidikan. kelemahannya adalah adanya resiko dan ketidakpastian (tidak ada yg menjamin bahwa dana sebesar yg bapak inginkan akan tersedia pada waktunya).

Saran saya gunakan keduanya. Dengan demikian kita kan mendapatkan faktor kepastian dari asuransi dan hasil yg besar dari reksadana. Besarnya perbandingan prosentase antara asuransi pendidikan dan reksadana itu tergantung keinginan bapak.

Semoga bisa membantu

Wass
Gravatar
o Comment by anton
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 10 September 2007 at 11:19
*
161

Wah panjang juga ya perdebatan ttg unit link ma reksadana. Saya cuma mau kasih beberapa komentar pada artikel utamanya.
TRANSPARASI
“Reksadana biasanya jauh lebih transparan daripada produk investasi yang ada dalam unit link. Biasanya, nasabah reksadana dapat dengan mudah mengetahui informasi-informasi seperti sejarah perkembangan investasi, resiko, alokasi aset, biaya jasa pengelolaan dan sebagainya. Sedangkan dalam unit link, seringkali sulit untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan manajer investasi beserta biaya dan kinerjanya. Kebanyakan agen asuransi biasanya lebih banyak berkutat pada ilustrasi yang abstrak tanpa dengan jelas memberi tahu parameter-parameter pembentuk ilustrasi tersebut. Terlebih lagi, calon nasabah yang awam tidak memiliki pembanding yang cukup untuk menilai kualitas yang diberikan oleh ilustrasi tersebut.”

Unit Link sama transparannya dengan Reksadana. Semua informasi yang diperlukan oleh mas pri diatas bisa diminta ke agen atau perusahaan ybs (Setiap Perusahaan memiliki Fact Sheet yang berisi informasi alokasi asset dll). Kesulitan itu datangnya dari Agen bukan produk unit link itu sendiri. Jadi amat sangat tidak fair karena kesalahan agen mas pri mengatakan suatu produk tidak baik.
KETERIKATAN DAN FLEKSIBILITAS
“Yang paling penting bagi yang serius untuk menjalankan investasi adalah faktor keterikatan. Dengan memisahkan layanan asuransi dan reksadana, kita bisa membagi proporsi di antara keduanya sesuai dengan situasi dan kondisi kita pada saat itu, tanpa harus terikat dengan proporsi dan jumlah yang telah ditetapkan dalam polis asuransi. Jika sedang membutuhkan uang, kita bisa tetap membayar premi asuransi, tetapi bisa bebas berhenti menyetorkan dana investasi tanpa harus takut kehilangan manfaat asuransi. Sebaliknya, jika sedang memiliki dana berlebih, kita bisa menyetorkan kelebihan dana tersebut ke reksadana tanpa harus terkena penalti atau biaya tambahan.”

Dalam unit link sebenarnya proporsi investasi bisa dihilangkan (nol). Yang tidak bisa dihilangkan adalah proporsi premi asuransi. Contoh: Premi yang dibayarkan adalah 1,5 jt pertahun dengan komposisi Premi asuransi 1,5 jt dan Premi Investasi Nol. Dengan Proporsi seperti ini dana investasi baru akan muncul pada tahun ke-2 (pada tahun pertama seluruh premi asuransi akan hangus untuk meutupi biaya2, biasanya biaya2 pd unit link baru akan muncul pada thn ke-2). Jadi seperti kata Mas Pri Kalo ada kelebihan uang kita bisa melakukan TOP UP saja dgn biaya 5% (dgn proporsi seperti ini kita tidak harus membayar premi investasi secara rutin dan manfaat asuransi tetap ada selama nilai investasi tidak menjadi negatif.)
PERHITUNGAN INFLASI PADA UANG PERTANGGUNGAN
Dalam setiap ilustrasi disebutkan bahwa biaya asuransi akan meningkat sesuai dgn usia. Kalo mas pri mau tau biaya asuransi tiap tahunnya bisa ditanyakan ke agen nya berapa ratenya untuk umur sekian (agen yg baik pasti dgn senang hati mmberi tahukan ke mas Pri)
BIAYA AKUSISI
“Sebagai contoh, salah satu produk asuransi link unit membebankan biaya akuisisi kepada nasabah sebesar 41% dari setoran porsi premi asuransi untuk lima tahun pertama. Biaya ini kemudian akan ditalangi dengan tidak memberikan sebagian manfaat asuransi pada tahun pertama dan sisanya kemudian dibebankan pada setoran porsi investasi.”

Saya mau tanya maksud dr biaya ini akan ditalangi dgn tidak memberikan manfaat asuransi pada tahun pertama itu apa ya?
PANJANG JALUR ADMINISTRASI
YA saya setuju dengan pendapat mas pri. Ini kelemahan dari Unit Link
Gravatar
o Comment by Anton
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 10 September 2007 at 16:31
*
162

#160

Kelebihan asuransi pendidikan adalah dana yang bapak siapkan terjamin tersedia sesuai dengan waktu dan jumlah seperti yang bapak sudah rencanakan. Kekurangan dari produk ini adalah fleksibilitas dan(dana hanya tersedia pada waktu yg telah disepakati tidak dapat diambil sewaktu waktu) dan tingkat hasil yg rendah.

jika asuransi bisa memberi jaminan, artinya setoran nasabah disetorkan ke instrumen investasi yang zero risk dan bisa dibeli kapan saja. satu2nya adalah deposito.

tetap akan lebih untung jika nasabah langsung ikutan deposito (+ambil term life) daripada harus lewat asuransi. jika minimum setoran tidak terjangkau, bisa jadi asuransi pendidikan bisa jadi alternatif, tapi tetap saja tidak akan bisa melebihi rate deposito.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 September 2007 at 11:20
*
163

#161:

Unit Link sama transparannya dengan Reksadana. Semua informasi yang diperlukan oleh mas pri diatas bisa diminta ke agen atau perusahaan ybs (Setiap Perusahaan memiliki Fact Sheet yang berisi informasi alokasi asset dll). Kesulitan itu datangnya dari Agen bukan produk unit link itu sendiri. Jadi amat sangat tidak fair karena kesalahan agen mas pri mengatakan suatu produk tidak baik.

agen adalah termasuk dalam paket produk asuransi. baik buruknya layanan asuransi juga ditentukan dari layanan yang diberikan oleh agen. pegangan utama calon nasabah adalah ilustrasi. ilustrasi ini tidak mencantumkan informasi yang lengkap soal investasi, tidak akan selengkap prospektus reksadana. beberapa agen memang dipersenjatai ‘fact sheet’, tapi tetap saja fungsinya hanya sebagai brosur dan tidak akan selengkap prospektus reksadana.

Dalam unit link sebenarnya proporsi investasi bisa dihilangkan (nol). Yang tidak bisa dihilangkan adalah proporsi premi asuransi. Contoh: Premi yang dibayarkan adalah 1,5 jt pertahun dengan komposisi Premi asuransi 1,5 jt dan Premi Investasi Nol. Dengan Proporsi seperti ini dana investasi baru akan muncul pada tahun ke-2 (pada tahun pertama seluruh premi asuransi akan hangus untuk meutupi biaya2, biasanya biaya2 pd unit link baru akan muncul pada thn ke-2). Jadi seperti kata Mas Pri Kalo ada kelebihan uang kita bisa melakukan TOP UP saja dgn biaya 5% (dgn proporsi seperti ini kita tidak harus membayar premi investasi secara rutin dan manfaat asuransi tetap ada selama nilai investasi tidak menjadi negatif.)

untuk sebagian besar unit link, proporsi investasi TIDAK bisa dihilangkan. setiap bulannya, nasabah membayar premi asuransi sebesar premi maksimum seumur hidup nasabah. karena premi efektif bulan tersebut pasti lebih kecil daripada premi maksimum seumur hidup, maka selisihnya oleh perusahaan asuransi akan diinvestasikan.

anda agen prudential? coba jumlahkan angka2 di bawah field ‘biaya asuransi bulanan’ dan bandingkan dengan yang ada di ‘premi berkala’

biaya top up 5% itu mahal. untuk reksadana, paling sial cuma 3%, bahkan ada yang gratis. selain itu, di beberapa unit link, jika setoran tidak terjadwal, akan ada biaya administrasi tambahan (di pru Rp 100 ribu).

Dalam setiap ilustrasi disebutkan bahwa biaya asuransi akan meningkat sesuai dgn usia. Kalo mas pri mau tau biaya asuransi tiap tahunnya bisa ditanyakan ke agen nya berapa ratenya untuk umur sekian (agen yg baik pasti dgn senang hati mmberi tahukan ke mas Pri)

itu kenaikan premi akibat pertambahan umur, bukan karena inflasi.

Saya mau tanya maksud dr biaya ini akan ditalangi dgn tidak memberikan manfaat asuransi pada tahun pertama itu apa ya?

pada tahun pertama, semua premi asuransi diberikan sebagai komisi agen. premi ini akan ditalangi dulu oleh perusahaan asuransi. jadi nasabah berhutang ke perusahaan asuransi sebesar jumlah tersebut. di akhir tahun pertama, hutang ini baru akan dilunasi dengan cara memotong porsi investasi.

kalau ngambil asuransi + reksadana terpisah, gak ada potongan untuk agen segala.

coba baca tulisan saya lainnya: tips membeli asuransi jiwa
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 September 2007 at 11:43
*
164

Saya dulu juga kesulitan sekali mencari data kinerja masa lalu reksadana. kinerja masa lalu memang tidak mencerminkan kinerja masa depan, tapi rasanya kok bisa lebih ayem dengan tahu bagaimana keadaan sebelumnya.

anyway, karena saya kurang puas dengan data harian di bisnis.com, dan saya juga sangat tidak sreg dengan penyajian data di Bapepam, saya membuat sendiri web yang khusus menyajikan data kinerja reksadana untuk seluruh produk reksadana di Indonesia. Data tersedia sejak tahun 2000, dan data terus diupdate secara otomatis per hari bersumber dari Bapepam. Monggo bisa diakses ke http://www.portalreksadana.com.

Mohon dimaklumi, website ini masih beta, beberapa feature masih saya kembangkan. jika ada ide, feel free to share.
Gravatar
o Comment by Adityo Hidayat
o Posted from Yogyakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 12 September 2007 at 06:41
*
165

Aku setuju banget sama pak Priyadi, krn aku jg nasabah unit link di suatu perusahaan asuransi abc dan baru tau kalo ternyata biaya2 silumannya ternyata banyak banget. Dari yg katanya bayar 10 thn dengan perbulannya 350 ribu dgn porsi biaya premi 250 rb dan investasi secara berkala, aku hitung ternyata total biaya siluman (belum termasuk biaya asuransi dan administrasi) nya sebesar 17 persen atau kurang lebih 7 jt, sementara biaya asuransinya akan dipotong dari unit2 investasi kita tiap bulannya dan blom termasuk biaya. Aku sudah masuk tahun ke 2,dan menyesal sekali krn begitu aku menghubungi perusahaan asuransi xxx ternyata termlife sangat murah sekali preminya dan untuk berinversati langsung di reksadana ada yg membebenkah biaya pembeliannya 0(nol) persen, penjualan 0 persen manajemen feenya 2 persen. Sayang sekali aku menemukan blog ini baru sekarang, karena selain rugi material dari unitlink yg sudah aku beli (karena aku bermaksud membatalkannya) aku juga rugi di waktu, karena waktu adalah teman terbaik dalam berinvestasi reksadana apalagi reksadana saham. Trims pak Pri,
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 13 September 2007 at 12:10
*
166

mungkin kita perlu mengedukasi masyarakat agar kritis sebelum membeli unitlink, karena mereka tidak tau sebenarnya unitlink adalah asuransi + reksadana. Banyak sekali agen2 asuransi yg tidak menjelaskan hal tersebut. Yg ada agen2 selalu menekankan membeli unitlink sama dengan menabung. Ini adalah perbedaan yg sangat besar, karena reksadana = resiko, sementara nabung = tidak beresiko. Aku aktif transaksi saham di bursa efek jakarta, sehingga tau sekali resiko dari segala jenis reksadana, kecuali reksadana pasar uang. tapi resiko di reksadana bisa kita kecilkan, di eliminasi dengan panjangnya waktu kita berinvestasi dan metode yg kita pilih. Kalau kita berinvestasi dengan meniru program unit link, dari 350 ribu setoran bulanan di bagi untuk termlife 100rb di tahun2 awal, 250 rb di reksadana, maka kita akan dapat uang pertanggungan diatas 500 juta, sementara investasi kita di reksadana saham, dengan katakanlah rata2 return 25 persen (di RD saham biasanya jauh lebih tinggi) maka 10 tahun lagi kita akan mendapat return 116 juta, 20 tahun mendapat return 1,5 milyar, 25 tahun 5,9 milyar, tanpa potongan pajak. Banyak masyarakat ( termasuk aku tadinya)tidak mmenyadari bahwa, ternyata berinvestasi unitlik di perusahaan abc, baru dimulai full setelah tahun ke-6, karena sampai tahun ke 5, akan buanyaaaakkkk sekali biaya2 siluman yg pada waktu kita masuk tidak dijelaskan oleh agennya. Itu pun kalau kita mau top up berkala dikenakan biaya 5 persen, yang menurut aku gede banget, sementara ada manajer investasi reksadana saham yang cuma 0 (baca Nol)persen untuk fee pembelian n top up. Agen2 unitlink selalu mengatakan kalau terjadi resiko kematian, cacat tubuh, penyakit kritis,hospital dan lain-lain maka akan di cover oleh perusahaan asuransi. Tapi yang ada sebenarnya resiko2 diatas di cover karena kita membayar premi lagi yang setiap bulannya di potong dari unit2 kita walaupun misalnya bursa lagi crash (ini berpengaruh karena yg dipotong adalah unit). Sebenarnya semua resiko bisa kita cover dengan membeli termlife plus rider2 nya, dengan manfaat jauh lebih maksimal dan investasi kita di tahun awal juga berkembang maksimal.Selamat berinvestasi dan berasuransi.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 13 September 2007 at 13:10
*
167

Ada yang bisa menjelaskan lebih detil pendapat #166 mengenai TU di reksadana 250rb/bulan menjadi 116jt di tahun ke 10, atau 1.5 milyar di tahun ke 20, atau 5.9 milyar di tahun ke 25? Apakah ini sudah dikurangi dengan biaya2 yang dibutuhkan? Tks
Gravatar
o Comment by Pratiwi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 13 September 2007 at 13:31
*
168

itu adalah asumsi return riil RD saham per tahun, kalau kita investasikan perbulan 250 rb rutin, maka akan di dapat nilai seperti diatas, menggunakan bunga majemuk. Di RD ada yg namanya NAB (nilai aktiva bersih), itu udah bersih dari manajemen fee. Bisa kita lihat di harian bisnis, kontan atau http://www.infovesta.com
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 13 September 2007 at 14:24
*
169

#167: perhitungan saya, kalau setor per bulan Rp 250 rb selama 10 tahun dengan asumsi perkembangan investasi 25%, maka dalam 10 tahun uangnya akan jadi Rp 110 juta. tapi mungkin 25% terlalu optimistis, di level 15% uangnya akan menjadi Rp 65 juta.

ini masih kotor, belum termasuk biaya2, tapi harusnya gak akan terlalu besar. biaya2 ini berbeda untuk reksadana yang berbeda.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 13 September 2007 at 14:57
*
170

untuk RD saham 25% termasuk pesimis, karena kita menggunakan metode rupiah cost averaging dan investasi jangka panjang (diatas 10 tahun)maka resiko minimal sekali. mungkin kalau diversifikasi portofolio, rata2 15% masuk akal. Tapi RD pendapatan tetap pun beresiko tinggi, ini bisa kita lihat pada saat gonjang-ganjing pasar financial di AS, RD pendapatan tetaplah yang paling banyak di redeem, sebaliknya walau bursa saham turun dari ihsg 2400-an menuju 1800-an, malah banyak yang subcription.Sama2 beresiko tinggi mengapa ngga ke RD saham atau dengan terjun langsung di saham2 dengan fundamental baik dan di keep jangka panjang bisa memberi kita return tinggi (silakan baca : http://arisat.blogspot.com/2006/12/memahami-fundamental-investasi.html,
http://arisat.blogspot.com/2006/12/tujuh-strategi-berinvestasi-reksa-dana.html
http://info-saham.com/ )
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 13 September 2007 at 16:32
*
171

#170: dalam jangka waktu panjang gak akan terus2an di atas 25%. kalau begitu justru malah menyeramkan. sahamnya bisa naik sampai 70%-80% tapi fundamentalnya jelas tidak sebesar itu. artinya sebagian besar kenaikan karena demand, bukan karena faktor fundamental.

hehehe, kalo saya suka hedge pake emas daripada pendapatan tetap. kalo pasar finansial rontok, emasnya langsung naik tinggi :).
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 13 September 2007 at 16:38
*
172

saya punya kenalan yang jual-beli saham dari tahun 1997 dengan base fundamental, sampai sekarang return sudah 240X,rata-rata setahun minimal diatas 70%. kita tentu saja harus selalu mempelajari fundamental shm2 tersebut, begitu harga pasarnya sudah diatas fundamentalnya makanya kita jual dong, itulah yg biasanya dilakukan oleh MI yang profesional. untuk mengetahui fundamental saham silakan baca : http://info-saham.com/old/bveps.htm
saya sendiri sudah mulai jual-beli saham dengan base fundamental, dengan return yang lumayan, jauh diatas RD saham rata-rata. Kalau ada waktu untuk belajar, maka trading saham bisa jauh lebih menguntungkan dan dengan modal yang relative kecil. ada yang kurang dari 6 bulan mendapat return 7,4X, dan itu tidak mustahil di bursa saham, asal uang yang di gunakan bukan hutang,bukan uang untuk keperluan sehari-hari. Karena dengan trading , modal yang kita setor 20 juta dengan cepat berkembang jadi 40 jt, trus 80 juta, trus 160 juta dan seterusnya…., biasanya trading menggunakan analisis teknikal. untuk diversifikasi portofolio saya akur sekali dengan pak Pri, dengan emas…..hehehe. karena ada crash apapun, emaslah yang pertama-tama naik…..
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 13 September 2007 at 17:19
*
173

Ikut nimbrung ya…
Setahu saya awal bulan ini PRU***** mengeluarkan produk unit link syariah yang secara umum sama dengan unit link yang ada PERBEDAANNYA dimana jika nasabah dalam satu tahun tidak mengajukan klaim maka pada akhir total biaya asuransi yang terkumpul dari seluruh nasabah (dikurangi klaim)akan mendapat bagi hasilnya, tetapi bila nasabah mengajukan klaim maka tidak dapat surplus dari biaya asuransi yang terkumpul. Adil kan….?
Gravatar
o Comment by SmiLe
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 14 September 2007 at 16:40
*
174

#173: kelebihan syariah adalah transparansi:

* nasabah bisa tahu proporsi dana reserve dan yang diinvestasikan
* nasabah bisa tahu proporsi keuntungan untuk nasabah dan untuk perusahaan
* harga premi belum termasuk asumsi perkembangan investasi, tapi akan dikreditkan di akhir term
* resiko ditanggung bersama antara perusahaan dan nasabah

memang jauh lebih transparan, tapi bukannya lebih murah. jika ada perbedaan harga rasanya tidak akan terlampau jauh. mungkin bisa dianalogikan bunga bank vs bank syariah.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 14 September 2007 at 18:02
*
175

Syariah memang lebih transparan..benar namun keuntungan (apabila ada) hanya dibagikan apabila akhir tahun tidak terjadi claim dari pihak nasabah.

Risiko ditanggung nasabah dan perusahaan dengan proporsi. Mirip-mirip dengan koperasi di mana perusahaan memberi modal lebih dahulu.

Tidak lebih murah: tepat sekali. Namun bukan masalah biaya asuransinya tapi lebih kepada biaya administrasinya.
Gravatar
o Comment by Yohanes Eko N. K.
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 14 September 2007 at 19:05
*
176

#174: tambahan: akhir2 ini banyak yang ngomongin asuransi syariah seakan2 sebelumnya belum pernah ada asuransi syariah :). tapi produk syariah bukan barang baru, sudah lama dijual oleh beberapa perusahaan asuransi lainnya. selain itu, asuransi term life juga ada yang syariahnya.

kalau mau mengganti unit link syariah dengan yang terpisah, bisa beli asuransi term life syariah + reksadana syariah. sama sekali gak ada yang baru dengan produk asuransi syariah yang ‘baru’ ini :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 15 September 2007 at 04:19
*
177

Ada yang punya cerita/pengalaman menarik dengan term life syariah dan reksadana syariah?

Thanks.
Gravatar
o Comment by Jan
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 17 September 2007 at 16:24
*
178

selamat pagi semua, saya baca khusus artikel ini dari jam 7 malam sampai jam 3 pagi. ada yang menarik dari komentator-komentator pada topik ini, dimana rata-rata komentator yang akses artikel ini lewat mozzila firefox dll (selaian internet explorer)komentar dan pendapatnya saya rasa lebih bermutu dan masuk akal. sedangkan untuk pengguna explorer, kemampuan dalam ilmu investasi masih kurang, ini termasuk saya. saya sudah beli unit link beberapa minggu yang lalu, setelahnya baru saya belajar memperdalam tentang unit link dan membandingkan perbedaanya dengan reksadana. uang yang saya investasikan sebanyak 20 juta di unit link. 10 juta untuk premi asuransi berkala, 10 juta untuk investasinya (nilai aktualnya 9,5 juta. dipotong 5% biaya investasi). setelah membaca artikel yang mencerahkan ini ada keinginan saya untuk tidak melanjutkan program ini, dan memfokuskan investasi saya ke reksadana yang sudah saya punya. ada yang menarik tentang konfirmasi pembelian dari kedua program ini, yaitu konfirmasi pembelian dari agen reksadana yang berupa surat lebih cepat saya terima daripada agen unitlink, walaupun saya beli reksadana 1 minggu terlambat dari unit link. ini saya pikir menunjukkan tingkat keefisien dari reksadana lebih baik dari unit link. untuk mengurangi kebimbangan saya, mohonlah Bapak Pri memberikan nasehat untuk hal ini, terimakasih
Gravatar
o Comment by nyoman
o Posted from Japan Japan
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 19 September 2007 at 01:07
*
179

#178: coba anda baca tulisan saya yang satu lagi. kalau baru beberapa minggu kalau saya yang ada di posisi anda, saya gak akan pikir 2x lagi untuk berhenti, karena baru sedikit biaya overhead yang kita bayarkan.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 19 September 2007 at 11:46
*
180

Halo Pak Pri & semuanya,
Mo nanya saat ini saya ikutan unitlink yg kira2 proporsi antara asuransi&investasinya 30%:70%. Yg jadi pertanyaan setelah saya baca artikel di atas dan postingan yg masuk.

Apakah sepatutnya saya teruskan unitlink diatas dan saya convert ke asuransi+danareksa yg saya beli terpisah. Mengingat selain asuransi diatas saya sekarang ini juga ada asuransi dari perusahaan dimana saat ini saya bekerja. Oya saya baru 10 bulan ikutan unitlink diatas.

Memang manfaat dari unitlink diatas bisa dikatakan tidak ada utk saat ini, karena asuransi jiwa + kesehatan semuanya sebenarnya sudah di cover sama perusahaan. Perhitungan saya saat mengambil unitlink ini adalah sebagai cadangan, disaat nantinya saya tidak akan bekerja lagi di tempat saya bekerja sekarang dan juga investasinya.

Saati itu saya belum mengenal Danareksa, …..
Jadi kalau tahu pastinya saya akan beli asuransi & Danareksa secara terpisah.

Terimakasih sebelumnya atas sarannya.
Gravatar
o Comment by Ahmed
o Posted from Dhahran Saudi Arabia Saudi Arabia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Mac OS Mac OS X
o 21 September 2007 at 09:36
*
181

#180: kalau saya jadi anda, saya akan langsung batalkan polisnya, alasannya:

* baru 10 bulan, ‘hutang’ anda ke si agen belum lunas, dengan batal sekarang anda ‘hanya’ rugi sekitar 30-40%-an dari total yang akan anda bayarkan ke agen
* kemungkinan besar anda over insured, dan gak perlu asuransi tambahan.

tapi coba anda baca dulu tulisan saya yang satu lagi
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 21 September 2007 at 09:52
*
182

bulan sept ini ada ulasan detail di tabloid kontan edisi khusus tentang unitlink ini ama reksadana.
bisa dibuat masukan juga…
Gravatar
o Comment by kotrek
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 21 September 2007 at 14:15
*
183

di edisi khusus kontan bulan sepetember 2007 hal 18-19 ini dibahas perbandingan Unitlink dan terpisah. dan dalam bahasan itu rasanya jelas “unitlik = Asuransi + reksadana”. dan kesimpulannya lebih menguntungkan pembelian sendiri2… seperti usul pak pri…..

kesimpulan terakhirnya malah persis kata2 pak pri “perumpumaan beli tiket pake calo…..” jangan2 emang kata2 pak pri yang diambil oleh kontan edisi khusus ini ya…
Gravatar
o Comment by kotrek
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 24 September 2007 at 12:47
*
184

Halo mas Pri, salam kenal.
Penjelasan yang sangat detil.

Saya baru aja ikutan training fast start dari asuransi P*U. Saya juga sempet kaget kalao mau topup kok ada biaya potongan 5% ya.
saya rasa gak usah dikasih tahu biaya2 lainnya , cukup kita jelaskan biaya potongan5% kalao mau topup aja pasti calon nasabah akan mikir dua kali.

Saya juga rasa kegedean. Misalnya kalau kita topup100juta potongannya aja udah 5 juta. Kalau kita bukan ambil equity pasti kena potongannya udah impas kan?

Kalau kita ambil kasaran equity setahun bisa generate 15%. KIta dapatnya cuman 10% bukan? ( bener gak oom pri ? ) Saya masih cupu sih.

Tapi disini pertanyaannya kenapa produk link ini begitu populer ? Saya malam baca postingan ini mikir juga. Kenapa sih kok bisa laku kayak kacang.
Saya belum terjun ke lapangan sih tapi trainernya bilang kita waktu prospek ya cerita semuanya jgn yang manis aja.
Intinya be professional.

Mungkin masyarakat belum / kurang pengetahuan ttg investasi seperti reksadana dll. Makanya mereka pengennya ambil gampangnya toh penekanan presentasi unit link ini kan proteksi+tabungan+investasi :D. kalo yang PIA proteksi+invetasi.

Salam
Gravatar
o Comment by rudy sudarto
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Opera Opera 9.10 on Windows Windows XP
o 26 September 2007 at 08:39
*
185

#184: sebenernya biaya yang ditanggung porsi investasi unit link dan reksadana sama aja:

1. biaya pembelian
2. biaya pengelolaan investasi
3. biaya penjualan

di prudential, yang mahal cuma yang nomer 1 dan 3. biaya pembelian 5%. di reksadana paling mahal 3%. dari 5% itu, 3%-nya masuk ke kantong agen. 5% menurut saya terlalu mahal.

untuk biaya pengelolaan investasi kelihatannya sama aja antara prulink dan rata2 reksadana saham, yaitu 1.75%. tapi di reksadana ada pilihan reksadana indeks yang biaya pengelolaan investasinya jauh lebih murah (danareksa indeks cuma 0.36%). biaya ini menurut saya yang paling penting karena recurring, sedangkan yang lain cuma sekali bayar.

untuk biaya penjualan, di PAA harus disisakan Rp 1 juta. sedangkan di reksadana rata2 gratis setelah 1 tahun pertama.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 26 September 2007 at 11:22
*
186

Salam kenal.

Biaya pembelian dan biaya penjualan yang mahal itu cuma di Prudential aja atau di semua asuransi yang punya unitlink juga mirip seperti itu? Ada yang pernah menghitung2 biaya2 di asuransi lain?
Gravatar
o Comment by Dede
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 27 September 2007 at 08:50
*
187

Salam kenal Mas Pri…
Saya lagi nyari semacem program untuk menjamin hari tua buat suami. Program yg sesuai apa ya ?
Bulan lalu ditawarin Niaga Pension Plan oleh CIGNA. Kira2x ok ga produk ini ?
Terima kasih.
Gravatar
o Comment by enno
o Posted from Depok Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 27 September 2007 at 09:37
*
188

#186:

Biaya pembelian dan biaya penjualan yang mahal itu cuma di Prudential aja atau di semua asuransi yang punya unitlink juga mirip seperti itu? Ada yang pernah menghitung2 biaya2 di asuransi lain?

tentunya gak semua unit link seperti itu. tapi semua unit link yang pakai sistem agen bisa dipastikan ada overhead yang mahal.

tapi kelebihan mengambil terpisah bukan cuma soal harga, masih banyak faktor lainnya. silakan baca selengkapnya di sini

#187:

Saya lagi nyari semacem program untuk menjamin hari tua buat suami. Program yg sesuai apa ya ? Bulan lalu ditawarin Niaga Pension Plan oleh CIGNA. Kira2x ok ga produk ini ?

setahu saya niaga pension plan itu unit link juga. kalau saya lebih suka mengambil asuransi dan investasi secara terpisah. silakan baca tulisan saya yang lainnya di sini
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 27 September 2007 at 11:38
*
189

# 180
Saati itu saya belum mengenal Danareksa, …..
Jadi kalau tahu pastinya saya akan beli asuransi & Danareksa secara terpisah.

Terimakasih sebelumnya atas sarannya.
—————————–

Danareksa adalah nama perusahaan Manager Investasi, sama seperti Manulife Aset Manajemen, Schroders, Fortis, dll

Reksadana adalah nama produknya.

Semoga membantu
Gravatar
o Comment by peter
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 00:02
*
190

#184

Kalau kita ambil kasaran equity setahun bisa generate 15%. KIta dapatnya cuman 10% bukan? ( bener gak oom pri ? ) Saya masih cupu sih.

————–

100juta. dipotong 5% = 95jt
Yield 15% = hasil investasi 109.250.000

100juta. tidak dipotong
Yield 15% = hasil investasi 115.000.000

beda 750.000
ini kalo 15%, kalo yield 15%, kalo seperti diiming2 bisa 50% gimana ? ;-)

———————————
Tapi disini pertanyaannya kenapa produk link ini begitu populer ? Saya malam baca postingan ini mikir juga. Kenapa sih kok bisa laku kayak kacang.
Saya belum terjun ke lapangan sih tapi trainernya bilang kita waktu prospek ya cerita semuanya jgn yang manis aja.
Intinya be professional.
———————————

sip …
tenaga fresh nih, masih semangat.
entar kalo ditanyain kenapa kalo investasinya cuma jalan 5%, dananya bisa abis, semoga bisa tetap professional ;-)
Gravatar
o Comment by peter
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 00:04
*
191

#188
#186:

Biaya pembelian dan biaya penjualan yang mahal itu cuma di Prudential aja atau di semua asuransi yang punya unitlink juga mirip seperti itu? Ada yang pernah menghitung2 biaya2 di asuransi lain?

tentunya gak semua unit link seperti itu. tapi semua unit link yang pakai sistem agen bisa dipastikan ada overhead yang mahal.
———————————-
hmmm…
maksud mas pri seperti bancassurance kan ?
sebenarnya bank adalah agen juga kok. Komisi pada bank biasanya sih bahasa kerennya Fee Based Income.
Besarnya komisi saya tidak tahu pastinya, cuman sepertinya sama dengan komisi agen atau bahkan lebih.

dan saya belum pernah lihat yang menjual unitlink tanpa lewat agen mas (mengingat bank juga merupakan agen)

anyway, kalo dilogika nih …
di HSBC setor reksadana 500jt dapet Plasma TV seharga. 8juta. Kompensasinya dana tidak bisa ditarik 4 bulan. sementara yang WAPERD saja komisi gak sampe 1%. Jadi nasabah kudu setor 1M kalo mau ngasih bonus Plasma TV.

Kesimpulan saya sebagai orang yang gak ngerti besarnya komisi bank, pastinya komisi bank lebih besar dari komisi agen penjual reksadana itu sendiri. entah teori ini bisa berlaku pada unitlink atau tidak.
Gravatar
o Comment by peter
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 01:50
*
192

# 173

Ikut nimbrung ya…
Setahu saya awal bulan ini PRU***** mengeluarkan produk unit link syariah yang secara umum sama dengan unit link yang ada PERBEDAANNYA dimana jika nasabah dalam satu tahun tidak mengajukan klaim maka pada akhir total biaya asuransi yang terkumpul dari seluruh nasabah (dikurangi klaim)akan mendapat bagi hasilnya, tetapi bila nasabah mengajukan klaim maka tidak dapat surplus dari biaya asuransi yang terkumpul. Adil kan….?
———————————

IMHO sih cara kerjanya mirip seperti Nilai Pertanggungan Tambahan (NPT). Cuma kalo pada NPT dikembalikan lagi kepada nasabah dalam bentuk UP yang ditambahkan setiap tahunnya.
NPT ini sering ditemui pada produk wholelife.

Gak baru2 banget sih, cuman ya karena si P** ini kagak pernah punya produk wholelife, akhirnya para agen jadi bersemangat :-)

IMHO lagi, KALAU mau beli produk syariah, belilah di insurance yang basisnya memang MURNI syariah, bukan divisi. Dan di Indonesia kalo gak salah cuma ada 3 perusahaan asuransi syariah yang diakui asosiasi asuransi syariah dunia.

Jadi inget, ada wak haji ditawarin reksadana.
Haram kata dia, tidak syariah. Ketika ditanya duitnya ditaruh dimana semua ….
Di BCA dong …. yeah rite … ;-)
Indonesia banget …
Sori om melenceng dari topik, hehehehe …
Gravatar
o Comment by peter
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 02:11
*
193

#191:

Kesimpulan saya sebagai orang yang gak ngerti besarnya komisi bank, pastinya komisi bank lebih besar dari komisi agen penjual reksadana itu sendiri. entah teori ini bisa berlaku pada unitlink atau tidak.

kalau dibandingkan dengan agen perorangan, tentunya agen bank punya potensi untuk ngambil komisi lebih rendah dan tetap untung. alasannya karena jumlah nasabah dia jauh lebih banyak daripada agen perorangan.

ini perhitungan efisiensi akuisisi sederhana. contohnya, anggap agen perorangan full time rata2 punya kebutuhan sebesar Rp 10 juta/bulan, anggap dia bisa mendapatkan rata2 10 nasabah dalam sebulan, maka komisi rata2 yang diperlukan untuk menutupi biaya2 adalah 1 juta/nasabah. kalau bank jumlah nasabahnya mungkin bisa 10x lipat/bulan, jadi 100, maka komisi rata2 yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran cuma Rp 100 ribu/nasabah.

tapi itu cuma potensi, realisasinya bisa jadi berbeda. dengan pasar asuransi yang gak kompetitif, ditambah dengan ketidaktahuan konsumen asuransi, ya agen bank juga gak punya banyak insentif untuk menurunkan biayanya, walaupun mereka punya kapasitas untuk melakukannya.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 28 September 2007 at 03:41
*
194

kalo mau mulai investasi reksadana mulainya dari mana ya pak ???
jadi ga minat beli unit link . ..
lebih masuk akal perkataan pak priyadi, lebih baik kita urus sendiri coz semua jadi lebih jelas . . .
Gravatar
o Comment by alex
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 14:41
*
195

Salam kenal,
Saat ini saya ikutan unitlink dan baru berjalan 2 bulan. Karena agennya cukup meyakinkan, saya tertarik walaupun sebenarnya waktu itu agak ragu2 juga. Tetapi setelah membaca beberapa pendapat Mas Pri dan masukan yang lain saya jadi ragu apakah perlu diteruskan ikut unit link atau berhenti saja, tetapi kalau berhenti kan premi yang sudah masuk jadi hangus. Sebagai informasi saya juga sudah mengikuti asuransi beasisa berencana dan asuransi pensiun. Mohon saran Mas Pri mengenai kondisi ini. Terima kasih.
Gravatar
o Comment by Dedi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 15:17
*
196

# 195 Sebagai perbandingan, saya sudah nyetor 14 bulan.
begitu tau biaya2 siluman yang sebelumnya saya tidak tau dan ketemu blog ini dan baca kontan edisi khusus. langsung saya batalin dan ambil term life, sisanya beli reksadana.

Rgs.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 18:57
*
197

#195: kalau baru 2 bulan lebih baik berhenti saja. premi asuransi yang anda bayarkan itu sebenarnya masuk ke kantong agennya, sedangkan biaya premi yang sebenarnya masih ditalangi perusahaan asuransi dan nantinya tetap harus anda bayar lagi setelah 1 tahun.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 28 September 2007 at 20:50
*
198

- Porsi Asuransi 3,2 juta per tahun
- Porsi investasi 1 juta per tahun
Premi di bayar bulanan (350rb perbulan)
Ini perhitungan unit link sebagai bahan pertimbangan:

UP :
Asuransi dasar (99 thn) 60 jt
Rider:
- Crisis cover 160 jt (65 thn)
- Medical : 120 rb per hari (65 Thn)
- Kecelakaan : 50 jt (60 thn)

Biaya2 yang diibebankan
Tahun I
- Biaya akuisisi : 100% x 3,2 juta = 3,2 juta.
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb (dipotong dari Unit yg
terbentuk di thn ke-2 dst n bisa berubah sewaktu-waktu)
- Biaya Asuransi +/- 980 rb (di potong dari unit yang terbentuk ditahun
ke-2 dst)

Tahun II
- Biaya akuisisi 60% x 3,2 juta = 1,92 juta.
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
- Biaya Asuransi +/- 1020 rb (naik berdasarkan umur)

Tahun III
- Biaya akuisisi 15% x 3,2 juta = 480 rb juta.
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
- Biaya Asuransi +/- saya blom tau karena blom nanya (polis baru sampai
thn ke-2)

Tahun IV

Idem dengan tahun III

Tahun Ke V

Idem dengan tahun III

Tahun Ke -6 s/d Thn ke-10
- Biaya top up Porsi investasi 5% x 1 juta = 50rb
- Biaya Administrasi 27,5 rb x 12 bln =330 rb
- Biaya Asuransi +/- saya blom tau karena blom nanya (polis baru sampai
thn ke-2, yang pasti naik terus berdasarkan umur)

Tahun ke sebelas dan seterusnya katanya cuti premi, tapi kalau dana
investasi yang ada ngga cukup untuk bayar biaya asuransi (akan meningkat
berdasarkan umur) maka kita diminta bayar premi lagi, kalau ngga mau
bayar, polis kita lapse (batal)!!!!!

Trus kalo ngga salah, kalo mau nggambil porsi investasi kita di bawah
tiga tahun kena pajak 20%.

Ada yang mau koreksi?
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 28 September 2007 at 22:44
*
199

Ada yang punya ide ga, untuk mendidik masyarakat awam tentang unit link?

Dikampung halaman saya banyak sekali korban-korban unit link yang mengatasnamakan asuransi tabungan. Kasian sekali mereka dapat uang dengan bercocok tanam, berternak hewan, dll.

Orang-orang kampung ini hanya tau deposito sebelumnya.
Sekarang berdatanganlah agen2 unit link yang membodohi mereka dgn dalih masuk asuransi, uang ga angus, gratis rumah sakit, kalo sakit kritis dapet duit, cuma bayar 10 thn dicover seumur hidup, etc.

Nah mereka terang tergiurlah, karena sekarang bunga deposito udah kecil banget. Mereka2 tidak tau bahwa di dalam unit link mereka tersimpan resiko investasi. mereka juga berpikir nabungnya cuman 10 thn. Apakah ada yang menjelaskan pada mereka bahwa ada kemungkinan mereka harus bayar premi seumur hidup utk terus mendapat manfaat asuransinya?

Ada juga yg punya anak baru lahir, terus di iming-imungi unit Link dengan baju tabungan pendidikan.
Mereka terang tertarik, karena mikir biaya pendidikan mahal. Pernahkah ada yang menjelaskan bahwa tab pendidikan tsb sangat mahal, untuk UP 100 Jt mungkin hanya cocok untuk kuliah di kandang ayam 17 tahun lagi.

Mereka sangat berterimakasih ke agen2 unit link yang memasukan mereka ke tabungan yang begitu menarik dan menguntungkan. Pernahkan ada yang memberitahu mereka berapa dari uang yang mereka dapet dengan susah payah masuk ke agen di depannya, trus atasannya, atasannya lagi sampai berlevel-level sampai bertahun-tahun, dan juga buat pelesiran keluar negeri (buat mereka luar negeri itu mungkin mimpi pun ga berani)???

Wahai agen2 unit link, begitu anda membaca tulisan2 ini dan begitu tau bahwa yang mereka butuhkan hanya term life, jual lah hanya term life (dan tolong didik mereka untuk sisanya mereka bisa ke bank untuk beli reksadana).Toh manfaatnya buat mereka sama kan?
Bukalah hati nurani anda2, Jgn selalu membodohi mereka2 dengan baju tabungan padahal bukan.

Juga janganlah anda menjual asuransi ke anak baru lahir….. renungkanlah dengan hati nurani yang terdalam.

Kita ngga anti dengan asuransi atau agen asuransi, tapi cobalah untuk jujur terutama ke diri sendiri dulu : di luar komisi yang anda2 dapet, apakah ada manfaat buat orang2 kampung ini beli unit link anda dibanding kan anda jualan term life plus mendidik masyarakat untuk berinvestasi (deposito, reksadana, saham, ori, emas).

Cepat atau lambat orang2 yang di bodohi tersebut akan tau juga bahwa yang mereka beli bukan tabungan. Begitu mereka sadar trus kecewa, maka bukankah niat kita semua untuk mendidik masyarakat sadar berasuransi akan jadi bumerang?

Mungkin kita bisa juga kali minta yayasan konsumen untuk mewarning masyarakat akan resiko investasi terutama unit link (mereka nganggap tabungan)
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 29 September 2007 at 14:58
*
200

#199: wah pengalaman saya lebih parah lagi. di tempat saudara saya sekolah, seluruh siswanya dikasih penawaran unit link ‘yang itu tuh’ :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 29 September 2007 at 22:47
*
201

Hidup ini banyak pilihan bung! saya nasabah Prudential sejak tahun 2003,pada saat itu harga unit baru terbentuk Rp.2100,- dan sekarang per hari ini sdh sampe Rp.6740,-jadi saya sdh untung berapa persen tuh? Track record PAM asia oke banget! rata2 pertahun bisa berikan return 28,8%. Jadi menurut saya jangan takut dengan unitlink asal proyeksi kita utk masadepan. Unitlink menurut saya adalah ibarat “kopi susu” Asuransi=kopi,investasi=susu. Unitlink adalah kopi susu racikan prudential. Kenyataanya banyak juga tuh,yang pada suka dengan kopi susu. Kalo anda butuh kesaksian ini alamatku= siswoyo_joko@yahoo,co.id / 081 359 34 8040. :)
Gravatar
o Comment by JACK
o Posted from Malang Indonesia Indonesia
o Using Opera Opera 9.21 on Windows Windows Vista
o 30 September 2007 at 13:01
*
202

So, pak Pri, what can we do?

Saya pribadi sebenarnya gak perduli agen2 itu mau dapet misalnya 1 milyar per agen perbulannya, asal mereka open terhadap biaya2 yang dibebankan, resiko2 investasi mereka jelaskan (inipun saya ragu semua agen mengerti, karena Perusahaan Asuransi itu tuh, malah menggunakan client mereka sendiri yang juga ga ngerti untuk cari korban baru yang lebih ngga ngerti lagi tanpa pake training product segala). Dan yang terpenting menjual sesuai kebutuhan client yang memang sudah mengerti.

Yang terjadi selama ini mereka menjual ke orang yang benar2 BELUM MENGERTI. dari semua teman2 and sodara2 saya yang ikut, kira2 99 % ngga ngerti. Inilah yang menjadi keprihatinan saya.

Makanya begitu saya baca blog ini dan mempelajari polis saya, langsung sodara2 dan temen2 yang blom join agar tahan dulu, sebelom saya jelaskan ke mereka apa itu unit link. Karena kita gak akan berharap banyak terhadap agen (menyangkut pendapatan mereka) :)untuk menjelaskan produk ini secara detail BIAYA2 dan RESIKO2 pada unit link.

Saya banyak mereferensikan blog ini (tanpa izin : saya mohon maaf),ini agar semakin banyak yang baca dan bisa mendapat manfaatnya.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 30 September 2007 at 13:42
*
203

Saya background S1 keuangan, Mantan agen asuransi tradisional 10 thn lalu (so, udah ngerti asuransi, training produk 2 minggu nonstop), udah berinvestasi reksadana saham, emas dan 2 thn lalu langsung beli saham dengan online trading (ga pake broker), tontonan saya bloomberg, cnbc dan tinggal di kota terbesar di Negeri tercinta.

Bayangkan untuk background seperti diatas masih bisa ‘dikadalin’(atau emang saya yang lugu baca : bodoh)dengan ilustrasi unit link ‘yang itu tuh’

pertanyaan terbesarnya: BAGAIMANA dengan masyarakat awam dengan latar belakang petani, pedagang, peternak, penambang, yang kesehariannya nonton sinetron yang menjual mimpi, bisa MENGERTI tentang ilustrasi unit link ‘yang itu tuh’?
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 30 September 2007 at 13:58
*
204

#201
Reksadana saya dari yang harganya 9000-an sekarang 11.500-an. cuman 1 bulan, hehehe. 5 thn yang lalu baru 2000-an juga, hehehe.
Cuma bedanya saya ngga kena biaya akuisisi dan administrasi, 100 % langsung. Saya mau nanya brp porsi investasi nya? udah break even blom dengan semua2 biaya yang dikeluarkan. Karena sesuai dengan perhitungan saya untuk break-even kalo porsi investasinya 50:50 sekitar tahun ke-7.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 30 September 2007 at 16:16
*
205

wake up bung, disini kita tidak bicara return, karena kalo bicara return, saat ini ada reksadana saham yang bisa ngasih return diatas 100% pertahun di rata-rata 2 thn terakhir. Pahamilah bahwa dengan pameo investasi High return high risk (atau anda tidak tau?).

Kita bicara kalo umpama dengan menggunakan manajer investasi yang sama, maka Return reksadana + term life jauh diatas unit link manapun. Karena biaya overhead Reksadana + term life jauh lebih kecil.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 30 September 2007 at 16:34
*
206

#198: Mas, biaya2 apa saja yang dikenakan saat melakukan pembatalan unit link?
Gravatar
o Comment by byru
o Posted from Balikpapan Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 30 September 2007 at 19:36
*
207

# 201. Hidup ini banyak pilihan bung! saya nasabah Prudential sejak tahun 2003,pada saat itu harga unit baru terbentuk Rp.2100,- dan sekarang per hari ini sdh sampe Rp.6740,-jadi saya sdh untung berapa persen tuh? Track record PAM asia oke banget! rata2 pertahun bisa berikan return 28,8%.
——————————–

Yeah rite, kapan itu ketemu orang prudent katanya pake schroders dengan return 58%, sekarang pake PAM. Heran, satu perusahaan bisa beda2 bunyinya ;-)

Anyway kalo cuman 28,8% ya bisa diketawain sama MI lokal. Mau pake MI luar apa lokal, yang penting aman.

Tipikal orang indonesia, dikasih tau barang luar negeri langsung ijo matanya. :-D
Gravatar
o Comment by peter
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 30 September 2007 at 20:25
*
208

# 206
Sorry, sekarang masih dalam proses oleh agennya (temen sendiri), jadi blom tau apa aja biaya2nya.

karena baru bln ke-14, saya juga gak berharap ada uang yang kembali. Anggap uang sekolah deh, kalo ada yang balik anggap menang buntut :)

Cuma skrg udah beli term life 10 thn.

Mungkin pak Pri bisa membantu menjelaskan pertanyaan ini.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 30 September 2007 at 22:02
*
209

#201:

saya nasabah Prudential sejak tahun 2003,pada saat itu harga unit baru terbentuk Rp.2100,- dan sekarang per hari ini sdh sampe Rp.6740,-jadi saya sdh untung berapa persen tuh? Track record PAM asia oke banget! rata2 pertahun bisa berikan return 28,8%

anda bicara seakan2 di reksadana tidak begitu. padahal kenyataannya kurang lebih sama. saya ambil contoh reksadana fortis ekuitas. tahun 2003 harga NAB-nya di Rp 1800-an, sekarang sudah Rp 8200-an.

dan ada satu hal lagi kenapa membandingkan NAB reksadana dengan harga unit di unit link itu bukan perbandingan apple to apple. di reksadana, ongkos manajemen diambil dengan mengurangi harga NAB setiap tahun, sedangkan jumlah unit tidak akan dipotong. sedangkan di unit link, ongkos manajemen diambil dengan memotong harga unit. jadi harga unit di unit link itu belum bersih, kalau mau menghitung pendapatan bersih yang diterima nasabah harus dengan memperhitungkan biaya2 ini. berapa jumlah sebenarnya yang merupakan hak nasabah mungkin cuma bisa dilihat di laporan bulanan/tahunan yang diterima nasabah.

Unitlink menurut saya adalah ibarat “kopi susu” Asuransi=kopi,investasi=susu. Unitlink adalah kopi susu racikan prudential. Kenyataanya banyak juga tuh,yang pada suka dengan kopi susu

biasanya harga produk kopi susu sebanding dengan beli kopi dan susu terpisah, bahkan bisa jadi lebih murah. gak ada tuh biaya akuisisi kalau kita beli kopi susu :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 30 September 2007 at 23:08
*
210

#202:

So, pak Pri, what can we do?

kalo soal asuransi ini saya pribadi agak pesimis kecuali kalo regulator mau buka mata. yang bisa kita lakukan ya cuma seperti ini. bikin tulisan2 yang mencerahkan, dan kasih tahu sebanyak mungkin teman2 dan anggota keluarga.

Saya banyak mereferensikan blog ini (tanpa izin : saya mohon maaf),ini agar semakin banyak yang baca dan bisa mendapat manfaatnya.

no problem pak! makin banyak yang tahu makin bagus :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 30 September 2007 at 23:14
*
211

#206:

Mas, biaya2 apa saja yang dikenakan saat melakukan pembatalan unit link?

biaya2 ini beda2 tiap unit link. ini harus dipelajari masing2 nasabah karena exit strategy yang paling menguntungkan untuk setiap nasabah bisa jadi berbeda.

tapi untuk kasus yang umum mungkin kira2 seperti ini:

* belum 1 tahun: batalkan saja, gak usah pikir panjang
* nyaris 3 tahun tapi belum 3 tahun: tunggu sampai 3 tahun baru setelah itu batalkan
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 30 September 2007 at 23:18
*
212

kalo soal asuransi ini saya pribadi agak pesimis kecuali kalo regulator mau buka mata

———————-

Mudah-mudahan ada temen2 yang wartawan ekonomi atau bisnis (seperti kontan) yang membaca tulisan-tulisan ini dan mempublikasikannya sebelom berjatuhan korban-korban baru.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 1 October 2007 at 00:27
*
213

SAYA YAKIN YANG BERKOMENTAR DISINI PASTI PUNYA TENDENSI MASING2,IBARAT SEMAKIN TINGGI POHON SEMAKIN KENCANG TIUPAN ANGINNYA,DAN ITULAH YANG TERJADI PADA PRUDENTIAL. TAPI BAGAIMANAPUN PRUDENTIAL TETAP UNGGUL,TERDEPAN DAN FAKTANYA TETAP NOMOR 1,NUMERO UNO,NUMBER ONE DALAM LIMA TAHUN BERTURUT-TURUT. SAYA KIRA DISINI PAK PRI HANYA BICARA UNTUNG2AN/RETURN,TETAPI MANFAAT ASURANSI KURANG DISENTUH,ASAL TAHU SEMUA BAHWA TAK ADA YANG BISA MENGGANTIKAN ASURANSI.
Gravatar
o Comment by JACK
o Posted from Malang Indonesia Indonesia
o Using Opera Opera 9.23 on Windows Windows Vista
o 1 October 2007 at 13:19
*
214

#213:

SAYA KIRA DISINI PAK PRI HANYA BICARA UNTUNG2AN/RETURN,TETAPI MANFAAT ASURANSI KURANG DISENTUH,ASAL TAHU SEMUA BAHWA TAK ADA YANG BISA MENGGANTIKAN ASURANSI.

saya tidak pernah bilang untuk tidak ngambil asuransi, saya bilang asuransi dan reksadana itu lebih menguntungkan dan lebih maksimal jika diambil terpisah. di sini saya membahas lebih banyak dari sudut asuransinya, tapi coba baca tulisan saya yang satu lagi
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 1 October 2007 at 13:34
*
215

#213
Hehehe, anda berkomentar begitu menunjukkan anda tidak mengerti apa yang di bahas.

Atau anda takut banyak nasabah seperti saya? yang setelah baca blog ini tanpa mikir panjang melikuidasi unit link nya?
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 1 October 2007 at 13:35
*
216

#213:

FAKTANYA TETAP NOMOR 1,NUMERO UNO,NUMBER ONE DALAM LIMA TAHUN BERTURUT-TURUT

peringkat asuransi bukan satu2nya faktor yang harus dipertimbangkan nasabah. asuransi bisa yang terbaik, tapi produknya belum tentu.

kalau anda mau beli sabun di supermarket, apakah anda:

* memilih sabun yang kualitasnya paling baik; atau
* memilih sabun yang diproduksi perusahaan yang keuntungannya paling besar?
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 1 October 2007 at 13:38
*
217

#211

Thanks Pak Pri atas pendapat Anda.

Saya sudah membaca dengan teliti polis unitlink saya tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai biaya2 yang dikenakan jika kita ingin membatalkan polis tersebut.
Gravatar
o Comment by byru
o Posted from Balikpapan Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 1 October 2007 at 16:42
*
218

Sekedar sumbang saran,

Bagi yang cuma punya polis unit link dan mau menutup polis nya, sebaiknya cover dulu dengan term life berikut rider sesuai kebutuhan.

ini kita lakukan agar kita terus dicover asuransi (term life)
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 1 October 2007 at 19:35
*
219

# 207
Yeah rite, kapan itu ketemu orang prudent katanya pake schroders dengan return 58%, sekarang pake PAM. Heran, satu perusahaan bisa beda2 bunyinya ;-)

Anyway kalo cuman 28,8% ya bisa diketawain sama MI lokal. Mau pake MI luar apa lokal, yang penting aman.

Tipikal orang indonesia, dikasih tau barang luar negeri langsung ijo matanya. :-D

___________________________

Bahagialah kita2 yang mencintai produk dalem Negeri baca : LOKAL) :)

Hari ini IHSG cetak Rekor tertinggi sepanjang masa 2464,94 +2.72%
(kebayang dong yang punya reksadana schroder, fortis, trimegah, panin dll (yang punya base saham2 emiten di BEJ)

Semoga bullish terus berlanjut

:)
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 2 October 2007 at 16:15
*
220

mas bravo, emang teori & konsepnya begitu kalo reksa dana yg terdiri dr saham2 Indonesia selalu punya return lebih tinggi dibandingkan yg terdiri dr saham2 negara maju. silakan check website MSCI-Barra u/ konfirmasi indeks per negara & regional.

fyi, proporsi saham asing di reksa dana yang dikelola MI lokal cuma boleh maks 15% dr total portfolio.

kalo MI asing menawarkan produknya di Indonesia, mungkin utk kebutuhan profil risiko yg lebih rendah.
Gravatar
o Comment by anymatters
o Posted from Wellington New Zealand New Zealand
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 09:32
*
221

#220

Setuju, Tahun kemarin yang bagus tuh bursa shanghai, rusia, dan jakarta.
Om saya beli reksadana di MI singapura yang sebagian besar portofolionya emiten2 di bursa shanghai. Cuma yang kejadian, index shanghai melejit lebih dari 100%, reksadananya cuma ngasih return 50-an persen alias under perform.

Jadi MI-MI yang walaupun induknya ASING (fortis, Schroder, Manulife) atau yang full LOKAL (panin, trimegah, danareksa, makinta, dll) yang portofolionya 85 % emiten di BEJ dan max boleh 15% emiten Asing cukup perform.

Tapi ada Unit Link perusahaan asuransi tertentu selalu menjual Brand Asing krn orang Indonesia begitu denger Asing selalu metanya IJO. Padahal banyak sodara saya yang beli langsung reksadana asing malah under perform:)
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 13:10
*
222

Mas Pri dan mbak Bravo,

1. Untuk Reksadana Saham selama 25 tahun, lebih untung mana antara setor rutin 250rb perbulan atau 3 juta per tahun?

2. Hasil Reksadana Saham baru bisa dinikmati setelah di-redeem dan tidak mengenal keuntungan per hari, per bulan atau per tahun (TRUE or FALSE)?

3. Jika no 2 == TRUE, bagaimana menghitung prediksi angka/return Reksadana pada komentar mbak Bravo no #166 untuk tahun ke 10, 20 dan 25?

4. Si A punya polis Term Life dengan UP 500jt, Reksadana 3 juta per tahun, dan asuransi kesehatan 100% dari perusahaan. Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap dan PHK dengan uang PHK sangat kecil,sementara Reksadana belum memiliki return yang cukup, apa saran dari mas Pri dan mbak Bravo? Setahu saya, rider Kecelakaan pada term life hanya mengganti biaya perawatan dan tidak memberikan UP seperti di asuransi term life.

Thanks
Gravatar
o Comment by Pratiwi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.2 on Linux Linux
o 3 October 2007 at 17:11
*
223

#222

1. Kalau anda bisa memperkirakan/menganalisis gerakan IHSG secara teknical, mungkin ditabung dan masuk pada saat bursa lagi crash/koreksilebih bagus ditabung Setahun sekali dan langsung masuk gede di harga murah.Cuma tidak ada seorangpun yang bisa memprediksi bursa akan naik seberapa tinggi atau jatuh sampai seberapa dalem.
Jadi saya lebih menyarankan 250 rb per bulan, karena kita bisa dapet harga yang lebih bervariasi dan secara rata2 kita pasti dapet harga murah lebih banyak. Contoh misalnya 6 bulan:
harga 2000 kita dapet 125 unit
harga 1500 kita dapet 167 unit
harga 1000 kita dapet 250 unit
harga 2500 kita dapet 100 unit
Harga 1250 kita dapet 200 unit
harga 3000 kita dapet 83 unit
jadi harga rata2 kita selama 6 bulan 1.500.000 /925 = 1621.62
Metode ini dikenal sebagai Dollar Cost Averaging (DCA), kalo di Indo jadi Rupiah Cost Averaging (RCA)
Saya masih menggunakan metode ini walaupun cukup familiar dengan gerakan saham di BEJ (karena kemampuan analisis teknikal saya masih payah.

2.FALSE, RD selalu berfluktuasi setiap hari Bursa. Kalo anda merasa return sudah sesuai target, RD saham bisa diredeem kapan saja, even baru satu hari, waktu rebound dari crash bulan agustus kemarin RD saham juga mengalami gejolak yg signifikan. Cuma kalo redeem kurang dari 1 thn biasanya ada redemption fee yang berkisar 0-2 % (tergantung RD),diatas 1 thn rata2 redemption fee ini free.
Tapi kalo boleh saya saran, kalo beli RD saham lebih disarankan untuk jangka panjang, min 10 thn. Karena dengan gejolaknya saham, maka resiko juga makin gede.
tapi untuk jangka panjang memang RD saham terbukti memberikan return tertinggi di banding RD yang lain.
Untuk diversifikasi dan lindung nilai (hedge), saya sama pak Pri sepakat EMAS terbaik.

3. Itungan saya sederhana dengan menggunakan bunga mejemuk dan dengan asumsi return 25 % pertahun (biasanya ga bisa rata, bisa minus bisa juga jauh lebih tinggi, makanya pake metode RCA, kalo NAB nya turun jauh, malah kita seneng (kan bisa ngumpulin unit lebih banyak).Anda bisa buka excel, dan ada rumus2nya.

4.Setahu saya Rider AD&D (kecelakaan dan cacat tetap) bisa menempel di produk dasar asuransi manapun termasuk Term life. Preminya biasanya 2 per mil (gak tau udah berubah blom)
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 19:56
*
224

#222

4. Tambahan, Rider AD&D di produk asuransi manapun sifatnya sama baik itu nempel di Termlife, whole life, endowment, atau unit link. Bisa diklaim sesuai UP dan premi yang kita bayar. Jadi bisa di pasang di produk dasar manapun dan bisa dilepas kapan saja. Ngga cuma bayar biaya perawatan tapi bisa claim sesuai kausul. Untuk cacat tetap biasanya claim 100% dari UP, satu jari pun putus bisa claim. kalo ga salah misalkan UP dasar kita 500 juta, maksimal UP AD&D 1 Milyar (2 X), boleh kurang dari 500 jt.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 20:07
*
225

# 222,
2. mungkin maksud anda seperti deposito/tabungan? yang memberi bunga bulanan/harian?
Di Reksadana ada yang namanya NAB (nilai aktiva bersih)
Yang berubah adalah nilai NAB nya ini (naik/turun)
misalkan kalo NAB kita beli 5000, trus naik 50% jadi skrg NABnya 7500, begitu pun kalo turun 50 % NABnya jadi 2500.

Unit yang udah kita beli bisa kita redeem kapan saja dihari bursa dengan harga yang berlaku di hari tsb. kalo kita punya 2000 unit, mau jual 500 monggo, 1000 monggo, 2000 monggo. asal jangan jual 5000 unit.:)
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 20:22
*
226

#222
Salah satu yang saya sukai dengan mgambil asuransi dan investasi secara terpisah, saya lebih fleksibel ngatur keranjang saya.
Contoh : biaya asuransi saya per tahun 1,5 jt, kalo di unit link akan dipotong baik itu pasar lagi up (unit yang dipotong sedikit) atau down(unit yang di potong banyak).
Tapi kalo terpisah, saya ngga akan redeem unit saya untuk bayar biaya asuransi begitu bursa lagi crash (malah saya nambah) dan waktu eksekusinya jauh lebih cepat.

Juga dari segi MI, kalo kinerjanya underperform saya bisa switching kapan saja. Kalo di unit link di perusahaan asuransi tertentu sampai umur 99 thn(ngga semua, karena saya tau ada unit link yang kontraknya cuma sampai umur 70 thn, ini pun masih sangat lama )
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 20:53
*
227

#222

Tambahan (sorry baru kepikiran), sambil masak soalnya:)

Satu lagi yang saya ga suka dengan unit link adalah waktu saya terbuang sia-sia (rata2 2 thn= untuk unit link yang membebankan biaya akuisisi diawal-awal kontrak).

Sahabat terbaik untuk investasi adalah WAKTU. Perbedaan waktu antara 18 dan 20 thn dengan asumsi saya invest 250rb/ bulan dan return rata2 25% (+/-) 660 jt.
cukup besar kan?
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 21:24
*
228

# 226 #222
Salah satu yang saya sukai dengan mgambil asuransi dan investasi secara terpisah, saya lebih fleksibel ngatur keranjang saya.
Contoh : biaya asuransi saya per tahun 1,5 jt, kalo di unit link akan dipotong baik itu pasar lagi up (unit yang dipotong sedikit) atau down(unit yang di potong banyak).
Tapi kalo terpisah, saya ngga akan redeem unit saya untuk bayar biaya asuransi begitu bursa lagi crash (malah saya nambah) dan waktu eksekusinya jauh lebih cepat.
—————————
yoiyoi …
kemaren waktu blackfriday (tangah agustus 2007) IHSG turun sampe 1900an, gw malah inject di RD. Barusan gw redeem. Yield 20%. Dalam hitungan kurang dari 6 minggu.

Unitlink tidak memberikan kemudahan seperti ini, kita bisa masuk dan keluar kapanpun dengan potongan yang lebih sedikit
Gravatar
o Comment by peter
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP
o 3 October 2007 at 23:06
*
229

#222:

Untuk Reksadana Saham selama 25 tahun, lebih untung mana antara setor rutin 250rb perbulan atau 3 juta per tahun?

tergantung. kalau disetorkan di awal tahun lebih untung 3 juta per tahun. tapi kalau disetorkan di akhir tahun lebih untung 250 rb/bulan. tapi saya setuju dengan mbak bravo, setor rutin saja 250rb/bulan karena penghasilan kita terima bulanan, bukan tahunan.

Hasil Reksadana Saham baru bisa dinikmati setelah di-redeem dan tidak mengenal keuntungan per hari, per bulan atau per tahun (TRUE or FALSE)?

hasil reksadana saham baru bisa dinikmati setelah diredeem: TRUE, kalau masih dalam bentuk unit ya gak bisa kita nikmati, harus dikonversi dulu dalam rupiah karena itu alat tukar yang resmi.

reksadana saham tidak mengenal keuntungan periodik: FALSE. keuntungan saham itu ada 2: capital gain dan dividen. keuntungan yang periodik itu dividen, tapi di kebanyakan reksadana hasil dari dividen otomatis direinvestasikan kembali ke dalam pokok.

bagaimana menghitung prediksi angka/return Reksadana pada komentar mbak Bravo no #166 untuk tahun ke 10, 20 dan 25?

untuk simplenya pake kalkulator ini aja: http://formularium.org/en/10.html?go=62.84

untuk menghitung hasil di masa yang akan datang dari yang anda setorkan saat ini, gunakan bagian ‘to determine future value when interest is compounded’. untuk menghiutng hasil di masa yang akan datang dari setoran periodik, gunakan bagian ‘future of an annuity’

present value PV = setoran yang dilakukan saat ini
payment amount PA = besar setoran yang dilakukan secara tahunan
interest rate r = asumsi perkembangan investasi (untuk RD saham, masukkan saja antara 15 sampai 30%)
number of compounding period n = jumlah tahun
number of periods n = jumlah tahun

untuk rumus matematisnya silakan lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Future_value, sebenernya ini bahan kuliahan kok. yang pernah dapat matkulnya harusnya langsung ingat lagi.

Si A punya polis Term Life dengan UP 500jt, Reksadana 3 juta per tahun, dan asuransi kesehatan 100% dari perusahaan. Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap dan PHK dengan uang PHK sangat kecil,sementara Reksadana belum memiliki return yang cukup, apa saran dari mas Pri dan mbak Bravo? Setahu saya, rider Kecelakaan pada term life hanya mengganti biaya perawatan dan tidak memberikan UP seperti di asuransi term life.

yang mengganti biaya perawatan itu adalah coverage rawat inap, dan bukan kecelakaan. harusnya ada kok yang memberi rider kecelakaan. tapi kalau yang sekarang gak punya, gak susah kok cari asuransi kecelakaan murni secara terpisah. silakan search ‘asuransi kecelakaan’.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 4 October 2007 at 05:07
*
230

Saya baru saja ditawari ansuransi pendidikan dari allianz tapi belum saya approve. setelah baca postingan dari om pri 100% gak bakal ikut. saya orang ndeso pak, jauh dari jakarta ingin mengikuti term life + reksadana caranya gimana? term life dari asuransi mana yang preminya 300 ribu per tahun? di kota saya hanya ada bank BCA, danamon, BNI, Mandiri, BRI dll bagaimna caranya saya bisa berinvestasi lewat danareksa? tolong beri saya pencerahan perusahaan danareksa mana yang bisa bayar cuma 250 ribu per bulan dan kalo bisa transaksinya online di internet. terimakasih
Gravatar
o Comment by wahyu
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 6 October 2007 at 22:01
*
231

#230:

untuk reksadana, coba manulife (http://www.reksadana-manulife.com). mereka terima nasabah retail langsung tanpa harus lewat agen. dan kalau gak salah mereka bersedia mengirimkan formulir pendaftaran ke tempat2 yang jauh.

untuk term life ini yang saya gak tahu. biasanya term life gak dijual partai kecil. axa mandiri minimal UP 500 jt, sedangkan manulife minimal premi 1 juta/tahun. coba anda research sendiri dengan tanya2 ke beberapa cabang bank.

btw. lokasi anda dimana ya?
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 6 October 2007 at 23:19
*
232

PAK PRI SAYA JADI TERHERAN-HERAN DENGAN TULISAN ANDA YANG MENYUDUTKAN PERUSAHAAN ASURANSI UNIT LINK,KALAU SAYA BOLEH NANYA,ANDA DIBAYAR BERAPA SAMA PERUSAHAAN ASURANSI PESAING UNITLINK UNTUK MEMBUAT OPINI PUBLIK SEPERTI INI,INI SAMA ARTINYA DENGAN “BLACK CAMPAIGN” ACUNGAN JARI TENGAH UNTUK PRIYADI.
Gravatar
o Comment by JIWASRAYA
o Posted from Malang Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 10 October 2007 at 13:23
*
233

#232: oh, saya gak dibayar, malah saya yang bayar karena ikutan asuransi hehehe. saya cuma nasabah yang mencari deal yang terbaik :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 10 October 2007 at 14:09
*
234

Mas Pri,

Anak saya sudah ikut Unit-link, bulan depan pas 2 tahun. Bagusnya stop aja atau tunggu sampai 3 tahun dulu baru stop ? Rencana saya mau coba reksadana aja.

Salam,
Mama cece
Gravatar
o Comment by Hera Yanti
o Posted from Riau Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 10 October 2007 at 16:43
*
235

PAK PRI SAYA JADI TERHERAN-HERAN DENGAN TULISAN ANDA YANG MENYUDUTKAN PERUSAHAAN ASURANSI UNIT LINK,KALAU SAYA BOLEH NANYA,ANDA DIBAYAR BERAPA SAMA PERUSAHAAN ASURANSI PESAING UNITLINK UNTUK MEMBUAT OPINI PUBLIK SEPERTI INI,INI SAMA ARTINYA DENGAN “BLACK CAMPAIGN” ACUNGAN JARI TENGAH UNTUK PRIYADI.

Sabar Pak.
Mas Priyadi bukan melakukan Black Campaign, tapi Mas Priyadi hanya sekedar sharing informasi. Sedangkan informasi yang Mas Priyadi ketahui sebenarnya belum cukup untuk di sharing, misalnya manfaat sebenarnya dari Unit Link.

Harap maklum Pak. Kalau Bapak seorang agen asuransi Unit Link, mungkin bisa membantu sharing di sini ttg manfaat Unit Link. Karena saya beranggap seorang agen lebih profesional dalam menyampaikan produk.
Gravatar
o Comment by Firesquid
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 01:47
*
236

Anak saya sudah ikut Unit-link, bulan depan pas 2 tahun. Bagusnya stop aja atau tunggu sampai 3 tahun dulu baru stop ? Rencana saya mau coba reksadana aja.

Maaf Bu, kalau saya menyela.
Menurut saya Ibu tetap meneruskan Unit Link, dan ambil reksadana sebagai tambahan. Sebab manfaat Unit Link itu ada 2 :
- jaminan proteksi
- jaminan investasi

Saya yakin ketika Ibu menandatangani kontrak Unit Link, Ibu pasti diberitahukan juga oleh agen mengenai 2 manfaat tsb. Dan tentu saja setiap orang perlu akan kedua hal tsb.

Pada dasarnya gini Bu, reksadana dan Unit Link adalah produk yang berbeda dan tidak bisa dibandingkan. Reksadana hanya sekedar alat untuk ber-investasi, sedangkan Unit Link merupakan jaminan investasi jika nasabah terkena resiko hidup.

Jika Mas Priyadi banyak menceritakan kekurangan dari Unit Link, menurut saya adalah hal yang wajar. Sebab analisa Mas Priyadi berfokus pada profit, bukan benefit.
Jika melihat dari segi profit, masih banyak investasi lain yang lebih menguntungkan daripada ikut reksadana.

Ibu tentu tau bahwa hidup ini bukan hanya sekedar untuk cari uang, orang juga butuh yang namanya jaminan. Saya yakin, karena benefit jaminan inilah yang dulunya membuat Ibu masuk Unit Link.
Gravatar
o Comment by Firesquid
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 02:04
*
237

#234:

Anak saya sudah ikut Unit-link, bulan depan pas 2 tahun. Bagusnya stop aja atau tunggu sampai 3 tahun dulu baru stop ? Rencana saya mau coba reksadana aja.

kalau saya stop saja bu, untuk menghindari kerugian lebih lanjut di masa yang akan datang. kemudian alihkan nilai polisnya ke reksadana. tapi sebelum anda batal ada baiknya ibu daftar dulu ke term life.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 October 2007 at 02:50
*
238

#235:

Harap maklum Pak. Kalau Bapak seorang agen asuransi Unit Link, mungkin bisa membantu sharing di sini ttg manfaat Unit Link. Karena saya beranggap seorang agen lebih profesional dalam menyampaikan produk.

kalau ada agen unit link yang bilang unit link bagus itu sih sudah biasa :). sales kecap pasti bilang kecapnya nomer satu :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 October 2007 at 02:54
*
239

# 234

Menurut saya, yang dijadikan tertanggung jangan anaknya bu, harus kepala keluarga yang menjadi sumber pencari nafkah.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 08:25
*
240

# 232
Anda mewakili siapa, Institusi atau pribadi?

Wah.. diskusi kita ttg unitlink vs termlife+reksadana akan jadi semakin menarik dan memasuki babak baru seandainya anda mewakili institusi anda dalam memberikan respon atas diskusi ini.

Silakan anda mengutarakan alasan keunggulan/kelebihan unitlink dibandingkan dengan termlife+reksadana, saya kira kita semua yang terus mengikuti diskusi ini selalu bersikap terbuka terhadap semua informasi. Siapa tau alasan yang anda utarakan nanti bisa membuat kita mempertimbangkan kembali untuk ikut unitlink.
Gravatar
o Comment by wiera
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 09:14
*
241

Pak Pri dan mb bravo, mohon sarannya. Saya tertarik asuransi termlife MMM kontrak 5 tahun dengan UP 500 juta + kecelakaan 500 juta + sakit kritis 250 juta (jika kena, mengurangi UP jiwa) + waiver (waiver dibayarkan stlh 6 bulan terkena cacat tetap/sakit kritis yang mangakibatkan tidak bisa bekerja kembali)dengan besar premi 3 juta per tahun. Kira-kira kemahalan gak? Untuk asuransi kesehatan, saya udah ada calon lain. Ditunggu pendapatnya..Trims.
Gravatar
o Comment by sabai
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 14:53
*
242

#241: umur berapa? wanita/pria? merokok/tidak?

btw, asuransinya apa nih? kalau gak keberatan mohon email saya karena saya sedang mencari term life yang CI-nya mengurangi UP jiwa.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 October 2007 at 15:41
*
243

Saya wanita usia 34 tahun tidak merokok. Manulife Proactive Plus/MPP (5 tahun). Setelah 5 tahun baru ada kenaikan premi (kata agennya. Pak pri kok pilih CI yang mengurangi UP? Kenapa ? Soalnya ada juga termlife Allianz Smart Life/ASL, UP 500 juta + kecelakaan 500 juta + sakit kritis 250 juta ( tidak mengurangi UP) + waiver tapi preminya lebig mahal yaitu hampi 4,5 juta. Mhn jawaban pak pri kenapa pilih yang sakit kritis mengurangi UP? dan mending mana MPP atau ASL? Kemahalan gak? Trims.
Gravatar
o Comment by sabai
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 16:21
*
244

#243:

Saya wanita usia 34 tahun tidak merokok. Manulife Proactive Plus/MPP (5 tahun)

rasanya biaya segitu masih reasonable. tapi terus terang saya gak ngambil CI & gak sempat research kiri kanan tentang CI. coba tanya dulu ke commonwealth life atau sun life, mereka punya term+CI juga. atau kalau bisa sekalian research yang lain2nya juga hehehe.

Mhn jawaban pak pri kenapa pilih yang sakit kritis mengurangi UP?

gini. tips saya di posting sebelah itu gak memperhitungkan CI. kalau misalnya nasabah seorang pekerja tapi gak punya tanggungan, maka dia gak perlu asuransi jiwa, tapi dia tetap butuh CI kalau2 dia terkena penyakit kritis, dia gak bisa kerja lagi tapi tetap hidup. karena saya gak bisa nemu asuransi CI tersendiri, maka term life + rider CI yang memotong UP dasar adalah alternatif berikutnya.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 October 2007 at 16:57
*
245

# 241

Produk dan UP yg saya ambil sama dengan anda hanya tanpa waiver.
Gravatar
o Comment by bravo
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 17:22
*
246

Gini Mas Priyadi. Ada baiknya mas merevisi tulisannya.
Pada dasarnya Reksadana bertujuan untuk berinvestasi, sedangkan Unit Link berfungsi untuk proteksi.

Saya cukup setuju dengan komentar beberapa orang di atas, bahwa Mas Priyadi hanya membahas dari segi value. Sedangkan dari segi benefit tidak dibahas sama sekali.
Gravatar
o Comment by Firesquid
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.3 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 20:00
*
247

#244
Saya cuma sempat lihat sekilas commlife dan takaful falah tapi coverage dan info yang didapat tidak sebanyak MPP dan ASL.
Gravatar
o Comment by sabai
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 11 October 2007 at 20:13
*
248

#246:

Saya cukup setuju dengan komentar beberapa orang di atas, bahwa Mas Priyadi hanya membahas dari segi value. Sedangkan dari segi benefit tidak dibahas sama sekali.

tulisan yang ini memang menitikberatkan urusan investasi. untuk urusan asuransinya, silakan baca tulisan saya yang satu lagi.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 October 2007 at 20:21
*
249

Saya sependapat dengan Mas Priyadi. Saya juga seorang Agen Asuransi Profesional. Dan saya mengerti bahwa Mas Priyadi memberikan informasi yang sanga proporsional. Karena saya tahu ada beberapa Agen Asuransi dari Perusahaan Asuransi yang tidak punya Fund Manager, jualannya ngawur. Nasabah dikadalin. Mereka Banyak ngomong tapi gak mau jujur tentang Alokasi Biaya Premi. Asuransi Unt Link yang sebenarnya SANGAT BAGUS, Image - nya jadi jatuh gara-gara Agen Asuransi yang bego itu. Mestinya mereka harus fair menjelaskan tentang bagaimana mekanisme Unit Link. Jadi pendapat saya : Mas Priyadi sudah Proporsional. Unit Link dengan Asuransi + Proteksi yang terpisah keduanya sama bagusnya. bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk saling melengkapi. Tinggal bagaimana kebutuhan Nasabah aja.
Hai para Agen Asuransi…. ingat lho : Anda tidak boleh hanya berfokus pada Komisi saja. Tetapi lebih penting untuk berfokus pada Kebutuhan Nasabah. Jadi berikanlah informasi yang benar & lengkap.
Gravatar
o Comment by DIONISIUS ARIBOWO
o Posted from Semarang Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows XP
o 14 October 2007 at 03:34
*
250

wow…sepertinya perbincangan ini sangat menarik saya untuk berkomentar. Saya seorang agen asuransi yang setiap hari ngomongin unit link ( proteksi dan juga investasi ). Jadi juga ada ngomongin produk dari asset management seperti reksadana, obligasi, saham, pasar uang.

Sesungguhnya 3 pilihan untuk keuangan kita ( bank, asuransi, dan asset management ) memiliki fungsi dan keunggulan masing2. Jadi sangat tergantung dengan apa tujuan daripada perencanaan keuangan tersebut. Tidak semata mata ini lebih baik atau paling baik. makanya, agen yang profesional akan selalu menanyakan apa tujuan investasi tersebut terlebih dahulu. Karena itu PASTIKAN ANDA SEMUA MENDAPATKAN SEORANG FINANCIAL CONSULTANT yang berkomitmen dan profesional.

Banyak keunggulan, dari perusahan besar, tapi kalau konsultannya tidak benar, maka sangat besar kemungkinan keunggulan tsb akan bisa mengecewakan.

untuk anda yang ingin melihat lebih jauh, silakan mampir ke : http://www.*******.com atau terus ikuti diskusi ini lebih jauh.

Terimakasih pak priyadi, sangat senang klo saya bisa bertemu dengan anda. Karena banyak hal yang pak pri belum jelaskan dengan unit link. Mungkin tidak seperti yg pak pri bayangkan. saya tunggu…

SUKSES SELALU.:d/
Gravatar
o Comment by madeallianz
o Posted from Mega Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 14 October 2007 at 04:15
*
251

Mas Pri, saat ini saya kerja di perusahaan yang ngasih biaya kesehatan saya+istri+3anak 100% (no limit), saat ini saya asuransi jiwa, unit link (yang dah terlanjur kebeli) dan mulai reksadana kecil-kecilan. Yang saya tanyakan: perlu gak ya ambil asuransi kesehatan? karena setelah pensiun benefit dari perusahaan sudah tidak saya terima lagi. ato ada ga agen asuransi yang bisa cover usia di atas usia pensiun?
Gravatar
o Comment by Herlina
o Posted from Houston United States United States
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 19 October 2007 at 20:48
*
252

#251:

Mas Pri, saat ini saya kerja di perusahaan yang ngasih biaya kesehatan saya+istri+3anak 100% (no limit), saat ini saya asuransi jiwa, unit link (yang dah terlanjur kebeli) dan mulai reksadana kecil-kecilan. Yang saya tanyakan: perlu gak ya ambil asuransi kesehatan? karena setelah pensiun benefit dari perusahaan sudah tidak saya terima lagi. ato ada ga agen asuransi yang bisa cover usia di atas usia pensiun?

pensiunnya berapa tahun? asuransi kesehatan biasanya maksimum cuma bisa sampai 65 tahun.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 19 October 2007 at 22:03
*
253

Pensiun umur 55tahun. gimana kalau ngambilnya beberapa tahun sebelum pensiun?
Gravatar
o Comment by Herlina
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 20 October 2007 at 14:28
*
254

#253:

Pensiun umur 55tahun. gimana kalau ngambilnya beberapa tahun sebelum pensiun?

bisa dicoba. beberapa asuransi kesehatan gak perlu medical lagi sebelum tahun tertentu. coba ditanya2 saja mulai sekarang.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 20 October 2007 at 16:00
*
255

TO : PRIYADI.

Yang jadi masalah sebenarnya bukan unitlink atau reksadana, karena keduanya produk tersebut ada plus dan minusnya. Karena tidak ada sesuatu yang sempurna didunia ini.

Masalah yang sebenarnya ada pada diri Anda sendiri. Ngaku aja, Anda sedang frustasi kan, karena pasar Anda di Reksadana banyak diambil oleh unitlink.

Anda berlagak profesional tetapi sesungguhnya kampungan, buktinya anda menjelekkan produk lain.

Ingat bung, ada hukum tabur tuai. Siapa menabur pasti menuai. Kalau Anda menabur sesuatu yang baik, anda pasti menuai yang baik, sebaliknya kalau anda menabur yang jelek pasti anda akan menuai yang jelek juga. INGAT ITU!!
Gravatar
o Comment by HERO
o Posted from Malang Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 22 October 2007 at 21:55
*
256

#255:

Masalah yang sebenarnya ada pada diri Anda sendiri. Ngaku aja, Anda sedang frustasi kan, karena pasar Anda di Reksadana banyak diambil oleh unitlink.

wtf? orang beli unit link atau reksadana saya gak dapat untung sama sekali kok :). saya cuma nasabah yang mencari deal yang terbaik :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 23 October 2007 at 00:20
*
257

Pak pri, saya baru ikutan membeli beberapa RD saham. Tapi sekarang IHSG lagi turun terus. Katanya saat harga turun, justru itu saat terbaik kita untuk membeli ya?
Saya mohon saran juga untuk produk investasi jangka pendek selain emas dan apakah RD pendapatan tetap masih feasible, mengingat kejadian yang lalu? Trims atas jawabannya.
Gravatar
o Comment by sabai
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 23 October 2007 at 15:05
*
258

Ga jg kok, hari ini ihsg dah rebound.
Indeks naik +/- 100 poin dan bertengger di level 2553.80 Entah besok, mudah2an tetap ok terus…
Gravatar
o Comment by wiera
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.8 on Windows Windows XP
o 23 October 2007 at 16:27
*
259

#257:

Pak pri, saya baru ikutan membeli beberapa RD saham. Tapi sekarang IHSG lagi turun terus. Katanya saat harga turun, justru itu saat terbaik kita untuk membeli ya?
Saya mohon saran juga untuk produk investasi jangka pendek selain emas dan apakah RD pendapatan tetap masih feasible, mengingat kejadian yang lalu? Trims atas jawabannya.

kalau RD saham saya setor pake mata terutup aja :). dengan menyetor nominal kecil secara rutin harusnya bisa meminimalkan resiko beli terlalu mahal. kalau pasar lagi fluktuatif seperti ini, frekuensinya bisa ditingkatkan lagi, dari sebulan sekali jadi misalnya seminggu sekali. buat saya yang bukan orang ekonomi, jauh lebih produktif seperti ini karena gak mengganggu konsentrasi saya ke pekerjaan utama saya.

untuk saat ini saya cuma pakai saham dan emas saja.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 24 October 2007 at 01:09
*
260

Busyet..baca dari atas ampe bawah pegel nih leher.

Saya ikutan urun rembug aja :

1. Mo asuransi, mo investasi atau gabungan semuanya tergantung kebutuhan ( bukan keinginan ). Jadi bisa saja setiap orang punya pandangan berbeda beda tentang ini.
2. Kalau mo cari yang terbaik susah juga, at least mendekati, tapi itukan versi kita. belum tentu orang lain sependapat
3. Kalau ngomongin masalah agen, emang dituntut kejujuran yang tinggi.Pokoknya kalo ngejelasin yang lengkap biar konsumen ga gondok belakangan.
4. Saya ga setuju kalo kita terus terusan memojokkan seorang agen. apalagi udah menyangkut komisi. Apa iya seorang agen harus membuka jumlah komisinya ke konsumen??itu hak dia kan. Yang penting kita butuh kejujuran dr seorang agen
5.Buat Mas Pri, sekedar kritik aja. Kalo saya baca tulisan2nya kok kayaknya benar2 membuat image unitlink jelek ya?? Ga boleh gitu Mas. Namanya juga cari rejeki, kan udah ada yang ngatur.Share pendapat bagus, apalagi ditambah dengan tidak menjelek2an yang lain

Piss…
Gravatar
o Comment by traps
o Posted from Plano United States United States
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows 2000
o 5 November 2007 at 17:23
*
261

#260
1-3. Tiap org punya pandangan yang berbeda, tapi pasti bisa dicari mana pandangan yang paling benar.
4. Saya pribadi setuju agen harus transparant juga masalah komisi yang mereka peroleh, bagaimanapun itu adalah uang saya, dan saya berhak tau kemana aja uang saya akan mengalir, jika dirasa komisi bagi agen itu wajar saya pasti Acc, tapi kl ngak, mendingan cari perusahaan asuransi yang lain atau cari produk yang lain, dimana saya merasa bahwa saya merasa mendapatkan harga dan nilai yang pantas bagi uang saya.
5. Ini bukan masalah menjelekkan, tapi bagi saya pribadi setiap produk dari itu punya kelebihan dan kekurangan, nah kl memang dirasa kekurangannya lebih besar kenapa harus menutupi kekurangan tersebut. Kl bagus dibilang bagus, kl jelek ya harus berani dibilang jel, saya rasa cukup fair. Nasabah seperti saya berhak untuk mendapatkan informasi yang sedetil2xnya dari tiap produk, dan saya pribadi merasa produk UL merupakan produk yang buruk.

Saya rasa posting Mas Priyadi cukup relevan dan pendapat2xnya bisa diterima dengan logika. Saya sendiri berterimakasih kepada Mas Priyadi telah membuka mata saya ttg apa itu UL.
Gravatar
o Comment by ari
o Posted from Satellite Provider Satellite Provider
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.9 on Windows Windows XP
o 5 November 2007 at 20:34
*
262

salam kenal,
Saya berterimakasih sama P.Pri atas postingnya yang sangat edukatif. Ini membuat saya menyesal karena ikut asuransi dengan unit link dan tidak tau beda antara asuransi term life dan whole life itu.
Sesudah saya check ulang ternyata dengan premi 6 juta setahun, saya cuma dapet uang pertanggungan 40 juta (yang sebenarnya gak butuh2 amat) dan investasi. Dan setelah saya desak financial advisornya baru bilang kalo ada asuransi term life dengan 1,5 juta per tahun dan UP 500 juta, jauh lebih besar, dan kalo sisanya saya investasikan sendiri di reksadana, seharusnya hasilnya lebih bagus.
Bener2 pelajaran yang mahal.
Saya minta bantuan saran dari P. pri dan yang bukan agen asuransi,apakah saya harus menhentikan asuransi saya (2 asuransi, axa pendidikan dan dan dana sejahtera), yang baru sejalan setaun pas?
Saya coba membatalkan, tapi kok rasanya gak enak sama advisornya?
Gravatar
o Comment by fiyu
o Posted from Nusa Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 6 November 2007 at 17:13
*
263

#260:

Mo asuransi, mo investasi atau gabungan semuanya tergantung kebutuhan ( bukan keinginan ). Jadi bisa saja setiap orang punya pandangan berbeda beda tentang ini.

kebutuhan gak ada hubungannya dengan bahasan saya. saya cuma menyimpulkan, bahwa untuk perlindungan yang sama, term life + reksadana akan lebih maksimal daripada unit link. hasilnya sudah saya hitung secara kuantitatif di sini: http://priyadi.net/archives/2007/10/18/hitung-hitung-asuransi-unit-link-vs-terpisah/

Saya ga setuju kalo kita terus terusan memojokkan seorang agen. apalagi udah menyangkut komisi. Apa iya seorang agen harus membuka jumlah komisinya ke konsumen??itu hak dia kan. Yang penting kita butuh kejujuran dr seorang agen

kalau dia gak mau kasih tahu, saya juga punya hak untuk tidak beli lewat dia. agen yang jujur tidak perlu menutup2i hal ini.

Buat Mas Pri, sekedar kritik aja. Kalo saya baca tulisan2nya kok kayaknya benar2 membuat image unitlink jelek ya?? Ga boleh gitu Mas. Namanya juga cari rejeki, kan udah ada yang ngatur.Share pendapat bagus, apalagi ditambah dengan tidak menjelek2an yang lain

oh tidak. saya tidak membuat image unit link menjadi jelek. saya cuma cerita apa adanya saja dari sudut pandang nasabah. kalau ada yang membuat jelek mungkin itu karena unit link memang sudah jelek dari sananya :)

#262:

Saya minta bantuan saran dari P. pri dan yang bukan agen asuransi,apakah saya harus menhentikan asuransi saya (2 asuransi, axa pendidikan dan dan dana sejahtera), yang baru sejalan setaun pas? Saya coba membatalkan, tapi kok rasanya gak enak sama advisornya?

kalau menurut saya lebih baik batalkan, karena dalan 1 tahun belum semua overhead unit link sudah anda bayarkan. selain itu anda jadinya punya double coverage dan double biaya administrasi juga, karena sepertinya ada manfaat yang overlap antara axa pendidikan dan dana sejahtera.

kalau enak gak enak kadang2 memang susah pak, untuk ini silakan diputuskan sendiri, saya gak bisa bantu :(.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 6 November 2007 at 18:12
*
264

# 262
Sebelumnya saya ikut salah satu produk UL tetapi baru berjalan 3 bulan dengan premi 500 ribu/bulan, setelah membaca artikelnya Mas Pri dan temen-temen yang lain saya dapat mengetahui lebih jelas produk UL dan reksadana. Dengan mendapat pencerahan tsb akhirnya saya membatalkan UL. Waktu itu memang agennya bertanya juga kenapa membatalkan UL saya. Dari 1,5 juta yang sudah disetorkan saya mendapat pengembalian sekitar 600 ribuan.
Gravatar
o Comment by Dedi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 7 November 2007 at 11:47
*
265

Wew… TOP bgt buat Priyadi…
aku fans beratmu…
mulai tertarik baca artikel dari Priyadi mulai dari asiabersama dsb…
Semua tulisan Mr.Priyadi ini bener2 ngegemesin..
Smart,,berdasarkan pengalaman dan fakta,,up date,,,,

Reksadana,here i come….

Thanks Mas Pri

Wew Luv u so much…

:x:x

^_^

DEDU
Gravatar
o Comment by dedu
o Posted from Denpasar Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows 98
o 9 November 2007 at 16:32
*
266

Thanx atas posting dr teman2 terutama Om Pri dan Tante Bravo. Skrg sy jadi tau + dan - antara UL dan Term + Rsd.menurut pendapat sy artikel2 dr Om pri & Tante Bravo memang reasonable,relevan dan pendapat2nya bisa diterima dengan logika. sy tdk bermaksud jelek ” SARAN SY kpd teman2 jangan terlalu cepat mengambil keputusan walaupun sudah ada fakta2 maupun pendapat2 yg bisa diterima dng logika, karena keputusan yg anda ambil anda sendiri menanggung resikonya bukan orang lain walaupun itu atas petunjuk orang lain yg sangat pintar. hal yg kata org (kelihatan) jelek belum tentu jelek dan yg baik belum tentu baik “.Mohon MAAF SEBESAR-BESARNYA jika OM & TANTE tersinggung dng kata-kata sy.OK. ALWAYS LEARN and OPEN YOUR MIND.^:)^:d
Gravatar
o Comment by richardo
o Posted from Sidoarjo Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 15 November 2007 at 11:57
*
267

ikutan sharing ah..bebas khan :), pendapat saya sih kalo ikut unit link ( = simple aja, beli satu dpt dua proteksi+investasi ), jd ngak pusing2. :d, yg penting kita beli dr perusahaan yg bonafide kls dunia, ada historical returnnya, portofolionya jelas (ada fundfactsheetnya) nilai nav investasinya transparan ada di koran bisnis, (AXA Maestrolink equity bagus menurut saya).. Ambil contoh : dgn menyetor 1 juta di unit link, tiba2 bsk terjadi resiko hidup (kecelakaan/sakit/meninggal) bisa langsung keluar manfaatnya berupa Uang Pertanggungan/biaya rawat inap, etc,… nah skrg bandingkan dgn setor 1 juta lgs ke reksadana , kejadian nya sama bsk terjadi resiko hidup, apa yg didapat dari reksadana :( nothing , malah yg udah disetor diambil lg buat biaya ??..so , jd ambillah sesuatu yg bisa memberi manfaat yg maksimal buat diri sendiri…:)tku peace
Gravatar
o Comment by kaka
o Posted from Bandung Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 18 November 2007 at 11:45
*
268

#267: berinvestasi di reksadana tentunya bukan berarti gak ngambil asuransi sama sekali, tapi tetap mengambil asuransi jika diperlukan secara terpisah.

silakan baca dua posting saya yang berikut ini jika masih belum jelas:

* tips membeli asuransi jiwa
* hitung-hitung asuransi unit link vs terpisah
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 18 November 2007 at 18:05
*
269

mo komentar dikit, bagi yg ikut term life (yg tiap tahun/periode perpanjang kontrak)

HATI HATI : apabila anda di tengah jalan terkena penyakit, saya yakin perpanjangan kontrak anda akan DITOLAK, bagi perusahaan asuransi yg merupakan perusahan yg mau cari untung alias bukan yayasan sosial, buat apa terima perpanjangan kontrak yg sudah jelas2 nasabah tersebut sakit (perusahaan akan keluar duit bayar claim nasabah), walaupun perusahaan asuransi ada yg kasih garansi bahwa perpanjangan akan di terima
Gravatar
o Comment by michelle
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.9 on Windows Windows XP
o 22 November 2007 at 15:14
*
270

#269:

HATI HATI : apabila anda di tengah jalan terkena penyakit, saya yakin perpanjangan kontrak anda akan DITOLAK, bagi perusahaan asuransi yg merupakan perusahan yg mau cari untung alias bukan yayasan sosial, buat apa terima perpanjangan kontrak yg sudah jelas2 nasabah tersebut sakit (perusahaan akan keluar duit bayar claim nasabah), walaupun perusahaan asuransi ada yg kasih garansi bahwa perpanjangan akan di terima

klausul jaminan perpanjangan asuransi term life tertera hitam di atas putih di polisnya. kalau perusahaan asuransi menolak untuk memperpanjang, nasabah bisa menuntut perusahaan asuransi tersebut!

soal “buat apa terima perpanjangan kontrak yg sudah jelas2 nasabah tersebut sakit”, ini tentunya sudah dipertimbangkan dalam harga premi yang dibayar nasabah.

yang gak ada klausul ‘guaranteed renewability’ adalah manfaat kesehatan. tapi di unit link pun berlaku hal yang sama.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 22 November 2007 at 15:23
*
271

wong sudah dijelasin sejelas jelasnya sama Mas Priyadi, koq ya masih ada orang yang tolol ya ? udah gitu…mereka sirik lagi. Wah… emang bener-bener bego tuh orang-orang yang membantah Mas Priyadi…….
Gravatar
o Comment by dionabow@indosat.net.id
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 28 November 2007 at 01:44
*
272

Mas Priyadi punya nomor FREN gak ? saya salah satu Pendukung Anda lho. Boleh Konsultasi by phone ?
Gravatar
o Comment by dionabow@indosat.net.id
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 28 November 2007 at 01:46
*
273

#272:

Mas Priyadi punya nomor FREN gak ? saya salah satu Pendukung Anda lho. Boleh Konsultasi by phone ?

gak punya FREN. tapi kalau mau tanya2 silakan email saya.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 28 November 2007 at 06:37
*
274

Saya orang awam dalam hal ini. Tapi setelah membaca semua comment yang ada saya jadi tertarik. Meskipun bingung melihat perbandingan yang diberikan Pak Priyadi ttg perbandingan unit link dan terpisah.

Saya mau tanya nih Pak ?
Apa bedanya reksadana sama saham Pak?
Trus kalo mau ikutan reksadana apa ada syarat2 yg harus dipenuhi en minim budget yg diperlukan brapa Pak??
Selama ini sih uang gaji saya puter dengan beli saham.
Beli, habis gitu jual. Itu aja beli separoan Pak hee..2.
Apa ada saran nih Pak buat saya ??
Mumpung saya masih belum nikah. Yahh itung2 buat persiapan Pak hee..2 :)
Terima kasih banyak Pak sebelumnya.
Gravatar
o Comment by W3L2Y
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 5.0 on Windows Windows 98
o 5 December 2007 at 17:14
*
275

#274

Apa bedanya reksadana sama saham Pak?

reksadana itu investasi kolektif, jadi investornya ada banyak orang. sedangkan saham dimiliki oleh satu orang. selain saham, reksadana juga ada yang main di pasar lain seperti obligasi atau pasar uang.

Trus kalo mau ikutan reksadana apa ada syarat2 yg harus dipenuhi en minim budget yg diperlukan brapa Pak??

syarat2nya ya punya uang :). ada reksadana yang biaya setoran minimumnya Rp 100 ribu.

Selama ini sih uang gaji saya puter dengan beli saham.

kalau kuat beli saham harusnya kuat beli reksadana :)

Apa ada saran nih Pak buat saya ??

silakan baca posting saya yang ini: http://priyadi.net/archives/2007/11/30/pedoman-membeli-asuransi-jiwa-dan-reksadana/
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 5 December 2007 at 21:35
*
276

Artikel yang sangat menarik, bro Priyadi.

Oh ya, saya mohon ijin untuk sekalian memperkenalkan forum baru yang sepenuhnya membahas tentang reksadana di http://forumreksadana.com

Semoga dapat membantu perkembangan reksadana di tanah air.
Gravatar
o Comment by Forum Reksadana
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.11 on Windows Windows XP
o 8 December 2007 at 18:39
*
277

kalau punya duit cukup, punya waktu, punya komitmen tinggi untuk berinvestasi, ya mending pilih yang terpisah (asuransi - investasi).
dulu saya main saham, tapi butuh modal dan waktu untuk mengamati pergerakan harga, ketika duit dan waktu sudah mulai pas-pasan ya berhenti saja.
mau nabung, baru terkumpul sedikit kepakai lagi… kepakai lagi. akhirnya biar sedikit-sedikit dan juga “untung” yang lebih sedikit dibanding investasi langsung, saya lebih memilih untuk “dipaksa menabung” lewat asuransi+unit link.
dasar pemikiran saya sederhana saja: saat ini saya cuman seorang karyawan/pegawai; memang untuk kesehatan sudah terjamin sampai mati, dmk pula isteri saya. tetapi anak-2 ? perusahaan cuman menjamin sampai umur mereka 25th. jadi, ya menurut saya perlu juga dijaminkan potensi pengeluaran biaya kesehatan mereka, walaupun sedikit minimal bisa membantu mereka nantinya(soal kurangnya biar mereka sendiri yang cari tambahannya). soal unit link, ya syukur-2 bisa jadi tabungan anak-2 di masa depan… kalau hilang ya bukan rejeki namanya (sekalipun kecil rasanya tetap ada kemungkinan untuk hilang, ya?? bahkan menabungpun bisa hilang).
Gravatar
o Comment by gethuk
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 29 December 2007 at 15:01
*
278

#277: pengalaman saya, disiplin itu gak bisa dibeli. kalau cape2 nabung duit kita malah masuk kantong agennya, yang ada bukannya jadi disiplin, tapi justru semakin tidak disiplin. yang diperlukan untuk mendapatkan disiplin adalah reward yang setimpal, misalnya dalam bentuk potongan2 yang minimal, transparansi dan likuiditas.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 29 December 2007 at 19:53
*
279

saya termasuk orang yg setuju dgn opini bung Priyadi. Saya pernah/sering baca juga bbrp buku financial luar pun merekomendasikan spt itu.
-Cuma yg jadi sedikit pertanyaan/keraguan saya, apakah nantinya kalo terjadi klaim prosedurnya sama antara term dan UL ini?? maksud saya,apakah mungkin dgn asuransi term ini akan lebih sulit proses klaimnya daripada unitlink? karena setau saya unitlink boleh dikata memang cukup baik/cekatan dalam menangani proses klaim… (bbrp temen saya sdh terbukti dgn UL-nya) ini yg sya ragu.. mhon masukanny :)
-mengenai klausul perpanjang otomatis, apa benar u/ manfaat kesehatan/penyakit kritis tidak berlaku? thx
Gravatar
o Comment by felix
o Posted from Palembang Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 1 January 2008 at 15:05
*
280

dgn ikut unit link, akhirnya sy bisa ‘disiplin’ nabung, krn ga bisa sembarang narik dana kaya tabungan di bank..jebol mulu :(
trus kalo terjadi ’sesuatu’ tarhadap saya, ga nyusahin orang rumah krn uda dicover ama asuransi. :x
Gravatar
o Comment by ira
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.4 on SuSE Linux SuSE Linux
o 8 January 2008 at 18:36
*
281

Pilih “Unit Link” atau Reksa Dana?

Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Dalam perencanaan keuangan, penghasilan seseorang sejatinya dialokasikan pada tiga hal utama, yakni konsumsi, tabungan, dan investasi plus proteksi.

Alokasi konsumsi digunakan membiayai kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sementara, alokasi untuk tabungan untuk dana berjaga-jaga. Sedangkan investasi adalah tindakan menumbuhkembangkan aset. Terakhir, setiap orang juga selayaknya memagari risiko dengan asuransi.

Permasalahannya, produk investasi dan asuransi terus berkembang, sejalan dengan semakin canggihnya keinginan pengguna produk. Termasuk adanya produk gabungan dari berbagai jenis investasi dan asuransi. Ada yang disebut reksa dana dengan bermacam tipe, ada tabungan plus asuransi, ada asuransi plus investasi, dan bahkan tidak sedikit yang merancang gabungan produk, seperti unit link.

Belakangan malah cukup banyak produk keuangan yang “kawin silang”. Semua itu membuat khazanah produk investasi keuangan semakin menarik, tetapi juga bisa lebih membingungkan. Produk yang relatif mirip, misalnya, antara reksa dana dengan unit link, bagaimana membedakan antara keduanya? Apa saja plus-minusnya? Paparan berikut ini akan mengulas hal tersebut.

Jenis investasi

Reksa dana pada dasarnya adalah sekeranjang produk investasi keuangan, seperti saham, obligasi, surat berharga pasar uang, dan lain sebagainya. Ini yang membedakan dengan misalnya, Anda membeli satu jenis saham atau obligasi atau juga produk investasi lainnya. Di reksa dana, isi keranjang investasinya bisa macam-macam. Ada yang disebut dengan reksa dana saham yang terdiri atas bermacam jenis saham. Ada pula reksa dana berpendapatan tetap yang bermuatan obligasi, dan reksa dana campuran maupun reksa dana pasar uang.

Bedanya dengan investasi langsung di saham ataupun obligasi adalah reksa dana dikelola manajer investasi di mana isi keranjang investasinya ditentukan oleh mereka. Dengan kata lain, manajer investasi sudah lebih dulu membeli bermacam produk investasi, lalu produk investasi itu dipecah-pecah dan dimasukkan ke dalam bermacam keranjang yang disebut sebagai reksa dana, baru kemudian dijual kepada investor.

Apa manfaatnya bagi investor? Jelas risikonya bisa lebih rendah dibandingkan, misalnya, hanya membeli satu jenis saham atau satu jenis obligasi. Alasannya, di dalam keranjang tersebut sudah bercampur berbagai jenis saham atau surat berharga lain yang risikonya bisa saling menghilangkan/offset.

Sementara itu, unit link hakikatnya adalah produk asuransi jiwa yang digandengkan dengan investasi. Jadi, kalau Anda membayar premi asuransi, maka sebagian premi itu diinvestasikan di berbagai surat berharga yang kerap disebut juga sebagai unit penyertaan. Pengelolaan dana investasi dilakukan terpisah, yakni fund manager. Jadi, hanya dana pertanggungan asuransi yang dikelola sendiri oleh perusahaan asuransi.

Hal di ataslah yang membedakan unit link dengan produk asuransi plus investasi, yang juga dikenal dengan istilah asuransi dwiguna. Pada produk ini, semua premi dikelola sendiri perusahaan asuransi, termasuk investasinya.

Lalu di mana beda antara unit link dengan produk asuransi dwiguna?

Prinsipnya sama, yakni asuransi plus investasi, tetapi pengelolanya berbeda. Umumnya, hasil perkembangan dana investasi dalam unit link lebih mudah dimonitor karena pergerakan nilainya dapat dilihat dari waktu ke waktu secara transparan.

Lantas di mana beda signifikan kedua produk tersebut? Pada reksa dana, semua dana Anda sejak awal sudah diinvestasikan dalam produk tersebut. Dengan kata lain, Anda menempatkan dana secara sekaligus ketika Anda membeli reksa dana. Jadi, katakanlah, Anda membeli reksa dana A sejumlah Rp 100 juta, maka Anda sudah mengeluarkan dana investasi Rp 100 juta.

Pada unit link yang diinvestasikan adalah premi Anda yang notebene Anda bayar bertahap. Katakanlah Anda membeli unit link dengan nilai uang pertanggungan Rp 500 juta, lalu katakanlah premi yang Anda bayar Rp 5 juta per bulan. Sekian persen dari Rp 5 juta itulah yang akan diinvestasikan dalam berbagai produk investasi oleh perusahaan investasi yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi. Ringkasnya, pada reksa dana, investasi dilakukan sekaligus, pada unit link investasi dilakukan bertahap.

Tergantung tujuan

Pertanyaannya, mana yang lebih baik? Bergantung pada tujuan Anda. Jika saat ini Anda sudah memiliki proteksi stand alone, maka menginvestasikan sebagian uang Anda secara langsung pada reksa dana bisa menjadi pilihan. Dengan catatan, Anda memiliki sejumlah uang tertentu.

Jika Anda ingin memiliki perangkat proteksi sekaligus sebagai investasi dan kebetulan belum memiliki uang yang cukup besar, unit link boleh menjadi pilihan. Atau jika Anda memiliki jumlah uang cukup besar untuk diinvestasikan secara langsung ke reksa dana dan Anda juga telah memiliki produk asuransi secara stand alone, maka untuk menambah investasi asuransi stand alone dapat diubah menjadi unit link. Intinya, baik reksa dana maupun unit link sebenarnya sama-sama baik. Masalahnya, bagaimana memilih reksa dana dan unit link secara tepat.

Seperti dipaparkan di atas, pengelolaan reksa dana maupun unit link–untuk aspek investasinya–dikelola fund manager. Jadi, keberhasilan dalam investasi di kedua produk tersebut sebenarnya sangat bergantung pada seberapa piawai fund manager memilih produk investasinya.

Dengan kata lain, Anda harus meneliti lebih dulu rekam jejak lembaga yang menerbitkan produk reksa dana maupun unit link dimaksud. Setelah itu, baru meneliti apa saja jenis produk investasi yang dibeli.

Jadi, jangan langsung tergiur janji manis. Ini seperti kata pepatah “teliti sebelum membeli” atau juga “menyesal kemudian tidak berguna”.

Pertanyaan dapat diajukan kepada penulis melalui kompas@kompas.com
Gravatar
o Comment by Iwan Hah
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0 on Windows Windows XP
o 9 January 2008 at 12:45
*
282

terimakasih unt infonya :)
Gravatar
o Comment by ira
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.4 on SuSE Linux SuSE Linux
o 9 January 2008 at 20:03
*
283

#280:

dgn ikut unit link, akhirnya sy bisa ‘disiplin’ nabung, krn ga bisa sembarang narik dana kaya tabungan di bank..jebol mulu :( trus kalo terjadi ’sesuatu’ tarhadap saya, ga nyusahin orang rumah krn uda dicover ama asuransi

pengalaman saya disiplin gak bisa dibeli. kalau emang udah dasarnya gak disiplin, maka ujung2nya polis unit link akan lapse juga. dan di unit link, yang jadi jaminan kalau terjadi lapse adalah asuransi DAN investasi. sedangkan kalau term life lapse, investasi kita tetap aman.

yang dibutuhkan untuk menjadi disiplin adalah reward yang sepadan. kalau misalnya saya ‘nabung’ di unit link 1 juta sebulan, lalu setelah 3 tahun dana saya ternyata kurang dari 36 juta, maka itu bukan reward. yang tadinya sudah tidak disiplin akan semakin tidak disiplin :).

#281:

itu artikel terlalu teoretis, tidak praktis, tidak ada perhitungan kualitatif dan terlalu mengasumsikan hal2 yang baik. mendesain produk unit link yang menguntungkan itu sangat memungkinkan. tetapi kenyataannya di lapangan berbicara lain. memisahkan asuransi dan investasi jauh lebih menguntungkan daripada unit link.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 9 January 2008 at 22:32
*
284

Pengalaman saya (termsuk orang yang kurang disiplin) di unit link (dulu), autodebet tidak bisa diubah tanggalnya (sesuai polis), waktu itu autodebet tiap tanggal 15 tiap bulannya (20 harian setelah gajian). Karena saya merasa beberapa kali harus mundur autodebetnya gara-gara di rekening gak da dana, saya minta ke CS-nya untuk mindah autodebet tiap tanggal 1, namun oleh CSnya dibilang tidak bisa. Saya coba layangkan email ke CS dijawab juga tidak bisa. Ini salah satu pengalaman yang kurang mendukung bagi saya untuk melakukan “investasi+asuransi” secara disiplin. Pada akhirnya saya putus UL saya dan ambil asuransi sendiri dengan potongan otomatis dari gaji (karena ada program dari perusahaan) dan tiap bulan habis gajian, langsung ke ambil duit trus setor ke bank untuk beli RD dan masukin ke rekening lain yang tanpa ATM, dan sampai sekarang bisa berjalan disiplin. Di commbank, sepertinya ada cara pembelian RD yang lebih praktis lagi (lewat internet banking atau autodebet, koreksi?), mungkin akan saya coba untuk ke commbank seperti info teman2 di forum ini.
Gravatar
o Comment by Herlina
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 10 January 2008 at 11:41
*
285

tergantung orangnya sey, masing2 punya cara sendiri unt memotivasi diri. Beberapa tman ikut produk unit link lebih berfikir ke proteksinya (tergantung kebutuhan dia), unt saver mreka bilang itu hanya sekedar ‘bonus’ saja. Tapi bila terfokus pd reward nya tentunya jangan di unit link. Investasi di unit link itu sifatnya midle-long term investment. Tapi bila memang butuh dana darurat dana bisa ditarik ko’

Bila kesulitan unt auto debet knapa tdk diganti cara pembayarannya melalui transfer atau lewat ATM saja? (ada formulir penggantian cara pembayaran kan?). Saya pribadi sudah merasa cocok dengan unit link ini, krn dari sisi manfaat proteksi saya sudah tercover (ya namanya jg hidup pasti penuh resiko) dan dari sisi investasi bisa unt pendidikan anak kelak bila saya sudah berkeluarga dan punya anak.

Jujurnya unt produk reksa dana saya masih cupu banget, sampe beli buku ‘bertamasya bersama reksa dana :D‘ segala…dulu pikiran saya ttg reksa dana bahwa prosesnya ribet dan butuh dana besar unt investasi.

Sedangkan unt unit link sendiri, smuanya sudah satu paket.
Gravatar
o Comment by ira
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0.4 on SuSE Linux SuSE Linux
o 11 January 2008 at 09:14
*
286

#285: mungkin harus baca dulu yang ini: hitung-hitung asuransi unit link vs terpisah. buat saya overhead di unit link gak sepadan dengan manfaat yang kita dapatkan dari unit link.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 January 2008 at 09:22
*
287

Wuaduuh… ok banget penjelasannya.
saya print yach… !!
Daripada ribut ama istri ngejelasin bedannya … khan enakan tinggal print.

Thx a lot (sekali !!)
Jangan patah semangat.. dalam menjelaskan masalah finansial. Maju terus pantang mundur… biarpun gua yakin ini posting bakal menuai protes dari para agen unit link.. hehehehe
Gravatar
o Comment by pandu
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Opera Opera 9.24 on Windows Windows XP
o 13 January 2008 at 10:46
*
288

mas, mau nanya nih. 1.kalau di reksadana kan uang kita masuk ke bank kustodi dan kita dapat statement dari MI. lha kalo misal ada apa2 dgn MI kita bisa klem ke bank kustodi gak?
2. kalo di unit link kita dapat statementnya dari PT. AJnya atau dari MInya. terus kalo ada apa2 dengan PT. Ajnya kita bisa klem ke bank kustodi gak? thanks bosss…
Gravatar
o Comment by patrick
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.11 on Windows Windows XP
o 29 January 2008 at 02:18
*
289

#288: wah kalau masalah legal begini terus terang saya gak ngerti :).
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 29 January 2008 at 10:28
*
290

Mas Pri, sepertinya ulasan mas pri kurang begitu lengkap. pasti mas pri belum melihat asuransi unit link yang lainnya. ada asuransi unit link yang tidak memakai kata harga jual dan beli, jadi di unit link bisa lebih menguntungkan. di rekasadana, jika harga jual lebih besar dari harga beli, maka kita untung demikian pula sebaliknya.ada asuransi unit link yang tidak menerapkan harga jual dan beli, tetapi hanya harga satu unitnya saja, jadi pengembalian tidak tergantung dari harga jual maupun harga beli. sekali lagi jika ingin membandingkan, mesti kita lihat banana to banana. bukannya apple to banana.

begitu.
Gravatar
o Comment by RII
o Posted from Bekasi Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 2 February 2008 at 20:18
*
291

#290: praktis sama saja. unit link yang tidak mengenakan ‘harga beli’ dan ‘harga jual’ tetap saja mengenakan selisih harga, yaitu pada pos biaya top up yang biasanya besarnya 5%.

bedanya cuma satu: unit link yang pakai spread harga beli dan jual bisa memperlebar/mempersempit spreadnya sewaktu2, misalnya di saat pasar sedang rush untuk meredam spekulasi. sedangkan pada unit link yang pakai sistem biaya top up, spreadnya bersifat mengikat.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 2 February 2008 at 21:41
*
292

Mas Pri

Salam kenal..
Saya lagi mau merubah portofolio reksadana saya..
pertanyaan saya
1. Komposisi apa yang bagus??
2. Portofolio Mas Pri sendiri bagaimana? dan reksadana apa yang Mas Pri punya?

Tx

DSL
Gravatar
o Comment by DSL
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 17 February 2008 at 02:22
*
293

#292: komposisi yang bagus itu tergantung preferensi masing2. tiap orang punya profil resiko dan kebutuhan yang berbeda2. kalau saya pribadi beli semuanya reksadana saham. tapi selain reksadana saya invest di emas juga.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 17 February 2008 at 08:44
*
294

silakan mampir ke pusatreksa.com
Gravatar
o Comment by pusatreksa
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux
o 28 February 2008 at 01:53
*
295

Klo mau invest dgn membeli emas, beli di mana ya mas Pri?
Lebih baik beli di toko emas (cth: cikini) ato di Antam (www.logammulia.com)? Trus, jika beli emas di Antam, kira2 bisa dijual di Antam lg gak ya mas?
Thanks. Keep up the good work…
Gravatar
o Comment by felix
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 2 March 2008 at 17:18
*
296

Ada titipan pertanyaan dr teman saya yg berencana utk ngambil BTAID.
Pertanyaan dia mengenai Reksadana Saham, apakah bisa dipastikan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (dimana saham2 diperdagangkan) akan tetap bertahan selama 10 sampai 30 tahun mendatang?
Jika ya, it’s good.
Tp jika tidak, sia-sia dong. Mohon pemikiran2 dr Mas Pri & rekan2 sekalian.
Gravatar
o Comment by dodi
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 3 March 2008 at 18:44
*
297

#295:

Klo mau invest dgn membeli emas, beli di mana ya mas Pri? Lebih baik beli di toko emas (cth: cikini) ato di Antam (www.logammulia.com)? Trus, jika beli emas di Antam, kira2 bisa dijual di Antam lg gak ya mas?

kalau saya biasanya beli di toko emas. mereka biasanya ngambil dari antam juga. kalau mau langsung ke antam (logammulia) bisa2 saja. tapi saya gak tahu apa mereka mau beli emas kita. yang jelas kalau mau dijual ke toko emas sih juga bisa.

#296:

Pertanyaan dia mengenai Reksadana Saham, apakah bisa dipastikan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (dimana saham2 diperdagangkan) akan tetap bertahan selama 10 sampai 30 tahun mendatang? Jika ya, it’s good. Tp jika tidak, sia-sia dong. Mohon pemikiran2 dr Mas Pri & rekan2 sekalian.

gak ada yang pasti. tapi efeknya sama saja mau ngambil saham lewat unit link, maupun lewat reksadana. kalau kasusnya seperti itu, yang unit link pasti ‘rontok’ juga. saran saya, jangan semua dimasukkan ke saham, sebagian simpan misalnya di reksadana pendapatan tetap, pasar uang, emas atau properti. untuk saya pribadi sebagian besar saya tetap invest di saham.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows Vista
o 4 March 2008 at 01:30
*
298

Kok kalau saya perhatikan dari semua komen orang2 disini ada yang pro UnitLink dan ada yang kontra bahkan ada yang mati2an “Melarang” orang untuk ikut UnitLink. salah satunya owner blog ini.

Seharusnya kalau memang coment Mr Priyadi itu obyektif dan tidak tendensius ataupun tidak menjelek2kan UnitLink, saran yang mesti diberikan adalah : “..Tergantung kebutuhan saudara, saudara bisa bisa ambil UL bisa RD + TL…” bukankah sudah jelas Praktisi keuangan sekelas Elvyn Masassya saja tidak merekomendasikan untuk tidak mengambil UL karena masing2 instrumen itu ada fungsi dan tujuannya masing2.

sedikit kutipan tulisannyanya Elvyn yang ada di Blog mas pri sendiri “……..Pertanyaannya, mana yang lebih baik? Bergantung pada tujuan Anda. Jika saat ini Anda sudah memiliki proteksi stand alone, maka menginvestasikan sebagian uang Anda secara langsung pada reksa dana bisa menjadi pilihan. Dengan catatan, Anda memiliki sejumlah uang tertentu.
Jika Anda ingin memiliki perangkat proteksi sekaligus sebagai investasi dan kebetulan belum memiliki uang yang cukup besar, unit link boleh menjadi pilihan. Atau jika Anda memiliki jumlah uang cukup besar untuk diinvestasikan secara langsung ke reksa dana dan Anda juga telah memiliki produk asuransi secara stand alone, maka untuk menambah investasi asuransi stand alone dapat diubah menjadi unit link. Intinya, baik reksa dana maupun unit link sebenarnya sama-sama baik. Masalahnya, bagaimana memilih reksa dana dan unit link secara tepat.
Seperti dipaparkan di atas, pengelolaan reksa dana maupun unit link–untuk aspek investasinya–dikelola fund manager. Jadi, keberhasilan dalam investasi di kedua produk tersebut sebenarnya sangat bergantung pada seberapa piawai fund manager memilih produk investasinya.
Dengan kata lain, Anda harus meneliti lebih dulu rekam jejak lembaga yang menerbitkan produk reksa dana maupun unit link dimaksud. Setelah itu, baru meneliti apa saja jenis produk investasi yang dibeli……”

Nah itu baru comment yang objective…
Mungkin saja, dari sudut pandang Mas Pri UL itu Jelek
tapi belum tentu di mata orang lain jelek.
Dan mungkin saja di Mata Mas Pri RD + TL itu Bagus (Apalagi yang punya duit banyak, waktu banyak, dan kesempatan untuk menabung yang banyak pula), tapi mungkin saja bagi yang tidak seberuntung seperti Mas Pri, RD + TL itu tidak lebih baik dibanding UL.

Saya bukan Pro siapa2, karena saya juga punya UL utk Anak Saya, punya RD di beberapa MI juga(ya mungkin tidak sebanyak Mas Pri yang selalu mengutamakan Profit dibanding benefit), Asuransi TL, dan instrumen Investasi lainnya.
tetapi saya tetap memandang bahwa semua itu (UL, RD, TL) punya fungsinya masing2 dan tidak bisa dibandingkan begitu saja. itulah sebabnya saya mengambil itu semua.

Saran Saya, Bagi yang memang merasa nyama dgn UL, silahkan jalan terus jangan hanya mengikuti opini yang terbentuk di blog ini. kecuali memang bagi yang mudah sekali mengikuti alur opini yang ingin dibentuk di blog ini. tapi jika memang ingin pindah kelain hati dari UL (RD + TL) kalau memang dirasa dan yakin lebih bermanfaat (tidak saja untung) silahkan, monggo !!

Salam
Gravatar
o Comment by swj
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.9 on Windows Windows 98
o 5 March 2008 at 18:37
*
299

#298:

Seharusnya kalau memang coment Mr Priyadi itu obyektif dan tidak tendensius ataupun tidak menjelek2kan UnitLink, saran yang mesti diberikan adalah : “..Tergantung kebutuhan saudara, saudara bisa bisa ambil UL bisa RD + TL…” bukankah sudah jelas Praktisi keuangan sekelas Elvyn Masassya saja tidak merekomendasikan untuk tidak mengambil UL karena masing2 instrumen itu ada fungsi dan tujuannya masing2.

rasanya semua komentar saya sudah cukup objektif. saya gak bisa kasih saran “tergantung kebutuhan saudara”, karena tidak ada manfaat yang tidak bisa direplikasikan di BTAID, dan ongkos overhead UL jauuuh lebih tinggi daripada BTAID.

kalau cuma mau ngadu financial planner, saya juga punya ‘jagoan’, silakan baca tulisan ligwina hananto :)

Mungkin saja, dari sudut pandang Mas Pri UL itu Jelek tapi belum tentu di mata orang lain jelek. Dan mungkin saja di Mata Mas Pri RD + TL itu Bagus (Apalagi yang punya duit banyak, waktu banyak, dan kesempatan untuk menabung yang banyak pula), tapi

kalau ada yang berpendapat UL itu menguntungkan, ada dua kemungkinan:

1. dia tidak mengerti struktur harga di unit link; atau
2. dia mengerti dan memang berpendapat kalau UL menguntungkan.

saya rasa yang nomor 1 jauh lebih banyak daripada nomor 2.

selain itu, kalau anda memang agen yang memberikan nilai tambah yang sesuai dengan harganya, anda tidak perlu menakut2i pembaca di sini :). untuk BTAID itu sama sekali tidak perlu duit banyak dan tentunya tidak perlu waktu banyak.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows Vista
o 5 March 2008 at 19:47
*
300

Hmm..kalau memang hitung2an waktu, coba bandingkan jika Si A ambil UL, dan si B ambil RD + TL.

Jika si A mengalami musibah Katakanlah Sampai Meninggal, maka semua urusan yang berkaitan dengan Ahli waris, baik itu Pertanggungan maupun hasil investasi ada yang langsung urus (So tidak lagi membebani keluarga yang sedang berduka). bandingkan jika si B yang mengalami musibah seperti itu, tentu ahli warisnya lebih sedikit repot untuk mengurus Nilai Investasinya (Jika memang ingin diambil untuk kelangsungan hidup) atau jika tidak ingin diambil, toh suatu saat pasti akan meluangkan waktu juga untuk mengurusnya (terlebih apabila ahli waris belum memahami bagaimana prosedur redem dari RD).

Nah saya rasa, alokasi waktu untuk urus2 hal itulah yang bisa jadi pertimbangan orang untuk ambil UL. Mereka bersedia membayar sedikit lebih untuk kenyamanan ahli warisnya.

Saya bukan Agen apapun atau manapun, saya hanya salah seorang pemerhati diskusi ini yang saya nilai semakin lama kok semakin tidak sehat.. (Kenapa ya ? setiap kali ada comment yang tidak mendukung “keinginan” Mas Priyadi, orang itu langsung dianggap agen ??, ada apa ya??)

Pendapat dari Mas Pri tentang keuntungan investasi di reksadana ada benarnya juga. Salah satu prinsip utama
investasi adalah jangan menaruh semua telur di keranjang yang sama. Nah UL ini juga merupakan salah
satu keranjang investasi lain yang bagus. Di produk ini kita sudah mendapatkan proteksi sekaligus
pembagian hasil investasi.

Saya ikut RD sudah lama sekali, jauh sebelum RD Terproteksi muncul dan saya juga ambil Asuransi TL untuk diri saya juga sudah sejak saya kuliah hingga hari ini, namun saya tetap ambil UL untuk anak saya (hitung2 sebagai hadiah untuknya dan keluarganya kelak)karena memang kalau ambil UL untuk diri saya, saya sependapat dengan Mas Pri UPnya tidak sebesar TL (Keputusan saya ambil UL pun juga setelah saya membaca blog2 seperti ini, blog yang selalu menilai miring UL)

saya ambil UL, sama seperti analogi kenapa Penganut Agama Islam semakin berkembang di USA & Eropa sana setelah peristiwa 11/9, karena semua orang akhirnya banyak ingin mencari tahu kenapa sih Islam dinilai buruk ?? akhirnya mereka cari tahu sendiri dengan cara yang obyektif, tidak hanya mendengar orang yang menjelek-jelekan Islam saja.
nah sama seperti itu, saya akhirnya mencari sendiri info2 tentang UL, baik di Indonesia maupun di Luar negeri, tidak hanya dari blog2 semacam ini, walau blog semacam ini bagus juga kok buat perbandingan dan tambahan pengetahuan.

Saya tidak menakut-nakuti orang lain kok, Tidak semua orang mudah dipengaruhi oleh opini yang ingin dibentuk oleh blog ini, salah satunya saya. sekali lagi, bagi yang nyaman dengan UL-nya ya silahkan saja teruskan, tapi bagi yang memang merasa UL itu tidak “menguntungkan” silahkan juga kok untuk pindah ke lain hati…atau bagi yang mudah sekali terbawa arus opini yang ingin dibentuk dalam diskusi ini juga no problem itu kan juga haknya.

Salam
dari Salah satu Klan Widjaya
Gravatar
o Comment by swj
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.9 on Windows Windows 98
o 6 March 2008 at 08:25
*
301

#300:

Jika si A mengalami musibah Katakanlah Sampai Meninggal, maka semua urusan yang berkaitan dengan Ahli waris, baik itu Pertanggungan maupun hasil investasi ada yang langsung urus (So tidak lagi membebani keluarga yang sedang berduka). bandingkan jika si B yang mengalami musibah seperti itu, tentu ahli warisnya lebih sedikit repot untuk mengurus Nilai Investasinya (Jika memang ingin diambil untuk kelangsungan hidup) atau jika tidak ingin diambil, toh suatu saat pasti akan meluangkan waktu juga untuk mengurusnya (terlebih apabila ahli waris belum memahami bagaimana prosedur redem dari RD).

kalau concernnya cuma masalah seperti itu, tidak perlu ikut UL juga ada solusinya. sekadar bikin pernyataan wasiat misalnya, jauh lebih murah dan praktis daripada ikut UL. selain itu, keluarga juga harus diberitahu prosedur klaim UL. kalau tidak diberitahu ya sama saja gak bisa cair juga dananya.

Nah saya rasa, alokasi waktu untuk urus2 hal itulah yang bisa jadi pertimbangan orang untuk ambil UL. Mereka bersedia membayar sedikit lebih untuk kenyamanan ahli warisnya.

sorry, mayoritas nasabah UL tidak ikut UL dengan pertimbangan itu. biasanya mereka ikut karena terpengaruh proyeksi investasi sampai puluhan tahun ke depan yang jumlahnya bisa milyaran itu. mereka tidak menyadari kalau sebenarnya harga real yang harus dibayarkan di UL jauh lebih tinggi daripada nilai resiko yang diasuransikan. silakan baca tulisan saya soal ilusi finansial.

Pendapat dari Mas Pri tentang keuntungan investasi di reksadana ada benarnya juga. Salah satu prinsip utama investasi adalah jangan menaruh semua telur di keranjang yang sama. Nah UL ini juga merupakan salah satu keranjang investasi lain yang bagus. Di produk ini kita sudah mendapatkan proteksi sekaligus
pembagian hasil investasi.

ini jelas salah. yang dilakukan UL itu hanya menyetorkan uang investasi anda ke reksadana. lebih baik cut the middlemen dan langsung invest ke reksadana, hasilnya pasti jauh lebih maksimal. dan karena itu, unit link itu BUKAN alternatif investasi dari reksadana. kalau misalnya reksadana saham rontok, maka dana saham yang ada di unit link PASTI juga rontok. sama sekali bukan diversifikasi.

atau bagi yang mudah sekali terbawa arus opini yang ingin dibentuk dalam diskusi ini juga no problem itu kan juga haknya.

anda tidak berhak mencap yang berbeda opini dengan anda “mudah sekali terbawa arus opini”. yang jelas opini anda tidak relevan, angka-angka tidak bisa berbohong.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows Vista
o 6 March 2008 at 09:42
*
302

Pendapat dari Mas Pri tentang keuntungan investasi di reksadana ada benarnya juga. Salah satu prinsip utama investasi adalah jangan menaruh semua telur di keranjang yang sama.

Diversifikasi yang salah. Bagaimana saya bisa setuju dengan opini anda tentang masalah keuangan (investasi & asuransi) kalo yang dasar seperti ini saja sudah tidak paham.

Ada yang melakukan investasi di RDS dengan MI berbeda-beda. Dia masuk ke Fortis, Manulife, MMI, Schoeders, dan Danareksa. Semuanya reksadana saham. Dan dia menganggap kalo dia sudah melakukan diversifikasi padahal tidak. Buktinya, 22-Jan lalu, semua RDS di atas ikut jatuh. Tanpa kecuali. Hanya persentasi-nya yang berbeda (tapi tidak jauh dari kejatuhan IHSG sendiri).

Lebih baik kalau dia membeli RD saham dan RD pendapatan tetap dari MI yang sama plus beli emas. Dia cukup melihat track record MI yang bagus.
Gravatar
o Comment by Rachmat
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP
o 7 March 2008 at 07:55
*
303

Dan mungkin saja di Mata Mas Pri RD + TL itu Bagus (Apalagi yang punya duit banyak, waktu banyak, dan kesempatan untuk menabung yang banyak pula), tapi mungkin saja bagi yang tidak seberuntung seperti Mas Pri, RD + TL itu tidak lebih baik dibanding UL.

Hmm…sebelumnya ada yang bilang kalo yang ambil UL itu kalangan menengah ke atas yang tidak mau repot. :-?

Sekarang ada yang bilang UL untuk yang dananya sedikit (tidak seberuntung Priyadi katanya). :d

Dasarnya dari Elvyn G Masassya:

Jika Anda ingin memiliki perangkat proteksi sekaligus sebagai investasi dan kebetulan belum memiliki uang yang cukup besar, unit link boleh menjadi pilihan. Atau jika Anda memiliki jumlah uang cukup besar untuk diinvestasikan secara langsung ke reksa dana dan Anda juga telah memiliki produk asuransi secara stand alone, maka untuk menambah investasi asuransi stand alone dapat diubah menjadi unit link.

Silahkan disampaikan ke Elvyn:
“Ambil reksadana tidak perlu uang besar. 100-200rb sudah bisa ambil reksadana.”

Selain itu, saya kok melihat dia mengarahkan orang ke Unit Link. Kalau asuransi TL (stand alone) diubah menjadi UL, dipastikan UP-nya akan turun (kalau preminya tetap) atau preminya harus dinaikkan (kalau ingin UP tetap).

Saran yang aneh.

Dia boleh saja ‘Praktisi Keuangan Ternama’, tapi tidak berarti statemennya benar semua. Beberapa statemen yang gak applicable:
1. Perlu dana besar untuk masuk reksadana.
2. Asuransi stand alone digantikan dengan UL.
Gravatar
o Comment by Rachmat
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP
o 7 March 2008 at 08:28
*
304

Pri, kalo saya lihat lagi postingan kamu, boleh dibilang hampir semua komen atau counter-posting dari agen (atau yang pro-link, pro unit link maksudnya) udah terjawab dengan baik. Malah saya melihat postingan kamu ‘terlalu baik’ ke unit-link. Beberapa manfaat yang disebutkan sebagai keunggulan UL sebenarnya bisa jadi malah nilai minus.
Gravatar
o Comment by Rachmat
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP
o 7 March 2008 at 10:29
*
305

#304
Setujuuuu……….
Gravatar
o Comment by nana
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 8 March 2008 at 20:55
*
306

Pak Pri,
Apa kerugian reksadana dalam hal profit?
Apakah saya harus telaten mengawasi reksadana saya?
Seperti pak pri bilang, kita punya pekerjaan yang utama. Pasti pikiran kita tidak bisa sepenuhnya di reksadana.
Terima kasih atas penjelasannya
Gravatar
o Comment by Rina
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla SeaMonkey Mozilla SeaMonkey 1.1.8 on Windows Windows XP
o 16 March 2008 at 13:50
*
307

#306:

Apa kerugian reksadana dalam hal profit? Apakah saya harus telaten mengawasi reksadana saya? Seperti pak pri bilang, kita punya pekerjaan yang utama. Pasti pikiran kita tidak bisa sepenuhnya di reksadana.

untuk investor casual tidak perlu mengawasi reksadananya secara harian. satu tahun sekali rasanya sudah lebih dari cukup. tantangannya sebenarnya bukan ‘bagaimana memaksimalkan investasi kita di reksadana’, tapi ‘bagaimana investasi di reksadana tidak membebani pikiran kita’.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 19 March 2008 at 10:51
*
308

sekarang saat yang tepat gak masuk reksadana?
atau ihsg masih turun dibawah 2300 ?
Gravatar
o Comment by rahmath
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 23 March 2008 at 12:29
*
309

maaf nimbrung bentar ya sodara2 ^_^
——————————–
“Kalo punya uang lebih bolehlahh mikirin asuransi”
——————————–
ini cuma contoh salah satu quote, tapi yang saya tangkap bbrp orang yang berkomentar di forum ini masih menganggap asuransi mahal? nanti aja kl punya uang? kalau 30rb sebulan untuk asuransi jiwa mahalkah?

ini saya kasih gambaran sedikit buat yang masih berpikiran asuransi ngga perlu atau asuransi mahal (terutama buat bapak2 tulang punggung keluarga yang keluarganya bergantung pada dirinya seorang) mohon dijawab pertanyaan2 dibawah ini dan jawab dengan jujur kepada diri sendiri

1. Apakah ada yang bisa menuliskan tanggal kematian dirinya?
2. simpan dalam hati berapa jumlah penghasilan anda perbulan. jika anda hanya mendapatkan 90%nya dan disisihkan 10% untuk proteksi apakah akan menyengsarakan dan mengganggu cash flow anda n keluarga?
3. pertanyaannya saya balik, jika 90% dari penghasilan anda sekarang yang hilang karena terjadi sesuatu pada anda dan anda cuma bisa mendapatkan 10% dari penghasilan yang sekarang apakah akan terasa berat untuk anda dan keluarga?

saya masih punya banyak pertanyaan untuk dipikirkan jawabannya buat orang2 yang masih menganggap asuransi itu tidak perlu/mahal, bisa kontek saya kok kalau minat ^_^
Gravatar
o Comment by yeni
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 25 March 2008 at 00:06
*
310

#309

1. Apakah ada yang bisa menuliskan tanggal kematian dirinya?
2. simpan dalam hati berapa jumlah penghasilan anda perbulan. jika anda hanya mendapatkan 90%nya dan disisihkan 10% untuk proteksi apakah akan menyengsarakan dan mengganggu cash flow anda n keluarga?

10% penghasilan untuk asuransi jiwa itu terlalu besar. 1.5% penghasilan untuk asuransi jiwa murni rasanya sudah terlalu mewah untuk yang berumur 30-40 tahun.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 25 March 2008 at 00:12
*
311

Setuju banget sama Pak Pri. Thanks Pak telah mencerahkan kita2 yang masi perlu input n info. Pak, saya berencana membeli reksadana campuran, mohon direkomendasi produk yang paling bagus returnnya.

Untuk Tante Bravo (saya pikir Bapak lo berhub komen-nya selalu to the point :), saya setuju kalo Firesquid sekarang sepertinya bukan Firesquid yang dulu.. hehehehe..
Gravatar
o Comment by Happy
o Posted from Medan Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.13 on Windows Windows XP
o 26 March 2008 at 18:38
*
312

Pak pri,
Terima kasih atas balasannya.
Dalam memilih reksadana mana yang kita pilih, sebenarnya apa ya kriterianya?
Misalnya contohnya tadi saya lihat-lihat website mandiri investasi.
Untuk reksadana mandiri investa atraktif-syariah yang merupakan reksadana saham, saat ini NAV 950. Performance nya dalam 29 hari 5.28% dan since inc 5.34%

Reksadana mandiri investa syariah berimbang yang merupakan reksadana campuran, saat ini NAV 2097.
Performance nya dalam 29 hari 4.28%, 3 bulan 7.88%, 6 bulan 30.07%, 1 tahun 53.73%, YTD 6.46% dan since Inc 123.27%.

Reksadana mandiri investa dana obligasi seri II yang merupakan reksadana tetap, saat ini NAV 967
Performance 29 hari -0.6%, 3 bulan 2.01%, 6 bulan 1.88%, 1 tahun 7.70%, YTD 0.48% since inc 10.72%.

pertanyaan saya:
1. YTD itu apa ya?
2. Apakah membandingkan jenis reksadana yang berbeda2 itu aple to aple? apakah kita memperhatikan performance reksadana sesuai kelompoknya?
3. Lebih menguntungkan investasi ke reksadana yang sudah lama (seperti reksadana mandiri investa syariah berimbang) tapi NAV saat ini sudah tinggi 2097 atau reksadana yang baru (reksadana mandiri investa atraktif-syariah) yang saat ini NAV nya baru 950. Sehingga uang kita memiliki jumlah unit yang lebih banyak dibandingkan kalau kita masukkan ke yang NAV nya sudah lebih tinggi.
4. Tapi kalau kita masukkan ke yang baru terbit, bagaimana kita memperkirakan performance nya bakal baik sehingga nasibnya tidak seperti performance Reksadana mandiri investa dana obligasi seri II yang performance nya hanya 10.72% since inc (dilihat dari grafik M-o-M return nya dia mulai Desember 2004)
5. Contoh lain mandiri investa optima, reksadana tetap, NAV 826, performance 29 hari -1.79%, 3 bulan 1.65%, 6 bulan -3.25%, 1 tahun -3.02%, YTD -1.21%, since inc -13.79%. Mulai nya Oktober 2004. Kalau misalnya terlanjur uang kita ada dalam danareksa dengan performance seperti ini , apakah kita terus wait and see atau langsung ditarik mas pri?
6. Bagaimana menurut mas pri ttg reksadana terproteksi?
7. Apakah don’t put your eggs in one basket termasuk mendiversifikasikan manajer investasi?
8. Kalau membaca sebuah prospektus reksa dana, pusing juga ya mas. Sebenarnya apa yang harus dicermati, they are all look the same to me.

Kayaknya cukup segini dulu pertanyaannya. Mohon maaf kalo ternyata sudah pernah ditanyakan, saya blom baca semua respon dari pembaca blog mas pri ini.
Sebelumnya terima kasih, karena mas pri sudah membantu mencerdaskan saya
:d
Gravatar
o Comment by Rina
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla SeaMonkey Mozilla SeaMonkey 1.1.8 on Windows Windows XP
o 26 March 2008 at 19:21
*
313

Saya kutip satu posting isinya seperti ini:
Terlampir hasil return investasi dari unit linked untuk tahun 2007

AXA Financial Indonesia (MLC Life) Equity Plus 78.53%
Sequis Life Golden Equity Fund 61.52%
Commonwealth Life Investra Equity Funds 59.72%
Panin Life Managed Unitlinked Aggressive 57.42%
Manulife Indonesia Manulife Dana Ekuitas 57.32%
Sun Life Financial Brilliance Aggressive 55.83%
Sequis Life Sequis Life Equity Funds 53.95%
Great Eastern GreatLink Dana Dinamis 53.73%
AXA Mandiri Dynamic Money 52.21%
AXA Life Dynamic Money 52.16%
Manulife(John Hancock) Signature Link Adventurous 49.46%
Commonwealth Life Investra Equity Income Fund 49.21%
Panin Life Panin Lifevestlink Equity Fund 48.41%
Prudential Life Assurance PRU link Equity Fund 46.94%
AIA Indonesia AIA Link Aggressive Fund 43.41%
Panin Life Panin Amanahlink Equity Fund 43.17%
AIG Life AIG Lippo Trust Equity Fund 38.24%
MAA MAA Equity Fund 34.65%
Sinarmas Excellink Aggressive Fund 30.44%
AIA Indonesia AIA Link Growth Fund 30.20%
BNI Life B-Life Dana Berkembang 22.73%
Bumi Asih Jaya Asih Equity Fund 9.29%

Sumber : diolah dari data Bisnis Indonesia

kalo diperhatikan AXA, Sequis returnnya ialah top 2. Dari yang saya tahu mereka menitipkan dana pada Schroder(ntuk AXA selain schroder juga Danareksa).

sedangkan untuk RD Schroder sendiri (diolah dari website schroder tgl 01/01/07 s/d 01/01/08)
Schroder Dana Prestasi 53.39%
Schroder Dana Prestasi Plus 56.03%
Schroder Dana Istimewa 55.89%

yang jauh dibawah return unit-linked AXA&Sequis: 78.53% & 61.52%

pertanyaannya:
bila demikian berarti dana kelolaan khusus dari asuransi ini (discretionary fund) ini akan memberikan return lebih besar dibanding dengan RD kita. Mengapa yach bisa begini?

Kenapa ya Pak Pri? Thanks sebelumnya..
Gravatar
o Comment by Happy
o Posted from Medan Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.13 on Windows Windows XP
o 26 March 2008 at 19:21
*
314

Aduh rame bgt..
ikut nimbrung yah…
Kasian deh mas Pri ini..
kayaknya ada sentimen pribadi segitu kerasnya nyuruh orang untuk tidak ikut UL..
Mas harusnya berpikir objektif untuk memberikan saran sama orang..
Saran boleh tapi tidak memaksa..
yang saya liat kok kayaknya maksa banget sama pendapat mas..
Yang ikut forum ini kayaknya bukan “anak kecil” deh yg harus di paksa2..
kayaknya udah dewasa semua yang bisa berfikir sendiri dan mengambil kesimpulan sendiri..
mas seperti mendoktrin orang2 yg ada di forum ini..
bahkan orang yang memberi pendapat langsung disangka agen..
:d/
Waduh..gawat juga mas Pri ini..
Saya ampe bingung sendiri..
Yo wes mas..gitu ja..
semua sudah bisa ngambil kesimpulan sendiri..
Punya pikiran sendiri..
Jadi buat yang lain coba liat dari sisi masing2..
ambil aja yang positifnya..
Harus Objektif kitanya melihat forum ini..
Saya yakin yang lain bisa objektif..
Soalnya ga kan beres2..
ini kan cuma blog..bukan untuk men-diskreditkan sesuatu..
masing2 boleh punya pandangan masing2..
bukan jadi tempat adu mulut sampe menjelek2an yang lain..
menurut saya tidak etis..and professional..
Sekian
Gravatar
o Comment by Lany
o Posted from Mega Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP
o 27 March 2008 at 15:25
*
315

#312:

1. YTD itu apa ya?

year to date. dari awal tahun sampai hari ini.

2. Apakah membandingkan jenis reksadana yang berbeda2 itu aple to aple? apakah kita memperhatikan performance reksadana sesuai kelompoknya?

kayanya ngga apple to apple. kalau reksadana pendapatan tetap tentunya gak bisa dibandingkan returnnya dengan reksadana saham.

3. Lebih menguntungkan investasi ke reksadana yang sudah lama (seperti reksadana mandiri investa syariah berimbang) tapi NAV saat ini sudah tinggi 2097 atau reksadana yang baru (reksadana mandiri investa atraktif-syariah) yang saat ini NAV nya baru 950. Sehingga uang kita memiliki jumlah unit yang lebih banyak dibandingkan kalau kita masukkan ke yang NAV nya sudah lebih tinggi.

mahal murahnya NAV gak berpengaruh kepada return. yang berpengaruh itu jumlah aset kelolaan, semakin besar aset kelolaan, harusnya performancenya akan semakin mendekati benchmark. semakin kecil aset kelolaan, kemungkinan menjauh dari benchmark lebih besar daripada jumlah aset kelolaan yang besar. kalau aset kelolaannya kecil dan MI-nya pintar, kemungkinan overperform akan cukup besar. harga NAV gak berpengaruh, tapi reksadana yang harga NAV-nya masih murah biasanya reksadana baru, dan dengan demikian jumlah aset kelolaanya kecil.

4. Tapi kalau kita masukkan ke yang baru terbit, bagaimana kita memperkirakan performance nya bakal baik sehingga nasibnya tidak seperti performance Reksadana mandiri investa dana obligasi seri II yang performance nya hanya 10.72% since inc (dilihat dari grafik M-o-M return nya dia mulai Desember 2004)

sayangnya gak bisa diperkirakan :)

5. Contoh lain mandiri investa optima, reksadana tetap, NAV 826, performance 29 hari -1.79%, 3 bulan 1.65%, 6 bulan -3.25%, 1 tahun -3.02%, YTD -1.21%, since inc -13.79%. Mulai nya Oktober 2004. Kalau misalnya terlanjur uang kita ada dalam danareksa dengan performance seperti ini , apakah kita terus wait and see atau langsung ditarik mas pri?

lebih untung pasif saja, apalagi pendapatan tetap. untuk keluar dan masuk lagi pasti ada overheadnya. dan belum tentu reksadana tujuan bakalan tetap bagus. tapi kalau kuatir dengan performa reksadana yang dipegang, setoran selanjutnya disetorkan saja ke reksadana yang menurut anda lebih bagus. gak ada ruginya beli reksadana banyak2 karena gak ada overheadnya.

6. Bagaimana menurut mas pri ttg reksadana terproteksi?

belum pernah coba.

7. Apakah don’t put your eggs in one basket termasuk mendiversifikasikan manajer investasi?

menurut saya sih iya. terutama di reksadana saham karena pilihan reksadana indeks masih sangat sedikit.

8. Kalau membaca sebuah prospektus reksa dana, pusing juga ya mas. Sebenarnya apa yang harus dicermati, they are all look the same to me.

betul. yang paling penting sebenarnya cuma harganya. kalau invest long term, yang paling penting mungkin biaya pengelolaan investasi.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 28 March 2008 at 00:44
*
316

#313:

pertanyaannya: bila demikian berarti dana kelolaan khusus dari asuransi ini (discretionary fund) ini akan memberikan return lebih besar dibanding dengan RD kita. Mengapa yach bisa begini?

menurut saya kebetulan saja. mungkin jumlah dana kelolaan di dicretionary fund jauh lebih sedikit daripada di reksadananya. oleh karena itu probabilitas overperform juga lebih besar. sebagai informasi, benchmark IHSG untuk tahun yang sama adalah 52.08% (kalau gak salah), jadi semuanya cukup bagus, masih di atas benchmarknya.

mencari reksadana yang performanya bagus itu gak gampang, dan bisa dibilang gak mungkin. performa masa depan gak bisa ditentukan dari performa historisnya. saya lebih ke penganut reksadana indeks, lebih baik ikuti indeksnya daripada mencoba untuk overperform indeks.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 28 March 2008 at 00:54
*
317

#314:

kayaknya ada sentimen pribadi segitu kerasnya nyuruh orang untuk tidak ikut UL..

walah, kapan saya nyuruh orang tidak ikut UL? kalau anda ikut UL silakan saja, itu uang anda, bukan uang saya. saya cuma bilang UL itu bukan alat investasi maupun asuransi yang maksimal. tapi kalau ada nasabah yang mengerti UL dan tetap membelinya, ya itu hak beliau, saya gak bisa ikut campur. masalahnya, orang beli UL karena tidak mengerti dan karena UL dijual dengan mengeksploitasi emosi calon nasabah. jarang nasabah yang beli UL karena memang dia pikir itu produk yang bagus.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 28 March 2008 at 01:00
*
318

Terima kasih mas pri atas balasannya,
Sorry kalau mengulang, overhead apa ya?
Trus ttg spreadsheet yang saya donlot di thread yang lain, itu bukannya sudah di hack or something, karena grafik yang dimunculkan kok term life + reksadana malah menukik ke bawah sementara unit link terus ke atas tidak seperti gambar pada keterangan tulisan mas pri.
Kalau ada file asli mas pri, saya mau donk.
Thx a lot
Gravatar
o Comment by Rina
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla SeaMonkey Mozilla SeaMonkey 1.1.8 on Windows Windows XP
o 28 March 2008 at 05:20
*
319

#318:

Sorry kalau mengulang, overhead apa ya?

jadi biaya2 reksadana itu semuanya dalam persen, gak fixed. top up reksadana yang sudah ada atau beli reksadana baru yang lain praktis sama saja biayanya. artinya untuk punya banyak reksadana yang nilainya kecil2 kita gak keluar biaya lebih banyak daripada punya satu reksadana yang nilainya besar.

Trus ttg spreadsheet yang saya donlot di thread yang lain, itu bukannya sudah di hack or something, karena grafik yang dimunculkan kok term life + reksadana malah menukik ke bawah sementara unit link terus ke atas tidak seperti gambar pada keterangan tulisan mas pri. Kalau ada file asli mas pri, saya mau donk.

sorry, ini spreadsheet yang URL-nya di mana yah?
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 28 March 2008 at 12:00
*
320

Terima kasih Mas Pri, ulasan Anda membuka mata saya.
Saya sependapat dengan Anda.

Permasalahannya, saya sudah terlanjur ikut asuransi UL PR** produk SY**, 10 thn. Sudah jalan 6 bln an dengan setoran 1jt/bln.

Kalau mas Pri di posisi saya, apa yg akan Anda lakukan?
Btw, saya jg ikutan reksadana. Tdk ada biaya top-up 0%, yg ada malah CASHBACK 1% kalo setor di atas sejumlah nominal tertentu. Dan krn udah 6 bln, narik dana nya pun free of charge.

Terima kasih banyak sebelumnya.

Koes
Gravatar
o Comment by Koes
o Posted from Surabaya Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 30 March 2008 at 23:18
*
321

#320:

Permasalahannya, saya sudah terlanjur ikut asuransi UL PR** produk SY**, 10 thn. Sudah jalan 6 bln an dengan setoran 1jt/bln.

Kalau mas Pri di posisi saya, apa yg akan Anda lakukan?

kalau saya, saya coba ikutan term life, kalau diterima saya tutup PR* SY*****-nya. mumpung baru 6 bulan, kerugian belum terlalu besar.

Btw, saya jg ikutan reksadana. Tdk ada biaya top-up 0%, yg ada malah CASHBACK 1% kalo setor di atas sejumlah nominal tertentu. Dan krn udah 6 bln, narik dana nya pun free of charge.

hehe, ini nama reksadananya apa ya? :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 3 April 2008 at 12:25
*
322

Hi Pak Pri,

Terima kasih untuk informasi yang mencerahkan banget!
Benar2 luar biasa. Pertama kali di-posting tahun lalu, sampai sekarang comment masih mengalir. Termasuk dari saya.
:d
Saya belum browse2 lagi posting2 tentang topik2 lain. Nanti saya coba.
Sementara itu, mengenai topik unit link vs. reksadana, saya memang sangattttt awam.
:(
Dan seperti Bapak tahu, agen2 asuransi beberapa tahun belakangan gencar banget! Nah, saya kurang dari sebulan ini jadi “terpaksa” ikut, Sequislife.
Pertanyaan saya, (saya bersyukur banget kalo bisa dijawab) bijaksana tidak, Pak, untuk menganggap gabung unit link = MENABUNG?
Perlu diketahui, saya baru kerja, umur 22 tahun. Duit gaji selalu habis. Saya orangnya gak bisa nabung, Pak. Jadi saya pikir, ya udah mending masukin ke asuransi, jadi kan seperti terpaksa harus bayar, mau gak mau. Jadi kaya nabung toh, Pak? Karena kalau nabung di bank, bunganya kecil. Dan saya pasti ambil2 terus. Unit link kan selama jangka waktu tertentu gak bisa diambil. Nah, tahu2 nanti sudah berapa ratus juta, WOW!
:)
Nah, saya benar2 butuh pendapat Bapak. Pemikiran semacam ini “bodoh” banget gak sih, Pak Pri? Kalau iya, apa saya tarik aja? Saya ikut yang 6 juta/tahun. Bayar per 3 bulan. Jadi, saya baru setor 1x @ 1,500,000.
Terima kasih banyak sebelumnya!
;)
Gravatar
o Comment by Ocha
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP
o 10 April 2008 at 13:35
*
323

#322:

Dan seperti Bapak tahu, agen2 asuransi beberapa tahun belakangan gencar banget! Nah, saya kurang dari sebulan ini jadi “terpaksa” ikut, Sequislife. Pertanyaan saya, (saya bersyukur banget kalo bisa dijawab) bijaksana tidak, Pak, untuk menganggap gabung unit link = MENABUNG? Perlu diketahui, saya baru kerja, umur 22 tahun. Duit gaji selalu habis. Saya orangnya gak bisa nabung, Pak. Jadi saya pikir, ya udah mending masukin ke asuransi, jadi kan seperti terpaksa harus bayar, mau gak mau. Jadi kaya nabung toh, Pak? Karena kalau nabung di bank, bunganya kecil. Dan saya pasti ambil2 terus. Unit link kan selama jangka waktu tertentu gak bisa diambil. Nah, tahu2 nanti sudah berapa ratus juta, WOW!

menurut saya tidak. definisi menabung itu uang yang kita setorkan tidak mungkin berkurang jumlahnya, sama sekali tidak ada resikonya, paling tidak untuk jumlah nominal yang kita miliki. sedangkan unit link itu (salah satunya) lebih tepat disebut sebagai berinvestasi. nilai ‘tabungan’ kita bisa naik atau turun tergantung kondisi perekonomian.

kalau masalah disiplin menabung, lebih baik ambil reksadana yang bisa autodebet rekening tabungan atau kartu kredit. yang punya layanan ini di antaranya adalah bank commonwealth, bank mandiri dan danareksa.

untuk sequislife saya kurang tahu karakteristiknya. jadi saya tidak tahu apa langkah yang paling menguntungkan di posisi anda. lebih baik anda hitung2 berapa total yang sudah anda setorkan dan berapa nilai tunai saat ini, dan tanyakan ke agen proyeksinya setelah tahun ketiga. kalau setelah tahun ketiga masih lebih kecil nilai tunai dibandingkan total setoran, saya rasa lebih baik dibatalkan dari sekarang.

perkiraan saya sih lebih baik dibatalkan, apalagi anda baru bayar sekali. dari beberapa ilustrasi UL sequis yang saya miliki, setelah 7 tahun belum balik modal (asumsi 17%). ini terlalu lama, kalau dipisahkan seharusnya dalam 3 tahun setoran investasi+asuransi sudah akan balik modal.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 10 April 2008 at 15:18
*
324

http://unitlink.biz/?p=6
Gravatar
o Comment by Adhy Sunardi Ogik4
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP
o 11 April 2008 at 11:21
*
325

#324: thanks atas linknya. memang ada2 saja trik dagang unit link ini :). kesimpulan dari tulisan tersebut sebenarnya cuma satu: term life allianz itu MAHAL SEKALI.

kalau memang benar term life 20 tahunan untuk pria 30 tahun tidak merokok di allianz itu harganya sampai 3,3 juta/tahun untuk UP 500 juta, lebih baik cari di tempat lain saja. di perusahaan M misalnya, untuk pertanggungan yang sama persis harganya cuma Rp 1,66 juta/tahun, atau cuma 1/2 harga yang ditawarkan allianz.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 11 April 2008 at 12:40
*
326

Pak Pri,
Saya pernah dpt ilustrasi TL dari allianz. Waktu itu minta ilsutarsikan TL dg UP 1M, utk Pria, 29th, tidak merokok.
And, ilustrasi yg keluar adalah 9jt/th.
Wah saya kaget bgt tuh (padahal dg data yg sama, takaful memberikan premi hanya 3jt/th), trus minta printoutnya…stlh saya pelajari, ternyata disana ada manfaat nilai tunainya. Kupikir itu bukan TL deh…aku sempet mau minta yg gak ada nilai tunainya, tp kantornya keburu mo tutup.

UL saya di ***L (ini tahun ke-2) udah gak kebayar (males) 3 bulan (secara gw lagi berburu TL and udah beli RDS&RDPT and udh rencana mau gw tutup). Dan agen gw gak mengingatkan kl saya harus sgr membayar preminya, soalnya dah pasti mau lapse. Pak Pri kan menyarankan sblm dpt TL jgn tutup dulu ULnya (scr UL saya sudah gak saya bayar 3 bln). Dr report investasi UL saya, saya ada sebesar 4,3jt. Tanya, Apa nanti kl mau tutup UL, yang 3 bulan itu harus dibayar dulu?
Gravatar
o Comment by mo_cab
o Posted from Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP
o 16 April 2008 at 13:54
*
327

#326:

Apa nanti kl mau tutup UL, yang 3 bulan itu harus dibayar dulu?

saya gak tahu persis, tapi rasanya gak perlu ya. toh mereka bisa langsung autodebet dari investasi anda :)
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 16 April 2008 at 23:51
*
328

Lumayan, dapat ilmu tentang asuransi dan reksadana. Trim to mas Pri.
Gravatar
o Comment by daeng
o Posted from Riau Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP
o 24 April 2008 at 20:26
*
329

menurut saya unit link bagus,karena selain invest kita juga bs dpt perlindungan asuransi,so kl kita kenapa napa kita ga ninggalin beban apalagi HUTANG sama keluarga kita yang masih hidup. gitu lo !!!
Gravatar
o Comment by buzz
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP
o 19 May 2008 at 16:25
*
330

memang ada banyak pilihan untuk investasi. tapi kalau mau unit link yang tidak kena biaya akuisisi alias bayar premi asuransi di AIG LIFE ada yang namanya AKtiva Prima. uangnya langsung 100 % diinvestasikan,saya udah coba.harga NABnya naek terus
Gravatar
o Comment by steven
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP
o 19 May 2008 at 16:32
*
331

Mas Pri,

Terimakasih atas adanya forum ini.
Saya baru seminggu yg lalu ditawarin
bank saya utk ikut UL, sudah meng “iya” kan
utk ikut UL, tapi blm tandatangani polisnya.

Krn saya mau hati2, saya kubek2 internet
sampai akhirnya saya menemukan situs Mas.

saya hidup sendiri, tidak ada tanggungan
berumur 45 tahun, dan ada deposito 30 juta,
3 tahun yl, dan skrg sudah jadi skitar 37 juta.
(bunganya masuk lagi sbg modal deposito)

CS di bank saya bilang, uang di deposito saya
akan lebih menghasilkan apabila di tarik dan
dijadikan sbg top-up utk UL, krn uang diem.

stlh membaca lebih dari 4 jam forum disini,
saya menarik kesimpulan apabila saya
alokasikan saja deposito saya tsb ke RD,
dan sebagian uang saya belikan asuransi kesehatan,
bukan asuransi jiwa, krn saya tdk ada tanggungan,
tentu akan lebih baik nilainya drpd di UL.

Nah masalahnya saya ini buttttaaaaa bgt
ttg urusan bisnis, keuangan dan perekonomian.

jadi saya mohon kiranya mas bisa beri saya
sekedar pencerahan, singkat saja tidak apa :

apakah “bunuh-diri” buat org awam-BANGET spt saya
brani-brani taroh duit di RD ?
maksud saya, kalo saya tidak “mainin”
beli lg rendah - jual lagi tinggi,
maka smua uang saya bisa musnah dlm wkt tertentu ?

atau…., apakah naroh uang di RD,
sama aja sifatnya seperti di deposito ?
==taroh aja, gak usah di kutaktik, tetep dpt bunga==

segala macam balesan, baik dari mas Pri
maupun dari pembaca forum akan sangat saya hargai.

terimakasih sebelum dan sesudahnya.

salam,
reko

NB : maaf saya lupa,
saya tinggal di Denpasar, apakah RD itu
hanya ada di jakarta saja ?
Gravatar
o Comment by reko
o Posted from Denpasar Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP
o 22 May 2008 at 20:44
*
332

#331:

stlh membaca lebih dari 4 jam forum disini, saya menarik kesimpulan apabila saya alokasikan saja deposito saya tsb ke RD, dan sebagian uang saya belikan asuransi kesehatan, bukan asuransi jiwa, krn saya tdk ada tanggungan, tentu akan lebih baik nilainya drpd di UL.

betul.

apakah “bunuh-diri” buat org awam-BANGET spt saya brani-brani taroh duit di RD ? maksud saya, kalo saya tidak “mainin” beli lg rendah - jual lagi tinggi, maka smua uang saya bisa musnah dlm wkt tertentu ?

justru terbalik mas. yang ‘mainin’ beli rendah jual tinggi itu rata2 keuntungannya lebih sedikit daripada yang pasif (invest terus menerus dan baru dicairkan sewaktu perlu). alasannya karena setiap keluar masuk ada overhead.

atau…., apakah naroh uang di RD, sama aja sifatnya seperti di deposito ? ==taroh aja, gak usah di kutaktik, tetep dpt bunga==

lebih baik begitu. bedanya dengan deposito bunga di deposito dijamin, sedangkan di RD tidak dijamin.

NB : maaf saya lupa, saya tinggal di Denpasar, apakah RD itu hanya ada di jakarta saja ?

di denpasar harusnya ada. coba tanya ke customer service bank mandiri terdekat. atau bisa coba juga ke bank commonwealth.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 22 May 2008 at 21:30
*
333

Mas Priyadi,

terimakasih banyak sekali atas balasannya.
Saya senang mendpt infonya dari Mas.

Baiklah, saya akan coba tanya2 ke Mandiri,
atau mudah2an di sini ada juga Commonwealth.

Sukses dan Jaya terus Mas.

salam,
reko
Gravatar
o Comment by reko
o Posted from Denpasar Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP
o 23 May 2008 at 11:27
*
334

sekarang banyak agent asuransi menawarkan produk unit link.
apa karakteristik dari masing2 produk unit link dari AIG Life, Prudential, Manulife, Allianz.
Kalo secra keseluruhan, produk mana yg lebih menguntungkan?
Gravatar
o Comment by Frans
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 24 May 2008 at 14:34
*
335

ngomong2, ada perbedaan gak sih ya ?
kalo orang ngambil UL di agen,
dibanding ambil UL liwat bank (bank assurance ?).

makasi.
Gravatar
o Comment by reko
o Posted from Denpasar Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP
o 25 May 2008 at 10:27
*
336

#334: lebih baik jangan beli UL. kalau memungkinkan beli term life + reksadana.

#335: sama saja, bedanya kalau lewat bank harusnya bisa lebih murah (karena mereka main dalam volume besar), tapi bukan jaminan juga.
Gravatar
o Comment by Priyadi
o Posted from Bogor Indonesia Indonesia
o Using Konqueror Konqueror 3.5 on Gentoo Linux Gentoo Linux
o 25 May 2008 at 10:52
*
337

Mas Pri,

Makasih atas semua saran,
info2nya yg sangat berguna buat saya,
dan tentunya buat pembaca lainnya.

salam,
reko
Gravatar
o Comment by reko
o Posted from Denpasar Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP
o 9 June 2008 at 16:18
*
338

Informasi yang cukup bagus, tapi mungkin perlu diperluas lagi penjelasan mengenai proses transaksi pada masing-masing topik. Setahu saya pada unit Link, sebelumnya kita punya pilihan untuk menentukan porsi apakah mau lebih besar di nilai investasi atau proteksinya. Artinya kalau mau investasinya lebih besar tinggal mengajukan proposal yang lebih besar disavernya, dengan tetap mendapat manfaat perlindungan jika sesuatu terjadi kepada kita, dengan mengorbankan beberapa rupiah. Ya memang sesuatu itu belum tentu terjadi, tapi dengan ada usaha sedia payung sebelum hujan, insya Allah, walaupun payungnya jelek, kepala kita masing terlindung langsung dari air hujan itu. ya tidak ????? Kayanya sih iya memang begitu?? Wallahu Alam, kita mah hanya ihktiar/usah Tuhan juga yang menentukan.
Gravatar
o Comment by Ade Abdul Hak
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 9 June 2008 at 18:21
*
339

Wah seru juga nich ya pembahasannya, jadi kepengen ngobrol2 sama mas Pri langsung. Boleh minta no. telpnya or alamat email? ngomong2 mas pri kerja dimana?
:-)
Gravatar
o Comment by Theddy
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 18 June 2008 at 18:12
*
340

Mas Pri,

Akhirnya….
saya balik lagi ke Comm bank
dan ambil itu RDI Syariah dari danareksa…:-)

Saya sadar atas resiko2nya,
tapi karena rencana saya untuk jangka panjang,
jadi saya berdoa, smoga RDI bisa berkembang dgn baik.

Oh ya, seperti juga yg bapak saranin,
saya pake 50% di RDI, dan 50% lagi
saya ambil yg RD campuran di PNM Syariah.

Makasih banyak atas adanya forum ini.
Walau saya masih gak ngerti ttg RD,
tapi stidaknya udah coba ambil
kesempatan invest uang… soalnya
saya paling gak bisa bisnis sih…he-he-he…:-)

Makasih skali lagi ya Pak.

salam,
reko
Gravatar
o Comment by reko
o Posted from Denpasar Indonesia Indonesia
o Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP
o 26 June 2008 at 20:19
*
341

Mas Pri,

Numpang nanya nih, baru2 ini ada yang meng-rekomendasikan saya produk SequisLife paket barunya bernama LIFEJACKET, trus saya coba2 browsing untuk cari tahu apa sih produk ini, saya nemu satu web

http://www.danapensiun.biz/plan.php

Saya blm berani join, abis sejak baca forum mas pri, jadi skeptikal sekali terhadap unitlink, dan menurut saya ini mirip2 unit link cuman ada unsur MLM nya. Menurut mas pri gimana???

Makasihhhh…
Gravatar
o Comment by Stephanie
o Posted from Mega Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 30 June 2008 at 14:22
*342

Pak Priyadi, terima kasih atas penjelasan Bapak yang netral dan tidak cenderung memihak asuransi manapun.

Kalau boleh tanya, asuransi macam apa yang bapak sarankan untuk pria usia 26 tahun dan akan segera menikah (asuransi kesehatan sudah dari kantor)??

Tolong dikomentari penilaian saya berikut: Setelah saya bertanya2 kanan kiri, yang perlu diambil adalah produk insurance yang biaya akuisisinya seminimal mungkin tetapi tetap ada perlindungan jiwanya. Karena kalau ambil reksadana saja, tidak ada asuransinya … riskan juga. Sementara kalau ambil asuransi yang biaya akuisisinya besar, tentu hasil investasi tidah optimal. Satu lagi, boleh rekomen ke saya asuransi apa saja yang biaya akuisisinya minimal?? Kalau biaya asuransi, yah dimana2 sami mawon deh yah. Makanya saya mau pertimbangkan dari biaya akuisisinya itu. Thanks banget Pak. ….. buat insurance calon suami :)
Gravatar
o Comment by Laily
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Safari Safari 525.20.1 on Mac OS Mac OS X
o 7 August 2008 at 15:47
*
343

Unit link berguna untuk menarik orang yang belum mempunyai kesadaran berasuransi jiwa murni (Term/whole life). Dengan unit link…seolah-olah setoran preminya tidak hilang dan ada pengembalian. Sedangkan pada asuransi jiwa murni, bila tidak ada klaim…setoran premi tersebut hilang. Sesudah kesadaran asuransi tersebut timbul…barulah apa yang diterangkan oleh Mas Pri dan Liqwina sebaiknya diikuti. Saya adalah peserta dua asuransi unit link (”Manu” dan “Pru” selama 5 dan 3 tahun). Setelah mendapat pencerahan dari kedua pakar tersebut, kedua unit link tersebut segera saya tutup dan beralih ke asuransi jiwa murni (cukup pada satu perusahaan dengan premi sekecilnya tetapi nilai pertanggungan sesuai kebutuhan saya). Dana lebihnya saya investasi melalui reksadana dan bentuk investasi natura. Ini jauh lebih menguntungkan.
Gravatar
o Comment by bambang dwipayana
o Posted from Jakarta Indonesia Indonesia
o Using Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP
o 25 August 2008 at 09:28
*
344

Buat Mas Pri, saya mau nanya:
Di tulisan di atas, Anda membahas bahwa unit-link tidak memperhitungkan masalah inflasi, dimana biaya kesehatan akan meningkat dalam 5-10 tahun mendatang, sehingga pertanggungan kesehatan nasabah pada 5-10 tahun mendatang tidak lagi mencukupi seperti halnya standar saat ini.

Apakah dengan memisahkan asuransi kesehatan dengan reksadana, masalah inflasi di atas bisa dipecahkan?

Dan yang kedua, adakah agen asuransi yang tulus dan benar-benar mementingkan nasabahnya? Kalo ada, bagaimana bentuk kontribusinya terhadapa kepentingan nasabahnya.

Terima kasih sebelumnya.

Sumber: http://priyadi.net/archives/2007/06/10/asuransi-unit-link-vs-reksadana/

1 komentar:

  1. untuk yang diatas, pada faktanya membahas kekurangan dan kelebihan baik dari sisi asuransi dan investasi sangat sulit, karena masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan dari sudut pandang tertentu. Untuk agen asuransi yang mementingkan nasabahnya sebaiknya kita memilih agen yang memang sudah terlihat konsisten dan fokus pada bidangnya. bukan yang memiliki pekerjaan sampingan dan sebagainya. hal tersebut bisa dilihat dari berapa sering mereka menghubungi kita walau hanya untuk menanyakan kabar, atau silahturahmi walaupun kita sudah menjadi nasabahnya. kalau belum jadi nasabah wajar saja mereka terus menghubungi kita karena ada sesuatu yang dikejar. Bisa juga dari referensi teman2 yang sudah memiliki agent yang memang sudah terbukti kredibilitas dan tanggung jawabnya. Bukan saya membela asuransi maupun investasi. Tapi dua2nya sangat penting baik dari segi ekonomi keluarga maupun proteksi. Saya adalah pengusaha kecil yang cukup mapan. akan tetapi resiko bisnis dimanapun tetap ada, baik itu penipuan, dll. dan saya pernah sempat terbantu oleh asuransi karena pada tahun krismon 2008 usaha saya morat marit nyaris gulung tikar dan anak terkena penyakit yang mengakibatkan harus dirawat. pada saat ekonomi saya sedang sulit2nya asuransi sangat membantu dalam pembiayaan berobat anak saya. oleh karena itu bukan masalah perusahaan asuransi yang mana yang bagus, lebih baik lebih fokus mencari agen yang bagus dibanding perusahaan yang bagus. karena semua masalah penipuan lebih besar kemungkinannya disebabkan oleh oknum yang mengatasnamakan perusahaan, bukan dari perusahaannya.

    BalasHapus